selalu.id - Sopir angkutan kota (angkot) di Surabaya pasrah dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Mereka mengaku tak bisa menaikan harga lantaran sepi penumpang.
Pantauan selalu.id, suasana di Terminal Joyoboyo, Surabaya terlihat lengang. Sejumlah Sopir angkot terlihat sedang antre menunggu giliran jalan.
Baca juga: 626 Petugas Haji Surabaya Siap Layani 42 Ribu Jemaah di Jatim
Sementara itu, jalur transportasi bus Suroboyo nampak lebih banyak penumpang yang terlihat menunggu keberangkatan. Kondisi ini berbeda dengan antrean angkot yang hampir tidak ada penumpang. Beberapa angkot sengaja tak beroperasi lantaran sepi.
Yusuf (61), salah satu sopir angkot sedang rebahan bersama sopir angkot lainnya mengaku tidak menarik penumpang lantaran sangat sepi.
"Penumpang memang menurun, saya gak narik hari ini, gak ngantre penumpang, saya cari dijalan-jalan (penumpang) gak ada,"ujarnya.
Terkait dampak kenaikan harga BBM, Yusuf mengaku saat ini tarif angkot tidak ada perubahan, masih seharga Rp 5 ribu dari TIJ-Lakasantri, sedangkan ke Menganti hanya Rp 8 ribu.
Baca juga: Curi Uang di Pesawat, Dua WNA Asal China Diamankan di Bandara Juanda Surabaya
"Belum ada tarif naik. Joyoboyo belum ada kenaikan. Kita ini gak dinaikan yang gak nututi, dinaikan kadang ada takutnya (sepi)," ungkapnya.
Sejak kenaikan harga BBM, Yusuf mengaku, pengisian BBM untuk angkotnya bertambah. Ia harus mengeluarkan Rp 130 ribu per hari jika tiga kali pulang-pergi angkut penumpang. Sebelumnya, ia hanya mengisi 100 ribu per hari.
"Pendapatan berkurang, untuk menyetor mobil (angkotnya) Rp 30 ribu. Pendapatan relatif saya ada Rp 50 ribu kadang 30 ribu kadang gak dapat sama sekali,"ujarnya.
Yusuf mengungkapkan, meski ada bantuan BBM dari Pemerintah pun, menurutnya hal tersebut tidak terjamin untuk pendapatan mereka.
"Percuma kita mogok, tarif ndak naik aja susah cari penumpang, ditambah ini ada kenaikan BBM, makin susah cari duit," keluhnya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi