selalu.id - Peristiwa kecelakaan saat berarung jeram (rafting) di kawasan wisata Kota Batu menjadi pengalaman tersendiri bagi Ketua Golkar Surabaya, Arif Fathoni. Kerasnya perjuangan melawan sakit dan medan yang terjal saat itu disebutnya sebagai pemberian kesempatan hidup kedua (second chance) oleh Tuhan kepadanya. Berikut penuturannya kepada selalu.id.
Arif Fathoni tidak menyangka liburan keluarga yang seharusnya membawa kegembiraan menjadi tragedi yang cukup menguras adrenalin. Toni, sapaan akrab Arif Fathoni mengajak keluarganya berlibur ke Kota Batu untuk menghabiskan akhir pekan bersama.
Baca juga: Jelang Ramadan, Warga Gununganyar Lor Surabaya Gelar Ziarah Wali 5
Keluarga kecil ini berangkat dari Surabaya pada Jumat (23/12/2022), setelah berkeliling di kota wisata itu, Toni bersama putra sulungnya berencana menaiki wahana wisata alam yang menantang yakni arung jeram keesokan harinya, Sabtu (24/12/2022).
"Dengan hati riang gembira, saya bersama anak sulung Bagas Adiwitya Fathoni (12 tahun) dan seorang guide mulai naik perahu karet menyusuri medan arung jeram di sungai yang airnya keruh karena beberapa jam sebelumnya diguyur hujan deras yang melanda kota wisata Batu," kata Toni mengawali ceritanya.
Toni menyebutkan, saat itu debit air serta arus di sungai meningkat lantaran musim penghujan. Perahu karet yang biasanya ditumpangi oleh 4-6 orang, kala itu hanya diisi tiga orang, yakni dirinya, putra sulungnya serta satu guide.
"Ketika perahu mulai berjalan dengan kemudi dayung yang dilakukan oleh guide, memicu adrenaline kita semua, belokan tajam dengan bebatuan kokoh, dan gemricik air menjadi pandangan keindahan Tuhan YME," kenangnya.
Peristiwa itu terjadi sekitar 5 menit setelah perahu memulai petualangan di deranya sungai. Disebutkan, perahu sempat terhenti lantaran terjepit bebatuan dengan arus yang kuat.
"Baru 5 menit berjalan, dalam sebuah belokan, perahu kami terhenti karena terjepit diantara bebatuan besar. Tak berselang lama air mulai membanjiri perahu, dan seketika perahu yang kami tumpangi terbalik dan kami semua terdorong arus deras bawah air yang begitu kuat memisahkan kita semua," jelas Toni.
Dalam peristiwa ini, naluri seorang ayah, bagi Arif Fathoni diuji. Tanpa mementingkan keselamatannya, Toni menyelam kedalam air yang menurutnya saat itu dalam dan mengangkat putra sulungnya agar tidak tenggelam dan terseret air. Dalam kondisi inilah, Toni terseret arus hingga terbentur bebatuan. Tanpa memperdulikan rasa sakitnya, Toni tetap mengangkat putra sulungnya agar tetap berada di permukaan air.
"Ayah tolong, kata jagoanku ketika perahu mulai terbalik, seketika saya menyelam masuk air untuk mendorong putra sulung kami naik di atas air agar tidak tenggelam dan meminum air yang cukup keruh tersebut.Ketika mencoba masuk kedalam tersebut, arus didalam air cukup besar sehingga tidak terasa punggung belakang kanan terbentur batu sungai beberapa kali.Dan akhirnya kami semua bisa berangkulan didorong arus untuk menepi dibibir sungai," kenangnya.
Ujian belum berakhir, setelah melewati ketegangan terseret arus sungai dan berhasil menepi, barulah Toni merasakan sakit yang luar biasa di dada sebelah kanan yang mengakibatkan sesak nafas hebat. Medan terjal ditambah tidak adanya fasilitas pertolingan yang memadai di wahana tersebut, membuat Toni harus berjuang menaiki tebing sembari menahan rasa sakit dan sesak nafas agar dapat ke titik penyelamatan yang bisa dilalui oleh kendaraan.
"Setelah istirahat kurang lebih beberapa menit akhirnya kami melanjutkan perjalanan naik perahu, beberapa medan curam sudah berhasil kita lalui, namun nafas mulai terasa sesak, setiap kali terjadi goncangan nafas semakin tersengal sengal, sehingga saya bilang ke guide untuk menepi terlebih dahulu karena saya kesulitan bernafas," bebernya.
Baca juga: Pemkot Surabaya Anggarkan Rp 5 Juta per RW, Arif Fathoni: Investasi SDM untuk Tangkal Hoaks
"Akhirnya saya buka baju pelampung dan kaos yang saya pakai, dan saya meminta tolong kepada guide untuk melihat punggung saya apa ada luka,ternyata punggung saya memar, dan lecet-lecet.Guide menyarankan saya istirahat terlentang, namun begitu saya terlentang rasa sakit didada semakin menjadi-jadi," imbuhnya.
"Saya bertanya sama guide, masih berapa lama sampai ke titik rest area terdekat, Guide menjawab butuh waktu paling cepat satu jam, itupun harus melewati 2 tikungan curam, kalau harus jalan kaki ke tempat yang bisa minta bantuan, Guide menjawab jalan kaki menanjak sekitar 100 meter baru bisa ke lokasi persawahan warga, setelah berpikir sejenak akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan menggunakan perahu dan berjalan kaki menanjak ke atas agar segera dapat pertolongan, karena nafas hanya bisa sampai leher," kata Toni mengambil keputusan tepat saat itu.
Dalam kondisi tersebut, menurut Toni adalah ujian antara menahan rasa sakit dan sesak, sekaligus menenangkan putra sulungnya, serta mencari jalan secepatnya untuk dapat ke rumah sakit terdekat.
"Meskipun sakit dan sesak, saat itu saya berfikir untuk tetap tenang dan meninggalkan rasa panik yang tidak perlu dan fokus untuk sampai ke atas. Intinya saya tidak boleh pingsan," jelasnya
"Kita terus menanjak keatas dengan tanah yang begitu licin, berpegangan pada setiap tumbuhan dan pepohonan yang kuat untuk dipegang, jika letih sesekali istirahat untuk mengambil nafas. Hingga akhirnya setelah melalui proses perjalanan yang berat kita sampai di area pertanian warga, menunggu bantuan mobil pikap datang untuk mengantarkan saya ke Rumah sakit atas puskesmas terdekat karena nafas sudah semakin susah," imbuhnya.
Baca juga: Lindungi Predikat Kota Layak Anak, DPRD Surabaya Desak Izin Black Owl Dicabut
Beruntung politisi muda ini berhasil naik dan langsung dilarikan ke rumah sakit, lantaran kondisinya sudah kian memburuk.
"Masih ada cerita lain tentang keikhlasan karyawan Arum Manis yang secara sukarela mengantarkan kami dari Rumah Sakit ke Rumah Sakit yang lain karena saturasi saya hanya 82, dan perjuangan teman-teman Golkar Kota Batu membantu proses masuknya saya ke RS Karsa Utama Batu," tambahnya.
Toni didiagnosa mengalami keretakan tulang rusuk yang membuat pendarahan di paru-paru. Hal inilah yang menyebabkan sesak nafas dan harus dilakukan tindakan mengeluarkan cairan darah agar tidak menyumbat paru-paru.
"Peristiwa ini cukup memberi pelajaran bagi saya, anak sulung saya dan semuanya. Dengan perjalanan itu, Saya merasa diberikan kesempatan hidup kedua oleh Allah untuk lebih bermanfaat lagi kepada keluarga dan masyarakat sesuai dengan posisi saya saat ini," pungkasnya.
Sebenarnya banyak kisah yang dialami Toni setelah peristiwa tersebut. Mulai pertemuan dengan pemilik wahana rafting serta penanganan di RSU dr Soetomo Surabaya yang disebutnya perlu ada perbaikan.
"Nanti saya ceritakan selanjutnya," tutup Toni. (SL1)
Editor : Redaksi