selalu.id - Seminggu sudah One Piece versi Live Action yang ditayangkan oleh Netflix rilis perdana secara serentak di berbagai negara. Euforianya seakan tidak pernah surut, para Nakama (penggemar One Piece) di seluruh dunia pun puas dan memberikan banyak testimoni positif, bahkan One Piece Live Action disebut-sebut sebagai Pematah Kutukan Live Action. Pasalnya selama ini, hampir semua live action dirasa gagal dan tidak sesuai dengan ekspektasi atas pencapaian versi originalnya.
One Piece Live Action pun dikabarkan telah menjadi live action fiksi paling best selling sepanjang sejarah bahkan melebihi live actionnya Harry Potter. Testimoni dan ulasan positif pun banyak diberikan, jadi kali ini Kawan Selalu, review ini mungkin hanya sedikit coretan kecil dari banyaknya puja-puji atas keberhasilan One Piece Live Action, maka review ini hanya sebuah ulasan tentang bagaimana melihat live action secara lebih humanis.
Baca juga: 8 Atribut One Piece Muncul di Surabaya, Bakesbangpol Lakukan Pendekatan
Keberhasilan One Piece Live Action Netflix ini tidak bisa dilepaskan bagaimana stright dan tightnya Echiro Oda sang Mangaka mengambil peran sebagai supervisi utama. Ketajaman Oda dalam membawa sisi-sisi humanis dari fiksi manga dan anime itu lebih dekat dengan realitas. Oda tidak terjebak dalam bentuk penyajian yang mirip dengan manga atau anime secara pengalaman menikmati fiksi, sekalipun terdapat banyak sekali apresiasi atas kemiripan manga atau anime dengan sajian live actionnya, tetapi ada satu ketangguhan statemen besar yang disajikan Oda bahwa beginilah bagaimana Luffy dan kawan-kawan jika mereka hidup di dunia nyata.
Oda bahkan memberikan banyak pergeseran masuk akal, rasional dan logis di versi live actionnya yang bahkan jika di versi manga dan anime itu adalah treadmark dan quirk karakter yang sangat otentik dan khas, seperti misal; cara makan Luffy yang tidak serakus biasanya, pula dengan candunya Zoro pada sake atau alkohol, Sanji yang tidak merokok sama sekali, dan cara Sanji melihat perempuan bahkan adengan ciuman Usop dan Kaya yang tidak ada di manga maupun anime.
Dari semua perubahan itu, tak banyak yang kemudian mempermasalahkannya, padahal Nakama adalah salah satu ras paling fanatik di dunia. Namun hanya satu yang terspotlight yakni adegan ciuman Usop dan Kaya. (well, itu memang mengejutkan, karena kita tahu bahwa tidak ada romance di One Piece selama ini).
Lalu mengapa Oda meloloskan adegan ciuman itu dan justru melimitasi quirk paling otentik dari tokoh-tokohnya? Tentu jawabannya adalah soal bagaimana 'adaptasi' itu bekerja.
Baik versi anime maupun versi live action, semuanya itu adalah adaptasi dari versi aslinya yakni manga.
Baca juga: Soroti Tren Bendera One Piece, Politisi Gerindra: Ganggu Kondusifitas
Manga menuju Anime, ada sentuhan yang otentik, baik efek animasi, kualitas gambar dan bahkan sentuhan kelokan cerita. Begitu pula dari manga, anime menuju live action, adaptasi pun terjadi. Proses adaptasi itu adalah tentang bagaimana suatu subjek merespon dimensi atau lingkungan sekitarnya. Karena kali ini tokoh manga itu benar-benar dihidupkan sebagai manusia maka dimensi yang harus direspon adalah kehidupan sehari-hari.
Kesadaran itulah yang dibawa Oda, bahwa secara pengalaman ke kartunan, manga dan anime tidak akan bisa tergantikan. Sehingga adalah sebuah delusi jika ingin menghadirkan pengalaman otentik kartunnya dengan tokoh manusia asli dan dimensi realitas sehari-harinya.
Luffy sebagai manusia seover power apapun, ia akan makan selayaknya manusia. Cara Sanji sebagai manusia dalam melihat wanita cantik seperti Nami pun tentu berbeda, Sanji tidak mimisan, begitu pula dengan bagaimana kesukaan Zoro dengan sake, dia juga tidak ditunjukkan mampu menghabiskan bertong-tong sake atau minuman beralkohol. Begitulah Oda meletakkan sisi-sisi humanis pada tokoh-tokoh fiksinya.
Baca juga: Setelah Cak YeBe, Giliran Cahyo Minta Sweeping Anak di Surabaya Tak Timbulkan Trauma
Meski tentu tidak bisa semua hal menjadi selogis manusia pada umumnya, Luffy tetap manusia karet, tetapi kesadaran Oda membawa kita, penontonnya mampu melihat bahwa beginilah Luffy dan Kru Bajak Laut Topi Jerami jika hidup di kehidupan nyata. Mereka tidak lantas meninggalkan identitas mereka sebagai manusia. Pula dengan mengapa Kaya mencium Usop, kita mampu merasionalkan chemistri yang terjadi diantara mereka sebagai manusia biasa, sehingga mampu menerima alasan kenapa hidung Usop tidak panjang (hehehe, becyannndaaa...) yakni kenapa adegan ciuman itu dengan sengaja dimasukkan oleh Oda.
Semua tentang adaptasi dan bagaimana kerja salin wahana itu dirumuskan serta disajikan. Satu kredit lagi bagi keberhasilan Live Action One Piece dan mengapa pada akhirnya menjadi pemecah kebuntuan atas begitu banyaknya live action yang gagal.
Editor : Ading