selalu.id - Lomba Kampung Pancasila di Kota Surabaya tidak hanya menilai kebersihan lingkungan atau kegiatan gotong royong warga.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan empat pilar penilaian yang mencakup aspek lingkungan, ekonomi, sosial budaya, serta kemasyarakatan.
Baca juga: Pemkot Surabaya Gelar Lomba Kampung Pancasila, Ini Syarat dan Kriteria Penilaiannya
Empat pilar tersebut memiliki bobot berbeda. Pilar lingkungan dan ekonomi menjadi aspek dengan bobot terbesar, masing-masing 35 persen.
Sementara pilar sosial budaya dan kemasyarakatan masing-masing berbobot 15 persen.
Koordinator penilaian, Maria, mengatakan pembagian bobot tersebut menjadi dasar dalam menentukan kampung yang dinilai memenuhi berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.
"Jadi indikator penilaian kita ada empat pilar. Pilar lingkungan, pilar ekonomi, pilar sosial budaya, dan pilar kemasyarakatan. Masing-masing ada bobot persentase," papar Maria, Kamis (17/9/2026).
Pada pilar lingkungan, terdapat delapan indikator yang menjadi dasar penilaian. Di antaranya partisipasi warga dalam memilah sampah, keberadaan bank sampah, frekuensi kerja bakti, penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga upaya pemberantasan jentik nyamuk.
Sementara pilar ekonomi memiliki sembilan indikator. Penilaiannya tidak hanya melihat aktivitas ekonomi warga, tetapi juga kemandirian ekonomi serta kepedulian antarwarga.
Salah satunya adalah bagaimana warga yang mampu membantu tetangga yang membutuhkan, termasuk mendukung warga kurang mampu dalam mengakses pendidikan.
Aktivitas kewirausahaan yang dilakukan generasi muda juga menjadi bagian dari penilaian.
"Banyak anak-anak muda kita sekarang ini luar biasa dalam kehidupan ekonominya. Mereka itu betul-betul memiliki kemandirian ekonomi yang ingin kita nilai dan kita beri penghargaan di situ," ujar Maria.
Sedangkan pilar kemasyarakatan menitikberatkan pada keterlibatan warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan.
Baca juga: Pemkot Surabaya Akselerasi Kampung Pancasila, Libatkan 12 Ribu ASN hingga Pemuda
Beberapa indikator yang diperhatikan antara lain penerapan pembatasan jam malam bagi anak-anak, keberadaan sistem keamanan lingkungan (siskamling), hingga kondisi keamanan di wilayah masing-masing.
"Jadi di situ kita uji bagaimana guyub-rukunnya orang kampung dalam menjaga lingkungan melalui Siskamling," jelas Maria.
Adapun pilar sosial budaya memiliki delapan indikator. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah upaya kampung dalam menangani sekaligus mencegah stunting.
Menurut Maria, status zero stunting tidak berarti upaya pencegahan dapat dihentikan. Kampung tetap harus memastikan kondisi tersebut dipertahankan, termasuk dengan memberikan perhatian kepada ibu hamil.
"Di RW itu sudah zero stunting, berarti yang diperhatikan adalah mengenai ibu hamilnya. Jangan sampai ibu hamil nanti melahirkan anak yang stunting," katanya.
Untuk menjaga objektivitas penilaian, Pemkot Surabaya melibatkan sejumlah unsur di luar pemerintahan sebagai tim penilai.
Baca juga: Kampung Pancasila Surabaya Diresmikan, Jawaban dalam Hadapi Arus Globalisasi
Maria menyebut akademisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Airlangga (Unair) ikut dilibatkan dalam proses tersebut.
"Untuk lomba kampung Pancasila ini tim penilai salah satunya berasal dari akademisi," ungkapnya.
Selain akademisi, tim penilai juga melibatkan komunitas lingkungan, komunitas pemerhati ekonomi, hingga unsur pemuda. Unsur PKK juga masuk dalam tim penilaian di bawah koordinasi Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani.
Dengan komposisi tersebut, penilaian Kampung Pancasila tidak hanya bertumpu pada kondisi fisik kampung.
Kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, keamanan lingkungan, hingga keberlanjutan program kesehatan warga turut menjadi bagian yang menentukan.
Editor : Zein Muhammad