Kamis, 03 Sep 2026 16:11 WIB

FMKMP Soroti Pembangunan Tanggul Raksasa Rp1.297 T dari Banten ke Jatim, Berikut Dampak Bahayanya

  • Penulis : Redaksi
  • | Selasa, 28 Apr 2026 21:26 WIB
Giant Sea Wall (GWS) atau tanggul raksasa di tengah laut yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). (Dok. Istimewa).
Giant Sea Wall (GWS) atau tanggul raksasa di tengah laut yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). (Dok. Istimewa).

selalu.id - Forum Masyarakat Kelautan, Maritim, dan Perikanan (FMKMP) menyoroti rencana pembangunan Giant Sea Wall (GWS) atau tanggul raksasa di tengah laut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Ketua FMKMP Jawa Timur, Oki Lukito mengatakan bahwa GWS dibangun membentang dari Banten hingga Jawa Timur. Fokus wilayah (Jawa Timur) diprioritaskan di lintas pesisir utara, yakni kawasan Kabupaten Tuban, Gresik, dan Lamongan.

Baca Juga: Turnamen Mini Soccer Piala Bahlil Lahadalia 2026 Segera Dimulai, Golkar Jatim Pastikan Kesiapan 11 Venue

"Informasinya dana anggaran fantastis, estimasinya US$ 80–100 miliar atau sekitar Rp1,3 hingga Rp1,68 kuadriliun, atau setara Rp1.297 triliun. Saat ini GSW masih prioritas di DKI dan Jateng, terutama Semarang," jelas Oki kepada selalu.id, Selasa (28/4/2026).

Menurut dia, sebaiknya pembangunan GSW di Jawa Timur lebih efektif soft structure, yaitu rehab pesisir degan vegetasi pantai atau sabuk pantai.

Pertimbangannya bathi metri (kedalaman), pola arus, vegetasi yang existing (mangrove ).

"Hal ini agar aktivitas masyarakat mudah untuk menuju ke area tangkap. Ada industri maritim seperti galangan kapal yang umumnya berada di pinggir pantai akan terhambat aktivitasnya," papar Oki.

Pria yang juga tergabung dalam Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir (HAPPI) Jatim ini menegaskan, jika GSW model hard structure (beton) akan berdampak multisektor dan perubahan signifikan fisika, kimia ekosistem dan perubahan area tangkap atau bahkan hilangnya sumber daya ikan.

"Jujur, sejatinya untuk apa pemerintah bangun GSW. Ini kan proyek besar dengan biaya yang sangat besar. Dalam jangka pendek-menengah, 5-15 tahun ke depan, apa urgensinya? APBN kita sudah defisit, bayar bunga hutang dan cicilannya juga sangat besar. Ini akan memperberat ruang fiskal. Apalagi, jika proyek tersebut dibiayai lewat hutang luar negeri. Pertanyaan saya, apa yang mau dibanggakan?," tegas Oki.

Ia menambahkan bahwa hasil diskusi internal HAPPI akan terdapat dampak dari pembangunan GSW (beton).

Berikut Dampak dari Pembangunan GWS Menurut HAPPI:

1. Kerusakan Habitat Alami

Tanggul dapat menutup atau mengubah area seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pesisir.

Baca Juga: 12 Warga Jatim jadi Korban Penipuan Kerja ke Hong Kong, Kerugian Ratusan Juta

Ekosistem ini penting sebagai tempat berkembang biak ikan dan penahan abrasi alami. Jika hilang, keanekaragaman hayati ikut menurun.

2. Perubahan Aliran Air dan Sedimen

Struktur besar ini mengganggu arus laut alami. Akibatnya, sedimentasi bisa menumpuk di satu sisi.

Erosi bisa makin parah di sisi lain. Ini bisa merusak garis pantai dalam jangka panjang.

3. Penurunan Kualitas Air

Jika air laut terperangkap di dalam tanggul tanpa sirkulasi baik, bisa terjadi penumpukan limbah dan polusi.

Baca Juga: Kunjungi Lahan Terdampak Kekeringan di Gresik, Mentan Amran Tawarkan Solusi Gak Pake Ribet

penurunan kadar oksigen. Hal ini berbahaya bagi ikan dan organisme laut lainnya.

4. Gangguan Migrasi Biota Laut

Banyak spesies (ikan, udang, dll), bergantung pada jalur migrasi alami antara laut dan muara. Tanggul bisa menjadi penghalang fisik.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf saat bertemu Gubenrnur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyebutkan bahwa pembangunan GWS saat ini sedang dilakukan penelitian dan assesment.

"Seperti apa nanti dibangun di tengah laut sekitar 4-6 km dari bibir pantai. Dan rencananya akan kita laksanakan setelah selesai semua," katanya, Jumat (24/4/2026).

Reporter: Mohammad Rofik 

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Gandeng PMI Surabaya, PT PAL Indonesia Kirim Donasi Kemanusiaan Rp83,1 Juta ke Korban Gempa NTT

Berdasarkan komunikasi dan assessment sementara tim lapangan di NTT, bantuan akan difokuskan untuk pemenuhan fasilitas dasar masyarakat terdampak.

Bahlil Mini Soccer Zona Madiun Raya Resmi Bergulir, Dibuka Laga Golkar Vs PKB

Ketua Pelaksana Bahlil Mini Soccer 2026 Arif Fathoni mengatakan, antusiasme sekolah dan pelajar untuk mengikuti kompetisi tersebut cukup tinggi.

Ketika Korban Penganiayaan di Surabaya Diintimidasi dan Ditawari Uang Damai Rp150 Juta

Majelis hakim dijadwalkan bakal memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV pada persidangan pekan depan guna mencocokkan fakta lapangan.

Dua Atlet Balap Sepeda SEA Games jadi Korban Pelecehan Seksual di Pacet Mojokerto

Keduanya menjadi korban aksi tidak senonoh atau pelecehan seksual di kawasan Jurang Gongso, Desa Kesimantengah, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Bupati Subandi Wanti-wanti Petugas Puskesmas Sidoarjo: Birokrat Sifatnya Melayani, Gak Boleh Emosi!

Bukan sekadar urusan medis, sikap para petugas hingga kelayakan fasilitas di Puskesmas dinilai sangat menentukan kualitas pengalaman berobat warga.

Air PDAM Bocor Rp400 Miliar, DPRD Surabaya Ungkap Praktik Pengelolaan Air Mandiri di Perumahan Elit

Hingga 28 Agustus 2026, dari total pagu anggaran mencapai Rp1,9 triliun, BPKAD baru merealisasikan anggaran sebesar Rp11 miliar.