Selasa, 20 Okt 2026 01:09 WIB

FMKMP Soroti Pembangunan Tanggul Raksasa Rp1.297 T dari Banten ke Jatim, Berikut Dampak Bahayanya

  • Penulis : Redaksi
  • | Selasa, 28 Apr 2026 21:26 WIB
Giant Sea Wall (GWS) atau tanggul raksasa di tengah laut yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). (Dok. Istimewa).
Giant Sea Wall (GWS) atau tanggul raksasa di tengah laut yang dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). (Dok. Istimewa).

selalu.id - Forum Masyarakat Kelautan, Maritim, dan Perikanan (FMKMP) menyoroti rencana pembangunan Giant Sea Wall (GWS) atau tanggul raksasa di tengah laut oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Ketua FMKMP Jawa Timur, Oki Lukito mengatakan bahwa GWS dibangun membentang dari Banten hingga Jawa Timur. Fokus wilayah (Jawa Timur) diprioritaskan di lintas pesisir utara, yakni kawasan Kabupaten Tuban, Gresik, dan Lamongan.

Baca Juga: Perkuat Sinergi, Kapolri Temui Rais Aam PBNU di Surabaya

"Informasinya dana anggaran fantastis, estimasinya US$ 80–100 miliar atau sekitar Rp1,3 hingga Rp1,68 kuadriliun, atau setara Rp1.297 triliun. Saat ini GSW masih prioritas di DKI dan Jateng, terutama Semarang," jelas Oki kepada selalu.id, Selasa (28/4/2026).

Menurut dia, sebaiknya pembangunan GSW di Jawa Timur lebih efektif soft structure, yaitu rehab pesisir degan vegetasi pantai atau sabuk pantai.

Pertimbangannya bathi metri (kedalaman), pola arus, vegetasi yang existing (mangrove ).

"Hal ini agar aktivitas masyarakat mudah untuk menuju ke area tangkap. Ada industri maritim seperti galangan kapal yang umumnya berada di pinggir pantai akan terhambat aktivitasnya," papar Oki.

Pria yang juga tergabung dalam Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir (HAPPI) Jatim ini menegaskan, jika GSW model hard structure (beton) akan berdampak multisektor dan perubahan signifikan fisika, kimia ekosistem dan perubahan area tangkap atau bahkan hilangnya sumber daya ikan.

"Jujur, sejatinya untuk apa pemerintah bangun GSW. Ini kan proyek besar dengan biaya yang sangat besar. Dalam jangka pendek-menengah, 5-15 tahun ke depan, apa urgensinya? APBN kita sudah defisit, bayar bunga hutang dan cicilannya juga sangat besar. Ini akan memperberat ruang fiskal. Apalagi, jika proyek tersebut dibiayai lewat hutang luar negeri. Pertanyaan saya, apa yang mau dibanggakan?," tegas Oki.

Ia menambahkan bahwa hasil diskusi internal HAPPI akan terdapat dampak dari pembangunan GSW (beton).

Berikut Dampak dari Pembangunan GWS Menurut HAPPI:

1. Kerusakan Habitat Alami

Tanggul dapat menutup atau mengubah area seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pesisir.

Baca Juga: Cegah Inflasi, Pemprov Jatim Gelar Pasar Murah ke-158 di Mojokerto

Ekosistem ini penting sebagai tempat berkembang biak ikan dan penahan abrasi alami. Jika hilang, keanekaragaman hayati ikut menurun.

2. Perubahan Aliran Air dan Sedimen

Struktur besar ini mengganggu arus laut alami. Akibatnya, sedimentasi bisa menumpuk di satu sisi.

Erosi bisa makin parah di sisi lain. Ini bisa merusak garis pantai dalam jangka panjang.

3. Penurunan Kualitas Air

Jika air laut terperangkap di dalam tanggul tanpa sirkulasi baik, bisa terjadi penumpukan limbah dan polusi.

Baca Juga: DPRD Jatim Sahkan Perda Hak Disabilitas, Perkuat Perlindungan dan Kesetaraan Hukum

penurunan kadar oksigen. Hal ini berbahaya bagi ikan dan organisme laut lainnya.

4. Gangguan Migrasi Biota Laut

Banyak spesies (ikan, udang, dll), bergantung pada jalur migrasi alami antara laut dan muara. Tanggul bisa menjadi penghalang fisik.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf saat bertemu Gubenrnur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyebutkan bahwa pembangunan GWS saat ini sedang dilakukan penelitian dan assesment.

"Seperti apa nanti dibangun di tengah laut sekitar 4-6 km dari bibir pantai. Dan rencananya akan kita laksanakan setelah selesai semua," katanya, Jumat (24/4/2026).

Reporter: Mohammad Rofik 

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Jaga Kamtibmas, Kapolres Nganjuk Instruksikan Kapolsek Jajaran Cek Rutin SPBU

Langkah ini dilakukan untuk memantau langsung stok BBM, terutama jenis bersubsidi, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal.

Diam-diam Prabowo Panggil Tito dan Dudung untuk Rapat Terbatas, Ada Apa?

Rapat terbatas ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi lintas kementerian yang sebelumnya digelar di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat.

Krisis Air Bersih dan Gagal Panen Mengancam Indonesia, Ini Peringatan BMKG

Tren ini memperparah penyusutan curah hujan tahunan hingga 2–3 persen per dekade, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa, disertai kenaikan muka air laut.

Kapolri Ungkap Keterlibatan Perusahaan Asing dalam Kasus Karhutla, Bidik Tersangka Baru

Langkah tegas ini menjadi sinyal kuat bahwa penegakan hukum kasus karhutla tidak hanya menyasar pelaku di lapangan, melainkan juga menyasar korporasi asing.

Anak Down Syndrome Tewas di Surabaya, Wali Kota Eri Bilang Gini

Ruang aman untuk mendengar cerita, arahan, dan perhatian emosional dinilai jauh lebih krusial agar anak merasa terlindungi di rumah sendiri.

Korban Tewas dalam Kebakaran Bromo Kini jadi Lima Orang, Ini Identitasnya

Gugurnya Munawi menambah daftar panjang pahlawan pemadam karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).