Perbedaan Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting Menurut Ahli Gizi Unair

Reporter : Ade Resty
Ilustrasi buka puasa. (Dok. Freepik).

selalu.id - Di tengah tren intermittent fasting yang populer untuk menurunkan berat badan, ahli gizi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menegaskan bahwa pola tersebut berbeda secara mendasar dengan puasa Ramadan.

Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi menjelaskan perbedaan utama keduanya terletak pada tujuan pelaksanaan.

Baca juga: Mengintip Momen Buka Puasa Sambil Sedekah di Grand Swiss-Belhotel Darmo Surabaya

“Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” ujarnya, Jumat (20/8/2026).

Secara konsep, keduanya sama-sama menerapkan pengaturan waktu makan atau time-restricted eating. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam dari sahur hingga berbuka, tanpa makan maupun minum.

Sementara itu, intermittent fasting memiliki variasi pola. Metode paling populer adalah 16:8, yakni 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan. Ada pula pola 5:2, eat stop eat, hingga one meal a day.

Menurut Mahmud, perbedaan lain terletak pada aturan konsumsi cairan. Dalam puasa Ramadan, tidak diperbolehkan makan dan minum sama sekali selama waktu puasa.

Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori.

Dari sudut pandang ilmu gizi, ia menekankan pentingnya menjaga asupan yang beragam dan seimbang selama Ramadan.

Tubuh membutuhkan waktu 3–6 jam untuk mencerna makanan dan memiliki ritme biologis alami dalam mengatur metabolisme.

Karbohidrat yang tidak langsung digunakan akan disimpan sebagai glikogen. Saat tubuh kekurangan asupan, cadangan tersebut dipecah kembali menjadi glukosa sebagai sumber energi.

Baca juga: Rekomendasi Wisata Kuliner Semarang, Pas Banget untuk Buka Puasa Bersama Keluarga 

“Puasa, baik Ramadan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” jelas Mahmud.

Namun ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan kebutuhan energi minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR).

Jika asupan kalori terlalu rendah dalam jangka panjang, tubuh bisa mengalami defisit energi dan berisiko kehilangan massa otot.

Mahmud menyarankan pengurangan kalori dilakukan bertahap, sekitar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.

Memasuki Ramadan, Mahmud juga mengingatkan agar masyarakat tidak membalas rasa lapar dengan makan berlebihan saat berbuka.

Baca juga: Daftar Menu Buka Puasa Rendah Kalori, Cocok Bagi yang Lagi Diet

“Jangan sampai setelah berbuka justru makan dalam jumlah besar sekaligus. Tubuh bisa terbebani,” katanya.

Mahmud menyarankan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta selingan sehat bila diperlukan. Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus dipenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur.

Konsumsi sayur dan buah tinggi serat juga dianjurkan untuk membantu rasa kenyang lebih lama serta menjaga kestabilan energi selama berpuasa.

“Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” pungkas dia.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru