Selalu.id - Warga Kampung Malang Wetan Surabaya mengeluhkan keluhan tarif Pertamina Gas Negara (PGN) yang tiba-tiba meningkat.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi'i saat melakukan jaring aspirasi atau reses di Kampung Malang Wetan III, pada Selasa (09/05/2023) malam, bahwa warga keluhkan tarif gas naik.
Imam mengatakan bahwa warga Kampung Malang Wetan keberatan terkait tarif PGN yang naik hingga 50 persen dan bahkan tagihan itu tak diimbangi dengan kontrol meteran dari petugas PGN.
"Tentu ini akan kami sampaikan, karena ini wilayahnya beda, bukan wilayahnya Pemerintah Kota Surabaya. Tapi kami menghimbau kepada PGN, sebagai entitas perusahaan BUMN. Agar jangan mengejar laba tinggi, tapi dipentingkan itu fungsi BUMN itu pelayanan yang maksimal kepada warga pelanggan," ungkapnya kepada wartawan usai reses.
Imam menyampaikan, seharusanya ada himbauan untuk mengembalikan kepercayaan dan kepuasan pelanggan PGN. Sebab, sebagian besar pelanggan di Surabaya, berasal dari kampung-kampung saat ini telah beralih ke Liquified Petroleum Gas atau LPG.
Imam menyayangkan kenaikan tarif PGN yang tiba-tiba meningkat drastis, sebab sebelumnya tarif PGN dirasa lebih murah dibandingkan LPG. Ia pun berharap agar gas yang dikuasai oleh negara ini, dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat.
"Seharusnya PGN bisa lebih murah, kalau di Pemkot Surabaya kan, di ibaratkan PDAM lebih murah dibandingkan dengan beli di penjual air tank, harusnya kan begitu," jelasnya.
Sementara itu, Ketua RT RT 07/RW 05, Kelurahan/Kecamatan Tegalsari mengungkapkan masalah tagihan PGN terlalu tinggi sudah terjadi pada empat bulan yang lalu. Ditambah lagi, tak ada petugas PGN yang melakukan pengecekan terhadap meteran gas di tiap rumah pelanggan.
Lebih lanjut Mariyo menjelaskan, dari 267 Kepala Keluarga (KK) di RT-nya, sedikitnya 50 persen telah memutus jaringan gas milik PGN untuk beralih ke LPG. Bahkan dirinya pun memutus jaringan gas yang selama kurang lebih lima tahun berlangganan.
"Sekitar awal tahun ini itu saya ditagih Rp 600.000, padahal biasanya cuma Rp 50.000 saja. Ketika itu langsung saya putus meteran gasnya mas," pungkasnya.(Ade/Adg)
Baca juga: Respon Bencana Banjir Sumatera, PGN Distribusikan Bantuan Logistik
Editor : Ading