selalu.id – Malam tasyakuran Agustusan biasanya sederhana. Warga berkumpul, berdoa bersama, berbincang, lalu menikmati hidangan yang disiapkan secara gotong royong.
Namun, bagi pemuda-pemudi di RW 008 Barata Jaya, Surabaya, momen tersebut tak berhenti sebagai rutinitas tahunan. Di tengah suasana syukuran kemerdekaan, muncul pula obrolan tentang persoalan yang masih dekat dengan kehidupan warga.
Baca juga: Malam Tasyakuran di Petrang Jember Diwarnai Saling Suap Tumpeng
Mulai dari pendidikan anak, kondisi ekonomi keluarga, warga lanjut usia yang kesulitan mengakses layanan digital, hingga pentingnya pemerintah turun langsung melihat kondisi kampung.
Sekretaris Karang Taruna RW 008 Barata Jaya, Celline Xenia, mengatakan malam tasyakuran menjadi momentum untuk mensyukuri kemerdekaan sekaligus mengingat kembali peran generasi saat ini dalam mengisi kemerdekaan.
“Ya, malam tasyakuran ini momen sakral bagi kita semua. Bukan sekadar rutinitas tahunan, acara ini wujud rasa syukur kita atas kemerdekaan yang telah diraih dengan tumpah darah para pahlawan,” kata Celline kepada selalu.id, usai tasyakuran Agustusan, Minggu (16/8/2026) malam.
Menurutnya, menjaga kemerdekaan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan sesama warga juga menjadi bagian dari cara anak muda mengisi kemerdekaan.
“Tugas kita sekarang adalah menjaga kemerdekaan tersebut, yang bisa kita mulai dari lingkungan terkecil kita, yaitu kampung ini. Selain itu acara ini bisa menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara warga kampung,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Celline adalah pendidikan anak-anak di kampung.
Ia sebelumnya menyoroti kendala yang dirasakan warga ketika anak memasuki jenjang SMP hingga SMA, terutama berkaitan dengan pilihan sekolah dan jarak.
Namun, menurut Celline, persoalan pendidikan tidak bisa dilihat hanya dari sisi ketersediaan sekolah atau jarak. Kondisi ekonomi dan lingkungan keluarga juga memiliki pengaruh besar.
“Ini jelas ada karena faktor ekonomi. Kalau soal jarak harusnya tidak seberapa, karena sudah banyak sekolah yang ada di sekitar kita. Faktor lingkungan yang jadi utamanya, apalagi keluarga,” ungkapnya.
Ia melihat masih ada keluarga yang membutuhkan lebih banyak sosialisasi dan pendampingan dalam mengarahkan pendidikan anak.
“Kurang sosialisasi, kurang arahan, jadi mereka tidak tahu mau mengarahkan seperti apa dan bagaimana kepada anaknya itu sendiri. Ini kalau saya lihat dari kasus yang ada di kampung saya,” imbuhnya.
Karena itu, ia berharap perhatian terhadap pendidikan tidak hanya berhenti pada penyediaan sekolah, tetapi juga menyentuh keluarga. Orang tua perlu mendapatkan informasi dan pendampingan agar bisa membantu anak menentukan pilihan pendidikan yang sesuai.
Di sisi lain, Celline juga berharap jumlah sekolah negeri, khususnya jenjang SMP dan SMA, bisa terus diperhatikan.
“SMAnya ditambah, soalnya SD-nya saja banyak, SMP-SMA negerinya masih sedikit,” katanya.
Persoalan lain yang ditemui di kampung Barata Jaya, ungkap Celline adalah akses warga terhadap layanan pemerintah yang kini semakin banyak dilakukan secara digital.
Baca juga: Hadapi Tantangan Zaman, Pemuda Pakis Gang 2 Surabaya Siap Jadi Tuan dan Nyonya di Rumah Sendiri
Celline mengatakan masih ada warga lanjut usia maupun keluarga kurang mampu yang belum terbiasa menggunakan teknologi. Kondisi itu membuat mereka kesulitan ketika harus mengakses bantuan atau program pemerintah melalui aplikasi maupun layanan online.
“Banyak warga sepuh atau kurang mampu dan juga gaptek, sehingga kesulitan mengakses bantuan atau program Pemkot Surabaya yang mayoritas kini berbasis aplikasi atau online,” jelasnya.
Karang Taruna pun mencoba mengambil peran sebagai penghubung. Para pemuda membantu warga yang mengalami kesulitan mengakses berbagai program pemerintah.
Bagi Celline, bantuan sederhana seperti mengajari atau mendampingi warga menggunakan layanan digital bisa sangat berarti. Sebab, jangan sampai warga yang sebenarnya membutuhkan justru tertinggal hanya karena tidak mampu mengakses teknologi.
Tak hanya mendampingi warga, Karang Taruna RW 008 juga berusaha hadir untuk anak-anak melalui program Sinau Bareng.
Kegiatan itu menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar bersama, termasuk membantu mereka ketika mengalami kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah.
Dari berbagai persoalan yang ditemui, Celline berharap pemerintah bisa lebih sering datang langsung ke kampung-kampung.
Menurutnya, pemerintah perlu melihat kondisi warga secara nyata, bukan hanya mengandalkan data administratif.
“Harapannya dari pihak pemerintahan bisa terjun langsung ke tiap kampung untuk melihat kondisi langsung di lapangan dan mendata ulang lebih detail atas kondisi dan ekonomi warganya,” tuturnya.
Lebih lanjut menurut Celline, sosialisasi bisa dilakukan lebih aktif hingga mendatangi warga secara langsung jika diperlukan.
“Jadi mungkin dari pemerintah lebih banyak lagi untuk membuat program sosialisasi atau bahkan door to door kalau perlu, untuk memastikan kondisi yang ada di kampung Surabaya ini. Gunanya untuk meningkatkan kesejahteraan setiap warga yang ada di Surabaya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya akurasi data di tingkat lingkungan. Menurutnya, data yang tidak diperbarui atau kurang detail bisa membuat program pemerintah tidak sepenuhnya tepat sasaran.
“Dirasa sekarang dari pihak RT/RW masih kurang berpartisipasi untuk terjun langsung di lapangan kepada warganya, atau bahkan data yang disampaikan ke pihak jajaran pemerintahan kurang akurat dan terorganisir secara tepat sasaran,” katanya.
Bagi Celline, tasyakuran kemerdekaan akhirnya bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan.
Ada pekerjaan yang lebih dekat dan bisa dilakukan setiap hari, memastikan anak-anak tetap punya kesempatan belajar, membantu warga yang kesulitan mengakses layanan pemerintah, serta memastikan tetangga yang membutuhkan tidak luput dari perhatian.
Dari lingkungan kecil seperti kampung, menurutnya, semangat mengisi kemerdekaan justru bisa terasa paling nyata.
Editor : Redaksi