selalu.id - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Hewan ternak, membuat sejumlah pedagang yang membuka lapak hewan kurban di Surabaya, waspada kepada pembeli.
Pedagang mengaku takut kepada pembeli yang masuk ke kandang ternak membawa virus. Sebab, pembeli kadang mampir ke lapak-lapak hewan kurban lain. Sehingga, bisa menyebabkan penularan pada ternak lain.
Baca juga: TKBM yang Hilang saat Insiden Kapal Pasific 88 di Surabaya Ditemukan Meninggal
Seperti lapak hewan kurban milik Sutikno (40) asal Banyuwangi, di kawasan Jalan Nginden Intan. Ia mengaku waspada kepada pembeli bahwa penularan virus bisa saja menempel di baju.
Mengantisipasi hal ini, pedagang lebih waspada memasukkan pembeli ke kandang untuk melihat-lihat hewan yang dijual. Bahkan, anak-anak dilarang masuk ke kandang.
"Makanya ini ada pembeli saya selalu tanya, apakah dari lapak lain sebelum kesini. Kalau ada, saya suruh tunggu depan pagar, budget berapa baru kita pilih. Ini metodenya gitu,"kata Sutikno saat ditemui selalu.id, Sabtu (2/7/2022).
Sutikno pun mengaku bahwa hewan kurban miliknya telah sesuai perijinan dan persyaratan melalui RT, RW, dan Kecamatan serta dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya.
Baca juga: Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang
"Kesehatan aman. sudah ada Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). kemarin juga ada yang datang tim dari dinas untuk cek kesehatan,"ujarnya.
Bahkan, Sutikno juga mengaku, hewan kurban miliknya sebelum berangkat ke Surabaya dari Banyuwangi telah di vaksin.
"Saya punya tim hewan dari Unair. sebelum berangkat kesini sudah divaksin,"tuturnya.
Baca juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin
Hal yang sama juga pemilik lapak hewan kurban di Kawasan Kenjeran, H Amin (65), mengaku perizinan untuk membuka lapak hewan kurban di kawasannya, tidak begitu sulit.
"Izin ke camat. RT RW Kelurahan Kecamatan, sudah izin, Izin gak angel (susah). Ada tim kesehatan juga. Misal ada keluhan, hewan hanya tinggal ngomong ke dokter Kecamatan,"ujar Amin. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi