Rabu, 21 Okt 2026 05:55 WIB

DPRD Surabaya Dorong Penerapan Berbasis Alam hingga Dakel Dalam Atasi Banjir

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 26 Mar 2026 16:19 WIB
Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan. (Foto: Ade/selalu.id).
Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan. (Foto: Ade/selalu.id).

selalu.id - Masalah banjir masih menjadi pekerjaan rumah serius di Surabaya. Hingga kini, tercatat sebanyak 138 titik genangan tersebar di berbagai wilayah dengan durasi surut yang relatif lama.

Kondisi ini mendorong Panitia Khusus (Pansus) Pengendalian Banjir DPRD Kota Surabaya mengubah pendekatan penanganan banjir. Tidak lagi sekadar mengandalkan pembangunan drainase, dewan mulai mendorong penerapan solusi berbasis alam.

Baca Juga: Bunda Jelita Surabaya Integrasikan Layanan Ibu dan Bayi Sejak Catin hingga Pascapersalinan

Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan menegaskan bahwa pendekatan konvensional sudah tidak cukup menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan perubahan iklim.

“Selama ini penanganan banjir cenderung fokus pada pembangunan saluran. Padahal debit air saat hujan ekstrem tidak akan tertampung hanya dengan drainase,” jelas Eri, Kamis (26/3/2026).

Ia mengatakan solusi berbasis alam yang dimaksud meliputi pembangunan sumur resapan, kolam retensi, biopori, hingga optimalisasi waduk atau bozem.

Konsep ini mengedepankan prinsip “memanen air” bukan langsung mengalirkannya ke saluran.

Dengan cara tersebut, sebagian air hujan dapat diserap ke tanah atau ditampung sementara, sehingga beban sistem drainase berkurang. Selain itu, langkah ini juga dinilai mampu meningkatkan cadangan air tanah di Surabaya.

Namun, penerapan solusi tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan.

Eri menekankan pentingnya kajian geologis, mengingat kondisi tanah di Surabaya yang beragam.

“Tidak semua wilayah cocok untuk sumur resapan. Kalau dipaksakan di tanah yang sudah jenuh, hasilnya tidak akan optimal,” tegasnya.

Selain itu, DPRD juga menyoroti persoalan klasik yang belum tertangani optimal, yakni sedimentasi saluran.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Perketat Penjualan Minol, Pembeli Wajib Tunjukkan Identitas

Di sejumlah kawasan seperti Simo dan Menur Pumpungan, kapasitas saluran bahkan disebut tinggal 50 persen akibat endapan lumpur yang mengeras.

Politisi PDI Perjuangan ini menilai bahwa kondisi ini menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur baru tidak akan efektif tanpa diimbangi normalisasi saluran lama.

“Banyak saluran di perkampungan sudah puluhan tahun tidak dibersihkan. Mau bangun baru sebanyak apa pun, kalau yang lama tidak dinormalisasi, banjir tetap terjadi,” katanya.

Untuk itu, DPRD mengusulkan agar dana kelurahan (dakel) tidak hanya difokuskan pada pembangunan fisik, tetapi juga dikunci untuk pemeliharaan rutin.

Dana tersebut bisa digunakan untuk pengadaan alat sedot lumpur, pompa portabel, hingga operasional pembersihan saluran di tingkat RW dan RT.

Baca Juga: Finalis Cak Surabaya Ditangkap Polisi, Wali Kota Eri: Gelar Akan Kita Cabut

Dari sisi anggaran, alokasi penanganan banjir pada 2026 diperkirakan tetap berada di kisaran Rp1 triliun, sama seperti tahun sebelumnya. Namun, DPRD mendorong agar 10–20 persen anggaran tersebut dialokasikan khusus untuk solusi berbasis alam dan pemeliharaan.

Dalam Raperda Pengendalian Banjir yang tengah dibahas, keberhasilan program akan diukur melalui tiga indikator utama, yakni durasi genangan, luas wilayah terdampak, dan tinggi genangan.

“Targetnya realistis, bukan menghilangkan genangan sepenuhnya, tapi meminimalkan dampaknya agar aktivitas masyarakat tetap berjalan,” jelasnya.

Selain itu, tinggi sedimen di saluran dan sungai juga akan menjadi indikator evaluasi. Jika melebihi ambang batas, maka pengerukan wajib segera dilakukan oleh dinas terkait maupun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

DPRD menilai, kombinasi antara normalisasi rutin dan penerapan solusi berbasis alam menjadi kunci untuk menekan risiko banjir di tengah tantangan perubahan iklim dan kepadatan permukiman di Surabaya.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Kisah Dua Saudara di Nganjuk Merawat Takdir Gamelan Legendaris di Panggung Dunia

Satu paket gamelan lengkap dibanderol mulai Rp90 juta untuk material besi puncu kuningan, sedangkan untuk material full kuningan mencapai Rp300 juta per paket.

Gegara Sampah, Garasi Rumah dan Mobil di Nganjuk Ludes Terbakar

Atas kejadian ini, pihak Damkar mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, terutama saat kondisi cuaca berangin, apalagi musim kemarau.

Polda Jatim Minta Mahasiswa Kritis dan Objektif Sikapi Isu Daerah

Polda Jatim komitmen untuk terus memelihara komunikasi yang berkesinambungan dengan elemen mahasiswa demi terciptanya stabilitas kamtibmas yang aman dan damai.

Guru SMK Hamil 8 Bulan Tewas Usai Tabrak Minibus di Mojokerto, Ini Namanya

Peristiwa tragis itu terjadi ketika korban sedang perjalanan hendak menuju tempatnya mengabdi sebagai pendidik di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Gelar Razia Simpatik, Petugas Bagi-bagi Helm SNI Buat Pengendara Taat Pajak di Sidoarjo

Ke depan, operasi simpatik dan penagihan dari rumah ke rumah akan terus digencarkan secara bergiliran di sejumlah lokasi strategis di Kabupaten Sidoarjo.

Pemuda Bawa Truk Tronton Tabrak Tiang PJU di Balongbendo Sidoarjo

Atas kejadian ini, korban mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sementara truknya yang terguling dievakuasi petugas.