Asa Baru Kebangkitan Jaranan Pogogan Nganjuk
- Penulis : Yohanes Arberto
- | Jumat, 06 Nov 2026 17:39 WIB
selalu.id - Kesenian Jaranan Pogogan yang pernah berjaya di wilayah Nganjuk timur pada era 1960 hingga 1980-an kini berupaya bangkit kembali.
Upaya pelestarian itu digerakkan oleh sanggar seni di Dusun Jimbe, Desa Sidoharjo, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk.
Baca Juga: Langkah Sigap Bupati Nganjuk Marhaen Tangani Data Kemiskinan Warganya yang Tak Sesuai
Penampilan jaranan tersebut di gelar di Aula SMA Negeri 1 Nganjuk dalam rangka sosialisasi Jaranan Pogogan.
Pimpinan Sanggar Seni Eko Joyo, Eko Karyono menceritakan sejarah panjang Jaranan Pogokan yang diwariskan turun-temurun dari keluarganya.
“Di saat tahun 50-an, informasi dari bapak saya selaku yang mempunyai Jaranan Pogokan di Desa Sidoharjo, Kecamatan Prambon, itu banyak berkembang di daerah Nganjuk wilayah timur, seperti misalnya ada di Tanjunganom, Ngronggot, dan Prambon,” ungkapnya, Jumat (6/11/2026)
Eko menjelaskan, salah satu kelompok tertua adalah Jaranan Pogogan Teguh Rahayu yang berada di Dusun Jimbe. Kelompok tersebut muncul pada tahun 1956 dan dipimpin oleh Maharjo.
“Saat itu tahun 1956, ada Jaranan Pogogan yang berada di Dusun Jimbe, yang namanya Jaranan Pogogan Teguh Rahayu. Ini munculnya itu tahun 1956 yang dipimpin oleh Bapak Maharjo,” jelasnya.
Eko menambahkan, Jaranan Pogogan pernah mengalami masa kejayaan yang luar biasa. Pada tahun 60-an hingga akhir 80-an, kesenian ini menjadi tontonan utama masyarakat.
Pementasan Jaranan Pogokan Sanggar Seni Eko Joyo di Aula SMA Negeri 1 Nganjuk. (Foto: Yohanes/selalu.id).
“Jaranan Pogokan ini pernah mengalami kejayaannya di tahun 60-an sampai 70-an dan 80-an akhir. Perjalanan itu sangat jaya sekali Jaranan Pogogan, baik itu orang hajatan, orang tontonan, maupun orang-orang nazar, ini banyak yang nanggap Jaranan Pogogan,” katanya.
Namun, memasuki akhir tahun 80-an, popularitas Jaranan Pogogan mulai surut seiring masuknya media elektronik dan perkembangan media sosial.
“Kemudian di akhir tahun 80-an, dengan adanya medianya masuk media elektronik, media sosial yang semakin berkembang pesat, akhirnya Jaranan Pogogan semakin berkembang, tetapi tahun 80-an akhir sudah mulai surut,” tutur Eko.
Kondisi tersebut membuat Eko sebagai pewaris merasa terpanggil untuk kembali mengembangkan dan melestarikan kesenian leluhur tersebut.
“Saya selaku pewaris merasa susah, merasa sedih, manakala kesenian tinggalan leluhur kita tidak kita kembangkan, tidak kita gali, dan kita lestarikan untuk kita kenalkan kembali untuk mengalami kejayaan yang akan datang. Ini harapan kami seperti itu,” tegasnya.
Secara cerita, Jaranan Pogogan mengisahkan perjalanan prajurit dari Bantarangin, Ponorogo, menuju Kediri untuk melamar Putri Kediri Dewi Songgolangit.
“Secara sepotong Jaranan Pogogan itu merupakan perjalanan prajurit dari Bantarangin, Ponorogo, menuju ke Kediri untuk melamar Putri Kediri Dewi Songgolangit,” jelas Eko.
Yang membedakan Jaranan Pogogan dengan jaranan lainnya terletak pada penampilan dan instrumennya. Jaranan Pogogan murni hiburan, tanpa ritual mistis.
“Bedanya secara garis besar itu pada penampilan. Jaranan Pogogan tidak ada bakar kemenyan, tidak ada ndadi, tidak ada kesurupan. Ini pure murni hiburan,” ujarnya.
Baca Juga: Jasa Pelubangan Plastik Mulsa Banjir Orderan Jelang Musim Tanam Melon di Nganjuk
Dari segi instrumen, sompret dalam Jaranan Pogogan berfungsi sebagai musik iringan yang melekat dengan gerakan. Berbeda dengan jaranan lain yang sompretnya hanya sebagai ilustrasi.
“Dan yang membedakan lagi dari segi instrumennya, sompretnya ini di Jaranan Pogogan berfungsi sebagai musik iringan karena apa, melodi-melodinya melekat dengan gerakan-gerakan, perubahan-perubahannya melekat dengan gerakan. Sedangkan jaranan yang lain ini bisa saja sompret berfungsi sebagai ilustrasi saja,” papar Eko.
Nama Pogogan sendiri berasal dari kata tukil yang artinya ndagel atau melucu. Pogokan awalnya menggunakan irah-irahan pogokan seperti yang ditampilkan oleh tokoh wayang Dursasana yang lucu dan gecol.
“Kemudian, disebut pogogan ini, pogog dari kata tukil artinya ndagel. Sehingga pogogannya awalnya menggunakan irah-irahan pogogan seperti yang ditampilkan oleh wayang tokoh Dursasana. Orangnya lucu, gecol, banyak umur, di sinilah pogogan,” katanya.
Dalam satu pementasan, Jaranan Pogogan dapat ditampilkan secara utuh dalam lima babak, mulai dari genjongan atau gambyong, kepangan yang disebut Pogogan itu sendiri, kucingan, klono, dan penampilan cerita yang biasanya menggunakan cerita Ande-Ande Lumut.
“Kemudian pogogan itu sendiri bisa ditampilkan satu-kesatuan, Pak. Mulai dari genjongan atau gambyong, kepangan yang disebut pogogan itu sendiri, yang ketiga bisa kucingan, yang keempat klono, dan yang terakhir adalah penampilan cerita, biasanya menggunakan cerita Ande-Ande Lumut itu biasanya,” jelas Eko.
Kebangkitan Jaranan Pogogan ini juga mendapat sambutan positif dari penonton. Salah satunya Retnosari, warga Nganjuk yang menyaksikan langsung pementasan tersebut.
Ia mengaku sangat berkesan karena Jaranan Pogogan menampilkan sesuatu yang benar-benar baru, terutama dengan melibatkan anak-anak kecil yang lucu, tanpa bau menyengat khas pertunjukan jaranan pada umumnya.
“Setelah melihat acara Jaranan Pogogan hari ini, sangat berkesan sekali. Karena apa? Karena menampilkan sesuatu yang baru, benar-benar baru. Barunya di mana? Barunya di sini menampilkan anak-anak kecil yang lucu tanpa adanya apa? Bau-bau yang menyengat dan lain sebagainya. Seperti itu, Bapak,” ujar Retnosari.
Baca Juga: Pilkades Serentak Gelombang II di Nganjuk Diikuti 234 Desa, Ini Jadwal Coblosannya
Sebagai warga Nganjuk, Retnosari sangat antusias dan berharap Jaranan Pogokan yang asli Nganjuk ini bisa terus berkembang dan membudaya di daerahnya.
“Saya sangat-sangat antusias dan menunggu Jaranan Pogogan ini bisa membudayakan Jaranan Pogogan yang asli benar-benar Nganjuk. Karena ya itu tadi, memberikan kesan yang terbaru,” tuturnya.
Menurut dia, Jaranan Pogogan juga memiliki nilai edukasi, karena mampu mewadahi seni budaya Nganjuk sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak.
“Edukasi yang bisa didapatkan yaitu bisa mewadahi apa? Seni budaya, budaya Nganjuk, dan seni-seni anak-anak kecil,” ungkap Retnosari.
Kebangkitan Jaranan Pogogan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Eko menyampaikan terima kasih kepada Kota Sejuk yang telah berjuang bekerjasama dengan pihaknya, Dinas Pariwisata Kabupaten Nganjuk, Badan Pelestarian Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, hingga Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
“Untuk saat ini saya berterima kasih kepada Kota Sejuk yang telah berjuang untuk bekerjasama dengan kami selaku pimpinan Jaranan Teguh Rahayu melalui Sanggar Seni Eko Joyo,” katanya.
“Juga berterima kasih kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Nganjuk, juga terima kasih kepada Badan Pelestarian Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, sekaligus juga Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang telah memberikan porsi untuk bangkitnya kembali jaranan pogog ini,” tambah Eko.
Harapannya, setelah kembali ditampilkan, ada sosialisasi pelestarian melalui sekolah-sekolah agar generasi muda mengenal Jaranan Pogogan.
“Harapan kami, setelah ini ditampilkan, nanti ada semacam sosialisasi pelestariannya melalui sekolah-sekolah," pungkas dia.
Editor : Zein MuhammadURL : https://selalu.id/news-16360-asa-baru-kebangkitan-jaranan-pogogan-nganjuk
