Video Wali Kota Eri Menari Sandur Viral, Akademisi Sebut Politik Simbol Tak Cukup

Reporter : Ade Resty

selalu.id – Video yang memperlihatkan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi ikut menari dalam pertunjukan kesenian Sandur Madura viral di media sosial. Cuplikan tersebut ramai dibagikan dan memunculkan beragam respons publik, mulai dari apresiasi hingga kritik terkait posisi kesenian tradisional di ruang publik Surabaya.

 

Baca juga: Wali Kota Eri Datangi Rumah Ibu Ojol Viral, Ajak Ubah Nasib Lewat Padat Karya

Sosiolog Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Andri Arianto, menilai viralnya video tersebut tidak terlepas dari persoalan lebih mendasar tentang bagaimana kebudayaan ditempatkan dalam kebijakan kota, khususnya di tengah karakter Surabaya sebagai kota multikultural.

 

“Surabaya memang tumbuh dari perjumpaan berbagai etnis dan tradisi. Tapi pengakuan terhadap kebudayaan tidak cukup berhenti pada simbol atau momen seremonial,” kata Andri, Jumat (19/12/2025).

 

Menurut Andri, sejarah Surabaya sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan membentuk masyarakat yang majemuk, termasuk berkembangnya kesenian dari komunitas pendatang seperti Sandur Madura. Seni pertunjukan rakyat ini memadukan tari, musik, dialog, humor, dan kritik sosial, yang dibawa melalui migrasi masyarakat Madura dan tumbuh di kawasan kampung urban.

 

Namun, dalam praktiknya, keberadaan Sandur di ruang kota dinilai semakin terbatas. Andri menyebut pertunjukan Sandur kini jarang tampil di ruang publik, baik karena minimnya regenerasi seniman maupun terbatasnya akses terhadap panggung kebudayaan yang setara.

 

“Sandur di Surabaya lebih sering bertahan di lingkup komunitas. Ia hidup, tetapi tidak benar-benar diberi ruang dalam agenda kebudayaan kota,” ujarnya.

 

Baca juga: Kasus Pungli Rp8 Juta di Wira-Wiri Bongkar Celah Pengawasan Lemah Dishub Surabaya

Di tingkat komunitas, Sandur masih berfungsi sebagai media solidaritas sosial warga. Namun perubahan tata ruang kota memaksa kesenian ini beradaptasi, mulai dari pemendekan durasi pertunjukan, penyesuaian tema cerita dengan konteks urban, hingga pemindahan lokasi pentas ke balai warga atau acara tertentu.

 

Andri juga menyoroti faktor sosial yang turut memengaruhi keberlanjutan kesenian tersebut. Stereotip terhadap etnis tertentu, menurutnya, kerap berdampak pada tidak meratanya perhatian terhadap kesenian yang mereka bawa.

 

“Ini bukan hanya soal Sandur, tapi tentang bagaimana kota memperlakukan keberagaman budaya secara adil,” tegasnya.

 

Baca juga: Wali Kota Eri Cahyadi Tegaskan Siap Rekomendasikan Pembubaran Ormas Pelaku Premanisme

Ia menilai viralnya video tarian Sandur seharusnya menjadi momentum evaluasi kebijakan kebudayaan, bukan sekadar euforia di media sosial.

 

“Jika kota hanya berhenti pada simbol, maka kesenian tradisi berisiko kehilangan generasi penerus. Politik budaya seharusnya hadir dalam bentuk kebijakan, bukan hanya gestur,” ujarnya.

 

Andri menambahkan, Surabaya merupakan ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas. Tanpa upaya serius membuka ruang ekspresi yang berkelanjutan, kesenian tradisional seperti Sandur berpotensi terus terpinggirkan.

Editor : Ading

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru