selalu.id - Pengerajin tempe di Surabaya berencana menggelar aksi mogok produksi pada 21 hingga 23 Februari 2022. Ini imbas dari melambung tingginya harga kedelai.
Harga kedelai saat ini mengalami kenaikan sebesar Rp 2.200 perkilonya. Dari semula Rp 9300 menjadi Rp 11.500.
Baca juga: Massa Demo Berpakaian Serba Hitam Mulai Datang di Depan Grahadi Surabaya
Salah satu pengrajin kedelai di Kampung Tempe tenggilis, Gofur (51) mengatakan bahwa naiknya harga kedelai, membuatnya harus mengecilkan ukuran tempe.
"Setiap tahun itu pasti naik, tapi gak signifikan seperti sekarang ini," kata Gofur, saat ditemui Selalu.id, Kamis (17/2/2022).
Ghofur juga menceritakan bahwa kenaikan tempe saat krisis moneter tahun 1998, hanya naik seribu rupiah. namun kali ini kenaikan mencapai Rp 2200 perkilo.
Baca juga: DPRD Surabaya Siapkan Public Hearing dalam Tatib Baru, Cegah Protes Perda Susulan
"Tahun 2022 ini yang parah, padahal ekonomi stabil," ujar Ghofur.
Tingginya harga kedelai yang mempengaruhi harga serta ukuran tempe, secara otomatis membuat penjualan Ghofur menurun.
"Saya jualan dirumah ini diambil juga sama yang keliling daerah sini panjang jiwo," terangnya
Baca juga: 45 Ribu Reklame di Surabaya, Ratusan Masih Bandel dan Nunggak Pajak
Ghofur menambahkan, dirinya juga akan ikut mogok produksi tempe selama tiga hari. Ia mengaku kecewa terhadap meningkatnya harga kedelai. Mogok ini juga diikuti oleh pengusaha tahu.
"Kami ndak produksi selama 3 hari, ikut mogok. Kecewa, kok tiap tahun naik ," Terangnya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi