selalu.id – Pemerintah Kota Surabaya mulai menyiapkan perubahan besar dalam pengelolaan limbah domestik.
Ke depan, layanan pengelolaan lumpur tinja dan sanitasi kota ditargetkan berada di bawah kendali Perumda Air Minum Surya Sembada (PDAM) sebagai bagian dari modernisasi sistem sanitasi perkotaan.
Baca juga: Tangani Banjir Margomulyo-Tandes, Pemkot Surabaya Siapkan Pembangunan Mini Bozem
Langkah ini disebut sekaligus menjadi upaya Surabaya mengejar ketertinggalan dibanding kota-kota besar lain yang lebih dulu menerapkan pengelolaan limbah terintegrasi melalui badan usaha milik daerah (BUMD).
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya Hidayat Syah mengatakan, pengelolaan limbah domestik oleh BUMD sebenarnya sudah lazim diterapkan di banyak daerah maupun luar negeri.
“Memang pengelolaan air limbah itu harus dikelola oleh BUMD. Yang paling tepat sementara ini ya PDAM,” kata Hidayat, Minggu (17/5/2026).
Melalui skema tersebut, layanan sedot lumpur tinja nantinya tidak lagi bersifat insidental atau berdasarkan permintaan warga, melainkan dilakukan secara berkala dan terjadwal.
“Secara periodik PDAM mengambil limbah tinja di situ yang mereka sedot untuk dikelola di IPAL,” ujarnya.
Pemkot juga membuka peluang pembiayaan layanan sanitasi diintegrasikan dengan pelanggan PDAM agar pengelolaannya lebih stabil dan berkelanjutan. Namun, skema tarif maupun iuran masih dalam tahap pembahasan bersama DPRD Surabaya.
Sebelumnya sempat muncul wacana iuran sekitar Rp5 ribu per bulan, namun Hidayat menegaskan belum ada keputusan final karena perda masih dibahas.
Baca juga: Ribetnya Sistem Pembayaran Parkir di Surabaya
“Itu masih pembahasan. Perda-nya saja belum diketuk,” tegasnya.
Menurut Hidayat, Surabaya justru termasuk terlambat dalam penerapan sistem sanitasi modern dibanding kota lain seperti Solo, Palembang, hingga Jakarta.
“Sudah waktunya sekarang dikelola BUMD. Kita agak telat, tapi sekarang mereka bersedia dan itu bagus,” ucapnya.
Saat ini, pengolahan limbah domestik Surabaya masih terpusat di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Keputih. Ke depan, pemkot berencana menambah fasilitas pengolahan di wilayah timur dan barat kota agar pelayanan lebih merata.
“Ke depan mungkin ada di wilayah timur dan barat supaya pelayanan lebih mudah,” katanya.
Baca juga: Komitmen Pemkot Surabaya Beri Hak Pendidikan hingga Kesehatan Korban Kekerasan Seksual
Hidayat mengakui sistem ideal sebenarnya adalah jaringan perpipaan limbah rumah tangga langsung seperti di negara maju. Namun pembangunan infrastruktur tersebut membutuhkan biaya sangat besar.
“Harusnya bagus itu pakai pipa langsung seperti di luar negeri. Cuma biayanya mahal. Tapi insyaallah kita menuju ke sana,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai kondisi sanitasi Surabaya saat ini sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Keberadaan toilet rumah tangga dan fasilitas sanitasi komunal disebut mulai mengurangi praktik pembuangan limbah sembarangan ke sungai.
“Kalau dulu iya, sekarang sudah tidak ada lagi orang buang sembarangan ke sungai. Sudah banyak komunal-komunal,” pungkasnya.
Editor : Redaksi