selalu.id – Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menilai penyebab genangan dan banjir di sejumlah titik kota bukan semata persoalan infrastruktur, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Ia menyoroti masih banyak warga yang sengaja membuang sampah besar seperti kasur dan sofa ke sungai, meski sudah ada peraturan daerah yang mengatur larangan dan sanksinya.
Baca juga: DPRD Surabaya: Promosi Alkohol oleh Influencer Berisiko Tinggi
“Perdanya sudah ada, membuang sampah sembarangan itu dendanya Rp50 juta. Tapi kenapa tidak efektif? Karena kalau pemerintah yang ngomong, sering dianggap angin lalu,” ujar Fathoni kepada selalu.id, Selasa (11/11/2025).
Politikus Golkar itu mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk mengubah pendekatan edukasi publik dengan melibatkan influencer dan pegiat media sosial agar pesan menjaga kebersihan sungai lebih mudah diterima masyarakat.
“Sekarang ini eranya algoritma. Yang berpengaruh bukan pejabat, tapi pegiat media sosial. Jadi Pemkot harus menggandeng mereka untuk membangun kesadaran kolektif,” tegasnya.
Fathoni juga mendorong agar pemerintah melibatkan masyarakat dalam gerakan partisipatif menjaga kebersihan lingkungan, termasuk memberi apresiasi bagi warga yang turut mengawasi perilaku pembuangan sampah sembarangan.
“Kalau sudah ada kesadaran, rakyat bisa jadi pagar ayu bagi kebijakan Pemkot. Misalnya, warga yang merekam orang buang sampah ke sungai bisa diberi penghargaan,” katanya.
Selain perilaku warga, Fathoni menyebut program pengendalian genangan dan banjir di Surabaya belum rampung tahun ini dan akan dilanjutkan pada 2026.
Baca juga: Awas! Buang Kasur ke Sungai Surabaya Bisa Kena Denda Rp50 Juta dan Masuk Bui
Pemkot disebut terus membangun saluran baru, rumah pompa, serta sistem konektivitas antar saluran untuk mempercepat aliran air.
“Surabaya ini daerah kantong air. Aliran dari Malang, Brantas, sampai Bengawan Solo larinya ke sini. Karena itu, pembangunan pengendalian banjir memang bertahap,” jelasnya.
Fathoni mengatakan DPRD dan Pemkot telah menyiapkan skema pembiayaan alternatif agar proyek infrastruktur tidak terhenti akibat keterbatasan anggaran.
“Kita targetkan proyek tuntas 2027 supaya masyarakat bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” ujarnya.
Baca juga: Influencer Dilarang Promosikan Mihol, Pemkot Surabaya Awasi Konten Digital
Ia mencontohkan wilayah Ketintang yang dulunya kerap banjir kini mulai bebas genangan setelah perbaikan konektivitas saluran air.
“Dulu air dari Ketintang dibuang ke arah Rungkut, jadi lama surutnya. Sekarang sudah dibuang ke Sungai Karah, alirannya cepat dan tidak menggenang,” tuturnya.
Fathoni menegaskan pembangunan fisik harus diimbangi dengan perubahan perilaku masyarakat agar solusi banjir bisa berjalan efektif dan berkelanjutan.
“Percuma kita bangun rumah pompa kalau sungainya tetap penuh kasur dan sofa. Jadi kuncinya, kesadaran kolektif harus dibangun bersama,” pungkasnya.
Editor : Ading