Saat Reog Bertemu Teknologi Digital, Balongbendo Sidoarjo Bergerak jadi Pusat Ekonomi Kreatif

Reporter : Ariyanto
Kolaborasi apik pertunjukan Reog Ponorogo berlatar teknologi Video Visual Mapping dalam acara Grand Closing Liga Jawara di Balongbendo. (Foto: Ariyanto/selalu.id).

selalu.id - Tak perlu menunggu pusat kota untuk melahirkan industri kreatif. Billy Arizona, putra Desa Bakung Pringgodani yang kini aktif mengembangkan industri kreatif melalui BAAM Entertainment, membuktikan bahwa pusat kreativitas tidak harus lahir dari kawasan perkotaan.

Dari sebuah studio di tengah kampung di Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo, Billy merangkai olahraga, budaya, teknologi digital, dan film dalam satu panggung kreativitas yang menyasar lebih jauh dari sekadar hiburan.

Baca juga: TPST Berbek Sidoarjo Genap 10 Tahun, Sampah Rumah Tangga Disulap jadi Sumber Cuan Warga

Gagasan itu terlihat dalam Grand Closing Liga Jawara di Studio BAAM Entertainment, Desa Bakung Pringgodani, Kecamatan Balongbendo, Sidoarjo.

Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dikemas jauh dari seremoni biasa. Lapangan, panggung budaya, layar visual, hingga karya film dipertemukan dalam satu rangkaian acara.

Bagi Billy, momentum kemerdekaan menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kreativitas anak daerah memiliki tempat dan peluang untuk berkembang. 

Ia ingin BAAM Entertainment bukan sekadar studio produksi, melainkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Sidoarjo.

“Saya ingin membangun ekosistem ekonomi kreatif dengan membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, pegiat kreatif, seni dan budaya, anak muda, serta pelaku usaha muda di Sidoarjo," jelas Billy.

Teknologi visual mapping menjadi salah satu sajian yang mencuri perhatian. Permainan visual tersebut tidak sekadar menjadi hiburan penutup, tetapi diperkenalkan sebagai bentuk seni digital yang masih relatif baru bagi sebagian masyarakat.

Dari layar digital, perhatian kemudian diarahkan kembali pada akar budaya. Kirab budaya dan pertunjukan Reog Ponorogo Suro Bekti Budoyo menjadi bagian penting dalam rangkaian acara.

Konsep itulah yang ingin dibangun Billy: teknologi tidak harus menggeser tradisi. Sebaliknya, keduanya bisa berjalan berdampingan dan menghasilkan bentuk pertunjukan baru yang lebih dekat dengan generasi muda.

Pilihan Balongbendo sebagai pusat aktivitas juga memiliki alasan personal. Billy merupakan putra asli Desa Bakung Pringgodani. Karena itu, ia ingin perkembangan industri kreatif tidak hanya dinikmati pelaku usaha di kawasan perkotaan.

“Saya putra asli daerah, anak Bakung Pringgodani, anak Balongbendo. Saya ingin membangun ekosistem dan mengader teman-teman di sekitar Balongbendo agar mengenal industri kreatif," ungkapnya.

Kaderisasi itu bahkan dimulai dari lingkungan sekitar. Sejumlah kru kreatif BAAM Entertainment dibina sejak awal untuk mengenal proses kerja industri kreatif. 

Harapannya, talenta lokal tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut masuk dan berkembang di dalam industrinya.

Rangkaian Grand Closing Liga Jawara pun dibuat berlapis. Acara diawali Gowes Onthel Merah Putih. Setelah itu, arena beralih menjadi tempat perebutan gelar dalam Liga Jawara, kompetisi street football dengan tiga nominasi juara.

Baca juga: Hiu Tutul Muncul di Tlocor, Sidoarjo Bersiap Sambut Ikon Wisata Bahari Baru

Semangat kompetisi kemudian bergeser ke pertunjukan budaya melalui kirab dan Reog Ponorogo Suro Bekti Budoyo. Malam harinya, teknologi visual mapping dan screening film Kemerdekaan menjadi sajian penutup.

Kapolsek Balongbendo Kompol Sunari menyebut rangkaian ini sebagai bentuk kolaborasi untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus menjaga kesenian tradisional.

“Reog Ponorogo dari Suro Bekti Budoyo merupakan pagelaran pelestarian budaya dan bagian dari kolaborasi kegiatan Gowes Onthel Merah Putih, Liga Jawara, dan karya film Kemerdekaan dari mas Billy BAAM Entertainment,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut tidak hanya melibatkan unsur pemerintah dan aparat kewilayahan. Tiga pilar Balongbendo yang terdiri dari Polsek, Koramil, dan Kecamatan turut bergandengan tangan dengan pihak swasta, yakni Anwar Medika Group dan BAAM Entertainment.

“Kami, tiga pilar bersama pihak-pihak swasta terkait, turut menyemarakkan hari kemerdekaan untuk warga Balongbendo. Semua warga yang hadir terlihat senang dan terhibur,” katanya.

Kolaborasi tiga pilar bersama pihak swasta itu memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi dan budaya dapat berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. 

Reog Ponorogo tetap menjadi akar pertunjukan, sementara teknologi visual, film, dan kreativitas digital menjadi medium baru untuk mengemasnya agar lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.

Baca juga: Keren, Warga Desa Tromposari Sidoarjo Sulap Lahan Kumuh jadi Wisata Wringin Asri

Camat Balongbendo, Ardi Anindita juga mengingatkan bahwa kelestarian budaya tidak akan bertahan tanpa keterlibatan masyarakat.

“Tanpa dukungan kita sendiri, budaya itu pasti akan hilang. Mari jaga warisan nenek moyang kita," jelasnya.

Di balik kemeriahan acara, ada potensi ekonomi yang lebih besar. Kreativitas kini tidak hanya berbicara soal seni, tetapi juga menyentuh produksi audiovisual, teknologi pertunjukan, olahraga, event organizer, hingga keterlibatan pelaku usaha muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sidoarjo 2025 mencatat sektor ekonomi kreatif berkontribusi sebesar 7,2 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.

Angka tersebut menjadi gambaran bahwa industri kreatif memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu tidak berhenti pada event sesaat, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mampu melahirkan pelaku usaha, pekerja kreatif, dan karya baru.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Kartini dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo, Camat Balongbendo Ardi Anindita, Kapolsek Balongbendo Kompol Sunari, Danramil Balongbendo Kapten Inf. Hendro Sugiono, dr. Farida Anwari dari Anwar Medika Group, Kepala Desa Bakung Pringgodani Sa’i, serta Billy Arizona.

Grand Closing Liga Jawara akhirnya bukan sekadar penutup sebuah kompetisi sepak bola. Dari tengah kampung di Balongbendo, sebuah pesan justru mengemuka: industri kreatif tak selalu lahir dari gedung megah atau pusat kota. Ia bisa tumbuh dari desa, dari talenta lokal, dan dari keberanian mengawinkan tradisi dengan teknologi.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru