DPRD Jatim Gelar Bimtek, Dorong Informasi Komunikatif Bermanfaat Bagi Masyarakat
- Penulis : Dony Maulana
- | Kamis, 23 Apr 2026 22:32 WIB
selalu.id - Pesatnya arus informasi di ruang digital menuntut seluruh lembaga publik untuk beradaptasi sekaligus menjaga kredibilitas.
Sekretaris DPRD Jawa Timur, Mohammad Ali Kuncoro menegaskan bahwa kecepatan penyampaian informasi tidak boleh mengorbankan akurasi dan kebenaran fakta.
Baca Juga: Jatim Masih jadi Target Jaringan Internasional, DPRD Soroti Lemahnya Pencegahan Narkoba
Itu disampaikan Ali saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang digelar di Hotel Royal Orchid, Kota Batu, Kamis (23/4/2026) malam.
Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas MC, Protokol, Peran Media Serta Konten dalam Mendukung Kegiatan Pimpinan dan Anggota DPRD Jatim”.
"Tantangan komunikasi saat ini bukan lagi soal siapa yang paling cepat menyampaikan informasi, tetapi siapa yang paling tepat dan akurat dalam menyajikan fakta di lapangan. Informasi yang baik adalah yang sesuai kenyataan, jangan hanya mengejar kecepatan tapi mengabaikan ketepatan,” tegasnya.
Ali juga menyoroti maraknya keberadaan homeless media, yaitu kanal atau penyebar informasi yang tidak terikat pada standar dan kode etik jurnalistik, namun aktif memproduksi dan menyebarkan konten ke masyarakat.
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi institusi resmi yang diwajibkan bekerja berdasarkan prinsip akuntabilitas dan kebenaran informasi.
“Saat ini siapa saja bisa menjadi penyebar informasi, namun belum tentu konten yang disampaikan memenuhi kaidah yang benar. Inilah yang harus kita waspadai dan antisipasi dengan meningkatkan kualitas komunikasi lembaga,” jelas dia.
Menurut Ali, bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya yang bertugas di bidang kehumasan, protokol, dan pengelolaan media.
Kegiatan ini juga melibatkan akademisi dan praktisi untuk memperkaya wawasan terkait pengelolaan konten di era digital yang sesuai dengan kebutuhan publik.
“Kami ingin meningkatkan kompetensi, literasi digital, serta kemampuan tim dalam menciptakan konten yang komunikatif, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Baca Juga: Penebangan Hutan Ilegal Picu Risiko Karhutla, Anggota DPRD Jatim Minta Pengawasan Diperketat
Dalam kesempatan tersebut, Sekretariat DPRD Jatim menghadirkan narasumber Gagas Gayuh Aji, yang merupakan Ketua Departemen Komunikasi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga sekaligus praktisi media sosial.
Gagas menilai pengelolaan media sosial lembaga legislatif perlu mengalami transformasi mendasar, tidak hanya sekadar rutinitas mengunggah dokumentasi kegiatan.
Ia mengingat, meskipun jumlah pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai sekitar 143 juta orang, hal itu tidak otomatis membuat konten lembaga pemerintah akan mendapat perhatian publik.
“Permasalahan kita bukan karena jarang memposting, tetapi konten yang dibuat seringkali tidak mampu menarik perhatian hingga audiens mau berhenti sejenak untuk membaca atau menonton. Pola lama yang hanya menampilkan foto kegiatan internal sudah tidak relevan lagi,” kata Gagas.
Ia menekankan bahwa konten yang efektif adalah yang mampu menjawab kebutuhan dan keresahan masyarakat.
Baca Juga: DPRD Jatim Desak Pemprov Susun Kajian Ilmiah Peta Potensi Pendapatan Daerah
“Jangan hanya unggah apa yang kita lakukan, tapi tunjukkan juga apa manfaatnya bagi publik,” jelas Gagas.
Untuk meningkatkan efektivitas komunikasi, Gagas memperkenalkan strategi konten 3E, yaitu Educate (memberikan edukasi), Engage (membangun interaksi dua arah), dan Expose (membuka transparansi proses pembuatan kebijakan).
Selain itu, ia juga mendorong penerapan konsep riding the wave, yakni memanfaatkan momentum isu yang sedang viral untuk disampaikan dengan perspektif kelembagaan yang konstruktif.
Gagas menyarankan agar lembaga menghadirkan figur atau face of institution dalam konten.
Pendekatan yang lebih personal dengan penggunaan bahasa yang ringan dan luwes dinilai lebih efektif dalam membangun kedekatan, serta meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat dibandingkan gaya penyampaian yang kaku dan terlalu formal.
Editor : Zein Muhammad