selalu.id - Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang signifikan melanda Kota Surabaya sepanjang periode Agustus 2026.
Data mencatatkan angka kasus mencapai 40.539, melonjak hingga 63,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca juga: Diduga Ditemukan Larva di Dalam Jeruk MBG, Dinkes Surabaya Soroti SLHS SPPG
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi D DPRD Surabaya, dr. Michael Leksodimulyo. Ia mengingatkan para orang tua agar tak gegabah menganggap setiap gejala demam pada anak semata-mata sebagai influenza.
Menurutnya, gejala demam tinggi tanpa batuk atau pilek justru menyimpan potensi ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD).
"Kalau dia sudah lemes, panas tinggi, belum tentu ada batuk, belum tentu ada pilek, tapi dia tahu-tahu anak ini sama sekali mau bangun aja susah. Artinya apa? Arahnya ke demam berdarah," tegas Michael, Selasa (15/9/2026).
Ia menekankan pentingnya kepastian medis melalui pemeriksaan sampel darah di faskes terdekat. Langkah ini untuk mengukur kadar trombosit secara akurat.
Baca juga: PGN Tebar Edukasi Energi Murah dan Aman untuk Warga Surabaya Lewat City Gas Tour 2026
"Dibuktikan dulu. Kemudian sampai di Puskesmas kalau memang hasilnya trombositnya itu kurang, itu sudah cukup. Panas yang tinggi dengan adanya trombosit yang kurang, maka itu masuk di dalam kriteria BPJS ke rumah sakit," jelas Michael.
Peningkatan kunjungan pasien ISPA yang didominasi kelompok anak-anak juga tercatat di RS PHC Surabaya. Sebelumnya, tingkat kunjungan berada di kisaran 38 persen, lalu melonjak naik 22 persen, hingga kembali merangkak naik sekitar 20 hingga 30 persen pada pertengahan September.
Terkait isu maraknya strain Influenza A, Michael meluruskan bahwa vonis tersebut tidak bisa diputuskan sembarangan tanpa lewat mekanisme uji usap (swab).
"Kalau kita bicara mengenai virus Influenza A, harus dilakukan swab. Kalau dilakukan swab kemudian keluar H1N1 pdm09 positif, yang bersangkutan diisolasi," katanya.
Baca juga: DPRD Surabaya Minta Indikator Diperjelas Sebelum Bendera Hitam di Kampung Pancasila
Guna menekan potensi lonjakan kasus yang lebih luas, pihak legislatif mendorong pergerakan masif dari tingkat bawah.
Kader Kesehatan Surabaya (KSH) maupun kader Posyandu diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam mendeteksi warga yang mengalami gejala di lingkungannya.
"Kalau mereka tahu bahwa ada sekitar yang ada di warga. 'Anakku loh panas tinggi' waktu dibeli di pasar, maka KSH atau kader Posyandu ini wajib untuk melaporkan ke Puskesmas. Kalau kita cinta kota kita, kita akan melakukan tracing atau jemput bola itu sejak dini, sekarang," pungkas Michael.
Editor : Zein Muhammad