Tetap Naik, Aksi Mogok Produksi Pengusaha Tempe Tak Mempengaruhi Harga Kedelai

Reporter : Ade Resty
Ghofur memulai kembali produksi tempe

selalu.id - Aksi mogok produksi yang dilakukan pengusaha tempe dan tahu pada 21-23 Februari 2022 lalu tidak mendapat reaksi apapun, baik dari pemerintah maupun keluhan masyarakat atas kelangkaan tempa dan tahu di pasar. Mereka akhirnya memilih untuk berproduksi kembali.

Ghofur, seorang pengusaha tempe di Kampung Tempe Jalan Tenggilis Kauman, Surabaya mengatakan usaha kedelai di kampungnya sudah kembali produksi per Kamis, (24/2/2022) kemarin.

Baca juga: Sango Ceramics Indonesia Luncurkan Showroom di Surabaya, Hadirkan Produk Keramik Ekspor

Ghofur mengaku, meski telah melakukan aksi mogok, namun hal itu dirasanya tak memberikan dampak apa pun pada pergerakan harga kedelai di pasaran.

"Sekarang (harga kedelai) malah naik, jadi Rp 11.200 sekilo. Naik Rp 200," kata Ghofur, Jumat (25/2/2022).

Selain itu, Ghofur lebih memilih tidak ikut menaikan harga tempe olahannya, meski harga naik. Menurutnya Keputusan menaikan harga tempe itu dirasanya sulit, lantaran bisa mempengaruhi omzetnya.

Baca juga: Aturan Jam Operasional Pasar Tanjungsari 77 Surabaya Diprotes, Saleh Mukadar: Pemerintah Mau Ganti Rugi Kalau Buah Rusak

"Nanti sepi, gak ada yang mau beli," jelasnya.

Lebih lanjut Ghofur menyampaikan, dirinya lebih memilih untuk memperkecil bentuk tempe hasil produksinya. Harga satuan tempe miliknya dihargai sebesar Rp 1.500.

"Kalau untuk pedagang eceran naiknya Rp 500 per biji," ujarnnya.

Baca juga: Marak Pemotongan Unggas Ilegal di Permukiman Padat Surabaya, DPRD Bilang Begini

Meski tidak menyetujui adanya aksi mogok lantaran akan kehilangan omzet selama tiga hari, namun Ghofur mengaku tepaksa ikut, sebab, dia khawatir jika tak mengikuti instruksi bisa berdampak pada keselamatan pengecernya. Kerena tahun-tahun sebelumnya dirinya pernah mengalami pengecernya di ganggu.

"Sebenarnya bukan mogok tapi libur, karena demi keamanan. Takutnya pengecer saya di sakiti di jalan atau di obrak Abrik dagangannya, oleh karena itu saya ikut berhenti produksi," terangnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru