Selalu.id - Siapa yang tidak kenal Lato-lato? Sebuah permainan sederhana yakni menabrakkan dua bola kecil yang dikaitkan dengan satu tali untuk menciptakan bunyi 'clacker' atau bernada 'tek-tek-tek'.
Lato-lato yang viral tahun lalu itu digandrungi banyak kalangan, baik anak-anak hingga orang dewasa. Fenomena populer lato-lato pun menyisakan memori yang jika diingat kembali, bisa jadi cukup membuat kita tersenyum dan mempermanis hari.
Seperti salah satu postingan Facebook Grup dengan akun 'Namanya Juga Orang Dagang', yang menunjukkan sebuah foto kulkas kaca untuk berjualan minuman dingin. Di daun pintu kulkas yang terbuat dari kaca itu, terdapat satu lembar tulisan yang mengumumkan sebuah himbauan untuk tidak main Lato-lato di dekat kulkas. Pengumuman itu tertulis begini:
Dilarang main latto-latto di dekat kulkas, apalagi dengan gaya helikopter, karna nanti bisa Mak Pyar kaca kulkasnya.
-suwun pol-
scr Purnomo
Terkesan pengumuman biasa dari bahaya lato-lato yang sudah banyak diketahui, tapi menariknya, postingan itu diunggah dengan caption, 'tentang era yang sudah berlalu'.
Seperti mengajak kita untuk bernostalgia tentang lato-lato yang begitu masif dan intens hadir di kehidupan masyarakat Indonesia setahun lalu, hingga seakan perlu untuk dihimbau di sana-sini agar memperhatikan bagaimana aktivitas perlato-latoan itu diaplikasikan sehari-hari.
Dan hari ini, sesuai caption, semua itu adalah tentang era yang sudah berlalu. Maka, postingan itu pada akhirnya bahkan tidak banyak mendapat komentar tentang lato-lato itu sendiri, justru komentar banyak menyorot tentang bagaimana diksi atau gaya bahasa himbauan itu dituliskan.
Kata 'mak pyar' yang artinya pecah, memang merupakan diksi ungkapan yang spesifik dari dialek jawa itu ternyata mendapat banyak komentar, lantaran merujuk pada satu emosi perasaan tertentu, seperti patah hati atau broken heart.
"Mak pyar ya, ngakak saya, mak pyar simpel tapi kok ngakak", tulis warganet dengan membubuhkan banyak emoticon ketawa.
"Mak pyar sampe kepingkel (terbahak-bahak, red) saya," kata warganet.
"Mak pyar kayak kondisiku saat ini," tukas yang lain.
Ada pula warganet yang kemudian mengasosiasikannya dengan begitu kasiannya penjual minuman dingin itu karena harus was-was karena lato-lato.
"Kasian sekali, semoga diberikan ketabahan, kesabaran, kekuatan dan rizky yang melimpah," tambah warganet lainnya.
"Kaca kulkasnya mak pyar, jatung yang punya kulkasnya mak tratap," komentar yang lain.
Dari himbauan pemilik toko minuman dingin itu, menunjukkan bahwa saat itu diungkapkan dengan bahasa yang cukup lokal, ternyata permainan yang digandrungi banyak orang itu membawa satu situasi kewaspadaan tertentu yang cukup menegangkan.
Menarik bukan?
Namun, artikel ini bagi orang yang asing dengan bahasa Jawa bisa jadi tidak menarik dan kebingungan, seperti salah satu komentar warganet yang nyempil diantara komentar-komentar patah hati lainnya. (Adg)
"Mak pyar itu apa?"
Editor : Ading