selalu.id - Sikap politik kader Partai Golkar Bayu Airlangga kini sedang menjadi buah bibir di kalangan akar rumput. Menantu Mantan Gubernur Jatim Pakde Karwo tersebut dinilai lebih fokus membangun komunikasi eksternal daripada internal.
Gaya komunikasi Bayu yang terkesan eksklusif tersebut mendapat sorotan dan diperbandingkan dengan gaya komunikasi mertuanya yang dianggap bisa merangkul semua kalangan.
Baca juga: PDIP Tetapkan Tiga Arah Politik di 2026, Ini Penjabarannya
Terbaru, sikap Bayu saat Idul Adha yang menitipkan kurban sapi ke partai lain dan tidak ke partainya menjadi puncak tudingan bahwa menantu Pakde Karwo tersebut tidak memperhatikan internal partai tempatnya bernaung, tetapi lebih mendahulukan komunikasi eksternal.
Gaya komunikasi yang dilakukan Bayu tersebut disebutkan berdampak pada militansi massa untuknya. Bayu sempat gagal menjadi Legislatif DPR RI dan hanya berhasil naik DPRD Jatim pada 2019 dengan suara yang tidak signifikan saat masih di Partai Demokrat.
Baca juga: Pemkot Surabaya Anggarkan Rp 5 Juta per RW, Arif Fathoni: Investasi SDM untuk Tangkal Hoaks
Pengamat Politik asal Universitas Trunojoyo, Surokim Abdussalam menyebut ini merupakan style atau gaya komunikasi politik yang berbeda. Tentunya ini pembeda antara Bayu dengan Karwo. Surokim juga menilai, dengan Bayu melakukan hal itu di Partai Nasdem dan Gerindra dalam rangka untuk menguatkan ekspansi eksternal dengan membangun mitra ke partai lainnya, semacam memperkuat dukungan.
"Jangan-jangan itu bagian dari strategi dari Bayu Airlangga dalam membangun komunikasi politik guna menguatkan ekspansi eksternal dengan partai lainnya," terang Surokim kepada selalu.id, Senin (24/6/2024).
Baca juga: Lindungi Predikat Kota Layak Anak, DPRD Surabaya Desak Izin Black Owl Dicabut
Saat disinggung dampak dari tindakan Bayu tersebut, Surokim sendiri juga berpendapat bahwa Bayu harus lebih peka dan perlu belajar dari senior-senior politiknya. Karena dengan tindakannya ini, akan memunculkan banyak presepsi negatif.
"Saya kira mas Bayu juga perlu belajar dan harus peka, tidak ada kata terlambat bagi politisi muda. Takutnya akan timbul indikasi prasangka yang tidak baik bagi partai induk. Meski yang dilakukan mas Bayu untuk memperkuat hubungan antar Parpol," tandasnya.
Editor : Arif Ardianto