Harga Pupuk Nonsubsidi Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, DPRD Jatim: Ini Sangat Berbahaya!
- Penulis : Dony Maulana
- | Selasa, 31 Mar 2026 14:16 WIB
selalu.id - Harga pupuk nonsubsidi dan pestisida berbahan baku impor di Jawa Timur melonjak hingga 10–30 persen.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Erjik Bintoro mengungkapkan bahwa kenaikan ini dipicu gangguan rantai pasok global akibat eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan kekuatan sekutu termasuk Amerika Serikat.
Baca Juga: Penebangan Hutan Ilegal Picu Risiko Karhutla, Anggota DPRD Jatim Minta Pengawasan Diperketat
Hal ini berdampak pada biaya logistik dan asuransi kapal laut internasional. Kondisi tersebut disebut sebagai alarm dini bagi sektor pertanian nasional.
"Perang di Timur Tengah bukan hanya isu geopolitik jauh, tapi sudah menyentuh harga input produksi petani dan berpotensi memengaruhi piring nasi masyarakat," jelas Erjik, Selasa (31/3/2026).
Politisi dari fraksi PKB ini mengatakan, lonjakan harga input pertanian berpotensi menciptakan double shock pada ketahanan pangan.
Selain beban biaya produksi yang meningkat tajam, ancaman musim kemarau panjang yang diperkirakan akan terjadi di beberapa wilayah Jawa Timur juga siap menurunkan produktivitas panen.
Baca Juga: DPRD Jatim Desak Pemprov Susun Kajian Ilmiah Peta Potensi Pendapatan Daerah
"Jika tidak segera ditangani, kenaikan biaya produksi akan berdampak pada lonjakan harga beras dan bahan pangan lainnya. Ditambah dengan risiko kekeringan, ini kombinasi yang sangat berbahaya," tegasnya.
DPRD Jatim pun mendesak pemerintah pusat dan provinsi untuk mengambil langkah mitigasi konkret dengan tiga rekomendasi utama: Memastikan ketersediaan dan distribusi pupuk subsidi berjalan lancar agar petani tidak terpaksa membeli produk nonsubsidi yang lebih mahal.
Meningkatkan infrastruktur pendukung pertanian seperti pompa air dan sistem irigasi untuk mengantisipasi kekeringan.
Baca Juga: DPRD Jatim Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Berikut Catatan Penting untuk Pemprov
Kemudian melaksanakan operasi pasar secara proaktif untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di tingkat masyarakat.
"Ketahanan pangan adalah fondasi pertahanan negara. Semua stakeholder harus bersinergi dan bertindak cepat sebelum dampak menjadi lebih luas," tandas Erjik.
Editor : Zein Muhammad