FMKMP Soroti Pembangunan Tanggul Raksasa Rp1.297 T dari Banten ke Jatim, Berikut Dampak Bahayanya
- Penulis : Redaksi
- | Selasa, 28 Apr 2026 21:26 WIB
selalu.id - Forum Masyarakat Kelautan, Maritim, dan Perikanan (FMKMP) menyoroti rencana pembangunan Giant Sea Wall (GWS) atau tanggul raksasa di tengah laut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Ketua FMKMP Jawa Timur, Oki Lukito mengatakan bahwa GWS dibangun membentang dari Banten hingga Jawa Timur. Fokus wilayah (Jawa Timur) diprioritaskan di lintas pesisir utara, yakni kawasan Kabupaten Tuban, Gresik, dan Lamongan.
Baca Juga: Perkuat Konsolidasi di Jawa Timur, Ali Mufthi Pastikan Golkar Hadir Melayani Rakyat
"Informasinya dana anggaran fantastis, estimasinya US$ 80–100 miliar atau sekitar Rp1,3 hingga Rp1,68 kuadriliun, atau setara Rp1.297 triliun. Saat ini GSW masih prioritas di DKI dan Jateng, terutama Semarang," jelas Oki kepada selalu.id, Selasa (28/4/2026).
Menurut dia, sebaiknya pembangunan GSW di Jawa Timur lebih efektif soft structure, yaitu rehab pesisir degan vegetasi pantai atau sabuk pantai.
Pertimbangannya bathi metri (kedalaman), pola arus, vegetasi yang existing (mangrove ).
"Hal ini agar aktivitas masyarakat mudah untuk menuju ke area tangkap. Ada industri maritim seperti galangan kapal yang umumnya berada di pinggir pantai akan terhambat aktivitasnya," papar Oki.
Pria yang juga tergabung dalam Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir (HAPPI) Jatim ini menegaskan, jika GSW model hard structure (beton) akan berdampak multisektor dan perubahan signifikan fisika, kimia ekosistem dan perubahan area tangkap atau bahkan hilangnya sumber daya ikan.
"Jujur, sejatinya untuk apa pemerintah bangun GSW. Ini kan proyek besar dengan biaya yang sangat besar. Dalam jangka pendek-menengah, 5-15 tahun ke depan, apa urgensinya? APBN kita sudah defisit, bayar bunga hutang dan cicilannya juga sangat besar. Ini akan memperberat ruang fiskal. Apalagi, jika proyek tersebut dibiayai lewat hutang luar negeri. Pertanyaan saya, apa yang mau dibanggakan?," tegas Oki.
Ia menambahkan bahwa hasil diskusi internal HAPPI akan terdapat dampak dari pembangunan GSW (beton).
Berikut Dampak dari Pembangunan GWS Menurut HAPPI:
1. Kerusakan Habitat Alami
Tanggul dapat menutup atau mengubah area seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pesisir.
Baca Juga: Sambangi Bawean, Golkar Jatim Serap dan Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Pulau
Ekosistem ini penting sebagai tempat berkembang biak ikan dan penahan abrasi alami. Jika hilang, keanekaragaman hayati ikut menurun.
2. Perubahan Aliran Air dan Sedimen
Struktur besar ini mengganggu arus laut alami. Akibatnya, sedimentasi bisa menumpuk di satu sisi.
Erosi bisa makin parah di sisi lain. Ini bisa merusak garis pantai dalam jangka panjang.
3. Penurunan Kualitas Air
Jika air laut terperangkap di dalam tanggul tanpa sirkulasi baik, bisa terjadi penumpukan limbah dan polusi.
Baca Juga: ALLPACK Surabaya 2026: Cara Krista Exhibitions Perkuat Hilirisasi dan Daya Saing IKM
penurunan kadar oksigen. Hal ini berbahaya bagi ikan dan organisme laut lainnya.
4. Gangguan Migrasi Biota Laut
Banyak spesies (ikan, udang, dll), bergantung pada jalur migrasi alami antara laut dan muara. Tanggul bisa menjadi penghalang fisik.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf saat bertemu Gubenrnur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyebutkan bahwa pembangunan GWS saat ini sedang dilakukan penelitian dan assesment.
"Seperti apa nanti dibangun di tengah laut sekitar 4-6 km dari bibir pantai. Dan rencananya akan kita laksanakan setelah selesai semua," katanya, Jumat (24/4/2026).
Reporter: Mohammad Rofik
Editor : Zein Muhammad