selalu.id - Rever Academy memamerkan portofolio hidup karya sepuluh perias masa depan. Tangan-tangan anak muda kreatif itu terlihat dalam ajang Live on Etalase yang digelar di Jalan Tumapel nomor 8 Surabaya, Kamis (4/6/2026).
"Istilah etalase dalam acara ini mengalami pergeseran makna. Alih-alih memajang benda mati, kami justru menyajikan proses kehidupan, ledakan kreativitas, serta manifesto seni visual dari para siswi melalui tata rambut dan riasan wajah," kata Art Director Rever Academy, Marina Adia di sela acara.
Baca juga: Tepis Isu Bubar, MS Glow Luncurkan Dua Produk Baru
Marina menegaskan bahwa pihaknya tidak membatasi usia untuk belajar. Tujuan utamanya yakni melahirkan talenta muda yang punya ciri khas kuat, bukan sekadar menjadi pengikut arus.
"Keterikatan emosional menjadi pembeda utama pada karya generasi baru ini. Sebagian besar portofolio yang tampil merupakan kristalisasi dari pengalaman hidup, gejolak kepribadian, hingga fase transformasi para kreatornya," paparnya.
Dalam seni, kata Marina, tidak ada sekat benar atau salah. Esensinya ada pada pesan, tujuan, dan nilai yang ingin ditiupkan ke dalam karya tersebut.
Dalam karya kali ini, sebanyak sepuluh perias masa depan membagi panggung ke dalam dua kategori besar: tata rias profesional (Pro. Make-up Artistry) dan desain rambut profesional (Pro. Hairdesign).
Pada kategori riasan wajah, gaya pengantin modern mendominasi dengan pendekatan visual yang bersih namun mewah.
Evangeline Santoso lewat tema Modern Gorgeous Bride membuktikan bahwa kecantikan alami bisa dinaikkan kelasnya menjadi glamor tanpa harus terlihat tebal.
Pendekatan serupa diperluas oleh Genevieve Elleonora Yohans melalui konsep Sparkling Glam, yang menyatukan gradasi perak dan emas untuk memancarkan rasa percaya diri perempuan modern.
Lompatan teknik yang lebih berani tampak pada portofolio Irma Maulana Wulandari bertajuk Glimpse of Silver Dust.
Irma mengeksplorasi riasan mata bersudut tajam dengan paduan eyeliner menyerupai sayap kupu-kupu dan hiasan kristal menyerupai tetesan air mata.
Sementara itu, Ledy Sesilia Limber dalam The Sculpted Bride dan Novita Maulana lewat The Golden Ratio Glow memilih bermain pada kekuatan koreksi anatomi wajah demi menghasilkan dimensi wajah yang proporsional dan bercahaya.
Beralih ke kategori desain rambut, panggung berubah menjadi ruang pameran seni instalasi yang radikal lewat kategori Avant-Garde Hairstyling dan Hair Cutting & Color.
Kresensia Carmenita Nadine memukau pengunjung lewat ornamen rambut menyerupai tanduk tinggi dipadukan dengan masker misterius berselimut warna biru futuristik dalam tema Elegance Behind Imperfection.
Inspirasi alam bebas juga tertuang kuat dalam karya Margaretha Johanna yang bertajuk Whisper Of The Ocean.
Baca juga: Begini Tips Kecantikan Ala Istri Mantan Wagub Jatim Arumi Bachsin Agar Tampil Glowing
Margaretha memotong rambut modelnya dengan gaya bob rata menyerupai ubur-ubur, lengkap dengan poni pastel yang menangkap refleksi cahaya laut.
Di sisi lain, Sri Wahyuni menyuguhkan kemegahan mahkota berbahan anyaman rambut bertema Celestial Woven Crown, sebuah karya yang menggabungkan potongan asimetris ekstrem dengan warna milk tea.
Proses metamorfosis kehidupan menjadi sajian penutup yang emosional. Stefani D. Antolis menerjemahkan siklus kepompong menjadi kupu-kupu lewat sanggul organik berwarna merah muda dan hijau lembut.
Terakhir, Thesalonica Rajagukguk menyita perhatian lewat konsep Rising From The Ashes. Desain rambut bertekstur tajam, berlapis messy, serta poni menyerupai baju besi ini menggunakan warna jingga api dan hitam pekat, melambangkan keberanian untuk bangkit dari kehancuran.
Berdasarkan seluruh karya yang lahir dari panggung Rever Academy, Marina membocorkan arah gaya hidup dan kecantikan yang akan mendominasi sepanjang tahun 2026. Pendekatan massal dipastikan mulai ditinggalkan.
"Kunci tahun 2026 ada pada kata personalized dan iconic. Penata rambut harus jeli membaca rutinitas harian dan kepribadian klien. Orang yang aktif berolahraga tidak boleh dibebani dengan potongan rambut yang menyulitkan ruang geraknya. Kesederhanaan yang punya satu detail kuat sebagai pernyataan karakter akan menjadi pilihan utama," terangnya.
Untuk urusan pewarnaan rambut, Marina menegaskan kiblat mode akan berakar pada identitas masyarakat Asia.
Baca juga: Bahas Perawatan Kulit, Eons Skinlab Gandeng Artis Edric Tjandra dan Penyanyi Amelia Lin
Warna dasar gelap seperti hitam pekat dan cokelat tua tetap kokoh di puncak popularitas karena alasan kemudahan perawatan dan kesesuaian pigmen alami tubuh.
Meski demikian, ruang kreativitas tetap terbuka lebar melalui permainan helaian warna kontras (highlight).
Tren ke depan mengarah pada kombinasi transisi warna yang lembut dan elegan, seperti perak yang berpadu tipis dengan emas, atau semburat biru muda sebagai aksen.
"Penempatan warna tidak lagi acak atau merata di seluruh kepala. Cukup letakkan di area poni atau sisi tertentu untuk memberi kejutan visual. Transisinya harus mengalir halus tanpa garis pembatas yang kaku. Dan yang paling krusial, teknik pewarnaan modern wajib menghindari munculnya bias warna oranye yang merusak estetika rambut," jelas Marina.
Rever Academy Surabaya adalah akademi dan pusat pelatihan tata rias (makeup) serta penataan rambut (hairdressing) profesional bertaraf internasional di Surabaya.
Akademi ini memadukan teknik kecantikan standar Eropa dan Asia untuk mencetak para profesional di industri kecantikan.
Editor : Arif Ardianto