selalu.id – Polda Jawa Timur terus memfokuskan upaya pada penyelamatan dan evakuasi korban runtuhnya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Personel dari berbagai satuan kerja, termasuk Biddokkes, Brimob, Samapta, dan satuan lainnya, diterjunkan untuk membantu penanganan musibah ini.
Baca juga: Usai Tragedi Tewaskan 63 Santri, Ponpes Al-Khoziny Kembali Aktifkan Kegiatan Belajar
Untuk memastikan evakuasi berjalan aman dan efektif, Polda Jatim menggandeng pakar konstruksi bangunan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Keterlibatan ahli ini bertujuan meminimalkan risiko bagi korban maupun petugas SAR gabungan yang berada di dalam reruntuhan.
Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto meninjau langsung lokasi reruntuhan dan menegaskan prioritas utama adalah penyelamatan korban. "Saya pastikan dulu untuk penyelamatan korban. Itu kita fokuskan dulu, karena masih ada beberapa korban yang perlu dievakuasi," ujar Irjen Nanang.
Baca juga: Polda Jatim Tutup Operasi DVI, 63 Korban Ponpes Ambruk di Sidoarjo Teridentifikasi
Tim Inafis Polda Jatim bersama petugas gabungan bertindak hati-hati karena bangunan musala masih berpotensi mengalami goncangan susulan. "Kita lihat kondisinya, dan ini harus dipastikan oleh ahlinya dari ITS. Jangan sampai membahayakan petugas yang akan melakukan evakuasi," ungkap Irjen Nanang.
Dua ekskavator yang disiagakan sejak Senin (29/9) malam belum difungsikan karena getarannya dikhawatirkan memicu goncangan yang dapat meruntuhkan puing bangunan.
Baca juga: Kapolda Jatim: Pemda Fasilitasi Kelanjutan Belajar Santri Al-Khoziny
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast menambahkan, Polda Jatim bersama tim SAR gabungan menggunakan alat khusus yang lebih memungkinkan untuk melakukan penyelamatan. "Saat ini fokus pada evakuasi dan penyelamatan korban, termasuk personel yang kita libatkan untuk menangani musibah ini," kata Kombes Abast.
Editor : Ading