selalu.id - Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdusallam menyebut dirinya sangat menyayangkan kegagalan partai politik di Surabaya mengkader tokoh untuk menjadi pimpinan. Hal ini buntut fenomena Bumbung kosong Pilwali Surabaya.
"Partai-partai ini tidak mampu menghasilkan alternatif-alternatif pimpinan yang setara sebanding dengan petahana," kata Surokim, saat dihubungi selalu.id, Rabu (28/8/2024).
Baca juga: Diperiksa Bapenda Surabaya soal Kepatuhan Pajak PBJT, Manajemen RM Ayam Goreng Ny Suharti Bungkam
Ia membeberkan sejumlah faktor yang memunculkan fenomena bumbung kosong, meski, keputusan MK telah membolehkan mencalonkan paslon dari 20 persen suara parlemen. Namun, partai politik di Surabaya sudah telanjur menentukan dukungannya.
"Itu membuat kenapa kecenderungan banyak muncul Paslon tunggal. Kemudian, munculnya Paslon yang terlalu kuat itu juga memicu yang lain lainnya realistis dan tidak berani untuk melawan," terangnya.
Munculnya kotak kosong ini, kata Surokim, juga menjadi kegagalan dari partai-partai untuk menyediakan stok pemimpin-pemimpin daerah yang berkualitas. Mereka, tidak menyiapkan sejak awal tokoh yang akan melawan petahana.
Baca juga: 75 Anak Surabaya Resmi Kantongi Penetapan Perwalian, Hak Pendidikan hingga Kesehatan Terjamin
"Sehingga seolah tidak ada Paslon yang sebanding dengan petahana," pungkasnya.
Tak hanya itu, dia menilai calon petahana terlalu kuat dengan tingkat kepuasan masyarakat yang terlalu tinggi, sehingga membuat partai-partai kebingungan mencari tandingan.
"Dan kegagalan partai partai politik untuk mempersiapkan kader-kader sebagai kandidat pemimpin daerah,"terangnya.
Baca juga: DPRD Surabaya Desak Dishub Garap Iklan di 69 Halte untuk Dongkrak PAD
Surokhim menambahkan bahwa jika ada skenario pembuatan bumbung kosong akan sia-sia alias sulit mengalahkan petahana.
"Makanya saya bilang, sudah tidak usah Pemilu lah. Ya sudah langsung dilantik saja itu. Lucu juga ya Surabaya ada kotak kosong. Itu menurut saya ajaib, tapi ini realitas politik," pungkasnya.
Editor : Arif Ardianto