DPRD Jatim Tegaskan Telusuri Penyebab Ratusan Siswa Diduga Keracunan MBG
- Penulis : Dony Maulana
- | Senin, 11 Mei 2026 18:56 WIB
selalu.id - Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso menyampaikan keprihatinan mendalam terkait laporan ratusan siswa dari 12 sekolah di kawasan Bubutan, Surabaya, yang keracunan diduga usai menyantap MBG.
Menurut Cahyo, pihaknya akan segera menindaklanjuti peristiwa ini dengan menelusuri secara rinci akar penyebab masalah, termasuk mengonfirmasi apa yang menjadi pemicu gangguan kesehatan tersebut hingga korban harus dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: Penebangan Hutan Ilegal Picu Risiko Karhutla, Anggota DPRD Jatim Minta Pengawasan Diperketat
"Kami sangat prihatin mendengar informasi ini. Tentu ini menjadi perhatian serius kami. Langkah pertama yang kami lakukan adalah menggali informasi selengkap mungkin, apa sebenarnya yang menyebabkan anak-anak kita mengalami gangguan kesehatan ini. Apakah benar berkaitan dengan makanan yang mereka terima melalui program MBG, atau ada faktor lain yang belum diketahui," kata Cahyo kepada selalu.id, Senin (11/5/2026).
Ia menegaskan, jika hasil penelusuran dan keterangan dari tenaga kesehatan di lokasi menunjukkan masalah berawal dari makanan yang disalurkan, maka pihaknya akan melakukan pemeriksaan mendalam terhadap dapur penyedia pasokan makanan ke sekolah-sekolah tersebut.
Beberapa hal utama yang akan dicek meliputi kepatuhan terhadap standar gizi yang ditetapkan, serta penerapan standar kebersihan dan kesehatan mulai dari proses pengolahan, pengemasan, pengiriman hingga penyajian makanan.
"Kami akan cek satu per satu. Apakah dapur penyedia sudah berjalan sesuai standar gizi yang ditetapkan. Apakah proses memasak, pengemasan, hingga penyajiannya bersih dan memenuhi syarat kesehatan. Semua aspek ini akan kami telusuri karena banyak faktor yang bisa memicu masalah tersebut," paparnya.
Cahyo mengingatkan bahwa program MBG merupakan inisiatif strategis sesuai arahan Presiden Republik Indonesia.
Program ini bertujuan meningkatkan kualitas gizi, kecerdasan, dan semangat belajar anak didik, sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga.
Oleh karenanya, pelaksanaannya harus selalu diawasi dan dipastikan berjalan benar, aman, dan bermanfaat sebagaimana tujuannya.
Baca Juga: DPRD Jatim Desak Pemprov Susun Kajian Ilmiah Peta Potensi Pendapatan Daerah
Saat ini, Cahyo sudah meminta warga masyarakat yang mengetahui langsung peristiwa tersebut untuk memantau proses penanganan di fasilitas kesehatan dan mengumpulkan data awal penyebab kejadian.
Apabila terbukti masalah muncul dari makanan program MBG, laporan akan segera disampaikan kepada Satgas Percepatan Perbaikan Gizi Jawa Timur yang diketuai oleh Wakil Gubernur.
Pihaknya menegaskan tidak akan ragu menjatuhkan sanksi tegas jika ditemukan pelanggaran.
Sebagai acuan, sebelumnya telah ada sekitar 700 hingga 1.000 dapur penyedia yang sempat dibekukan sementara karena dinilai tidak memenuhi standar yang ditetapkan.
"Kita belum bisa menyimpulkan penyebab pasti. Dari informasi awal yang saya terima, gejala yang muncul berupa muntah-muntah. Namun apakah itu murni keracunan makanan atau faktor lain, harus dipastikan dulu lewat pemeriksaan medis dan pengecekan teknis. Keracunan makanan memiliki beragam ciri dan gejala, jadi kami tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan," kata Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Jatim itu.
Baca Juga: DPRD Jatim Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Berikut Catatan Penting untuk Pemprov
Cahyo menegaskan bahwa DPRD Jawa Timur akan terus mengawal pelaksanaan program ini agar selalu disempurnakan, dimaksimalkan manfaatnya, dan benar-benar aman bagi seluruh siswa penerima manfaat, sesuai harapan masyarakat dan amanat pemerintah pusat.
Diketahui, sekitar 200 siswa yang diduga keracunan MBG itu berasal dari 12 sekolahan yang menerima distribusi makanan dari dapur umum atau SPPG yang sama.
Sekolah tersebut terdiri dari jenjang TK, SD hingga SMP. Gejala yang paling banyak dikeluhkan siswa yakni mual, muntah, dan pusing setelah menyantap makanan MBG.
Berdasarkan informasi, dari total siswa terdampak, sekitar 100 anak dibawa ke Rumah Sakit IBI untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sementara lainnya ditangani langsung di sekolah maupun di Puskesmas Tembok Dukuh.
Editor : Zein Muhammad