selalu.id - Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, menyampaikan bahwa pihaknya belum bisa memastikan buka atau tutup mal tunjungan Plaza 5 pascakebakaran.
Sutandi menegaskan bahwa pihaknya mengutamakan keselamatan pengunjung terlebih dahulu, dan kemudian soal teknis penyebab kebakaran serta kerugian.
Baca juga: Jelang HUT ke-18, Gerindra Surabaya Gelar Cek Kesehatan Gratis pada Lansia
"Ya saya belum bisa jawab, kita utamakan keselamatan kita bersyukur tidak ada korban jiwa nomor satu, kerugian itu nomor dua," kata Sutandi.
Selain itu, Sutandi menyampaikan akan menyelesaikan investigasi dulu, setelah dirasa aman, mal di sekitar lokasi kejadian akan dibuka kembali.
"Kalau semua keadaan sudah aman ya buka karena mall nya, juga tidak berpengaruh. Ini kebakaran nya ada di atas diduga konsleting dari salah satu chiler," jelasnya.
Lebih lanjut, Sutandi menjelaskan bahwa kebakaran tersebut tidak sampai ke TP 5. Ia menyebut terjadinya peristiwa itu hanya di lantai atas.
"Jadi tenant itu tidak ada yang terbakar sama sekali, yang terpengaruh itu yang atas, paling kalau ada kerusakan sebagian peralatan kita tidak tau efeknya dari hotel nya atau dari TP nya," tuturnya.
Baca juga: Pelindo Petikemas Luruskan Kabar Antrean Kapal di Pelabuhan Tanjung Perak
Sementara itu, kepolisian Surabaya akan melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab utama kebakaran.
Kapolrestabes Kota Surabaya Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan mengatakan, rencananya penyelidikan bakal dilakukan secara menyeluruh.
"Kami menyampaikan nantinya akan dilakukan penelitian dislabfor besok pagi pukul 08.00 WIB," kata Yusep.
Yusep memastikan, proses penyeledikan tak akan mengganggu jalannya kegiatan di mal.
Baca juga: TKBM yang Hilang saat Insiden Kapal Pasific 88 di Surabaya Ditemukan Meninggal
"Kami sesuaikan dengan kebutuhan manajemen mal yang jelas proses labfor tidak mengganggu aktivitas mal," ujarnya.
Sementara itu, Yusep juga menyebut bahwa kejadian kebakaran tersebut tak memunculkan korban jiwa.
"Alhamdulillah, sampai saat ini tidak ada korban," jelasnya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi