Kena PHK, Pria Mojokerto Beralih Budidaya Cupang hingga Raup Jutaan Rupiah

Reporter : Achmad Supriyadi
Dedy Prastiono, 34 tahun, menekuni budidaya ikan cupang

selalu.id - Seorang warga Kota Mojokerto berhasil bangkit setelah terkena pemutusan hubungan kerja dari salah satu perusahaan BUMN. Dedy Prastiono, 34 tahun, kini menekuni budidaya ikan cupang di rumahnya di Jalan Kemasan Gang 7, Lingkungan Mergelo, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon.

 

Baca juga: Susur Sungai Ngotok di TBM, Destinasi Wisata Baru Kota Mojokerto

Ratusan botol dan galon bekas ia sulap menjadi wadah berbagai jenis ikan cupang. Usaha ini mulai ia jalankan tiga tahun lalu setelah terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja di Surabaya.

 

Dedy menyebut usaha tersebut berawal dari kondisi terdesak dan dorongan untuk mencari peluang baru. Ia mulai mencoba setelah berkunjung ke rumah temannya yang sudah lebih dulu membudidayakan cupang.

 

“Awalnya coba-coba gara-gara kepepet karena kondisi. Soalnya apa, kita sebelumnya itu kena PHK, pernah bekerja di salah satu perusahaan BUMN. Terus ada kesentralisasi, kita kena PHK. Di situ habis kena PHK, kita kan bingung. Jadi untuk awal mulanya kita maksimal untuk melangkah ke dunia percupangan. Itu gara-gara kita main ke rumah salah satu teman. Beliau kebetulan juga pemain ikan cupang,” kata Dedy Prastiono, Rabu 19 November 2025.

 

Ia menyediakan berbagai jenis cupang aduan dan hias. Harga yang ditawarkan mulai dari dua puluh ribu rupiah hingga jutaan rupiah sesuai kualitas ikan.

 

Baca juga: Kota Mojokerto Dipercaya Jadi Pilot Project Digitalisasi Bansos Nasional

“Sekarang jalan hampir tiga tahun, untuk jenis-jenis di sini hampir lengkap ya. Kurang lebih hampir sembilan puluh jenis ada di sini. Untuk yang paling murah sampai mahal dari harga dua puluh ribu sampai mahal bisa jutaan juga. Tergantung dari kualitas ikannya masing-masing. Banyak jenis juga dari mulai cupang petarung juga ada. Untuk hiasan juga ada. Terus kalau kebetulan untuk jenis-jenis spek kontes, kita belum menyiapkan,” jelasnya.

 

Penjualan dilakukan melalui platform e-commerce dengan pengiriman ke berbagai wilayah di Indonesia.

 

“Pembeli beragam sih macam-macam. Hampir se-Pulau Jawa pernah beli di sini. Bahkan di luar pulau juga. Contohnya kalau misalnya untuk saat ini luar pulau ya Sumatera, Maluku, Ambon, Kalimantan banyak lah. Bahkan di Aceh juga ada pernah. Untuk luar negara, kebetulan kita saat ini masih belum sampai ke sana. Soalnya untuk pengurusan segala macam kan masih ribet. Mungkin enggak tahu untuk ke depannya, kurang lebih nanti bisa dimaksimalkan,” tuturnya.

Baca juga: Wisata Mojokerto dengan Kesejukan Alam yang Syahdu, Cocok Dibuat Santai Sama Keluarga 

 

Dalam perawatan harian, Dedy dibantu oleh keponakannya. Ia menerapkan metode perawatan sederhana yang tidak memerlukan pergantian air setiap hari.

 

“Dibantu keponakan. Lerawatan ikan cupang itu lebih simple. Pergantian air yang enggak harus setiap hari. Bisa tiga hari, bahkan bisa satu minggu, dua minggu, bahkan satu bulan. Bisa tergantung dari kondisi atau kondisi tempatnya aja. Kalau misalnya untuk pergantian air lebih lama, itu saya rekomendasi bahwanya itu dikasih entah pasir malang. Ini kan contoh ya, dikasih pasir malang. Nanti untuk tambahan lagi bisa dikasih tanaman hidup atau aquascape yang sekarang ini kan banyak itu nanti ada fungsinya dari pasir malang, tanaman hidup, kayak tanaman hidup nanti kan bisa menyerap amonia atau sisa-sisa makanan, atau kotoran, segala macam dan juga berfungsi nanti untuk tanaman hidupnya nanti juga kan untuk tambahan oksigen juga untuk si ikan,” pungkasnya.

Editor : Ading

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru