Fenomena Bumbung Kosong, Pengamat Sebut Surabaya Darurat Kader Pemimpin

Reporter : Ade Resty
Surokhim Abdussalam

selalu.id - Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdusallam menyebut dirinya sangat menyayangkan kegagalan partai politik di Surabaya mengkader tokoh untuk menjadi pimpinan. Hal ini buntut fenomena Bumbung kosong Pilwali Surabaya.

"Partai-partai ini tidak mampu menghasilkan alternatif-alternatif pimpinan yang setara sebanding dengan petahana," kata Surokim, saat dihubungi selalu.id, Rabu (28/8/2024).

Baca juga: Tiga Anggota DPRD Kader Gerindra di Jatim Terjaring Razia Narkoba di Hotel Surabaya

Ia membeberkan sejumlah faktor yang memunculkan fenomena bumbung kosong, meski, keputusan MK telah membolehkan mencalonkan paslon dari 20 persen suara parlemen. Namun, partai politik di Surabaya sudah telanjur menentukan dukungannya.

"Itu membuat kenapa kecenderungan banyak muncul Paslon tunggal. Kemudian, munculnya Paslon yang terlalu kuat itu juga memicu yang lain lainnya realistis dan tidak berani untuk melawan," terangnya.

Munculnya kotak kosong ini, kata Surokim, juga menjadi kegagalan dari partai-partai untuk menyediakan stok pemimpin-pemimpin daerah yang berkualitas. Mereka, tidak menyiapkan sejak awal tokoh yang akan melawan petahana.

Baca juga: GSJT Protes Barcode Solar Bersubsidi, Ratusan Truk Towing Padati Surabaya

"Sehingga seolah tidak ada Paslon yang sebanding dengan petahana," pungkasnya.

Tak hanya itu, dia menilai calon petahana terlalu kuat dengan tingkat kepuasan masyarakat yang terlalu tinggi, sehingga membuat partai-partai kebingungan mencari tandingan.

"Dan kegagalan partai partai politik untuk mempersiapkan kader-kader sebagai kandidat pemimpin daerah,"terangnya.

Baca juga: Tongkat Komando Polres Pasuruan Beralih ke AKBP Irawan Setyono, Ini Pesan Kapolda Jatim

Surokhim menambahkan bahwa jika ada skenario pembuatan bumbung kosong akan sia-sia alias sulit mengalahkan petahana.

"Makanya saya bilang, sudah tidak usah Pemilu lah. Ya sudah langsung dilantik saja itu. Lucu juga ya Surabaya ada kotak kosong. Itu menurut saya ajaib, tapi ini realitas politik," pungkasnya.

Editor : Arif Ardianto

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru