selalu.id – Program Kampung Pancasila yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menuai kritik dari DPRD. Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menilai program tersebut dijalankan tanpa perencanaan matang dan kajian lapangan yang memadai.
Baca juga: Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin
“Tapi seyogyanya, kalau ingin bikin program kemasyarakatan, lakukan kajian dulu, bikin simulasi. Jangan hanya berorientasi pada hasil, tapi juga kendala dan tantangannya,” kata politisi Gerindra yang akrab disapa Cak Yebe, Sabtu (13/9/2025).
Menurutnya, hampir semua program Wali Kota Surabaya selama ini tidak pernah melibatkan DPRD, bahkan sekadar diajak berdiskusi. Padahal, seharusnya program strategis butuh pembahasan bersama sebelum digulirkan serentak.
“Yang unik, hampir semua program wali kota ini tidak pernah melibatkan DPRD. Program tiba-tiba langsung dirunning se-Surabaya,” ujarnya.
Cak Yebe juga menyoroti mekanisme pelaksanaan Kampung Pancasila yang membagi tanggung jawab tiap kecamatan ke organisasi perangkat daerah (OPD). Menurutnya, hal ini justru menimbulkan ketimpangan karena kemampuan anggaran OPD berbeda-beda.
“Kalau OPD anggarannya besar, mereka bisa jor-joran. Tapi kalau OPD kecil, bagaimana? Itu yang jadi masalah,” tegasnya.
Baca juga: Jelang HUT ke-18, Gerindra Surabaya Gelar Cek Kesehatan Gratis pada Lansia
Ia menyarankan agar Pemkot lebih dulu memberikan pembekalan intensif kepada lurah dan camat sebelum program dijalankan. Dengan metode Training of Trainer (ToT), pesan yang diusung bisa diteruskan secara berjenjang hingga ke tingkat RT, RW, Dawis, KSH, hingga Karang Taruna.
“Kalau 153 lurah dan 31 camat diberi pembekalan ToT secara intensif, mereka bisa menyalurkan ke jajarannya, lalu ke masyarakat bawah,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mendorong adanya proyek percontohan sebagai model keberhasilan.
Baca juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin
“Lebih baik ada pilot project. Misalnya satu kelurahan per zona dijadikan contoh,” tambahnya.
Cak Yebe menekankan tujuan utama Kampung Pancasila harus berfokus pada penguatan kultur, terutama generasi muda Surabaya. Jika program ini gagal, ia menyarankan agar Pemkot menyiapkan konsep baru yang lebih dekat dengan kearifan lokal.
“Kampung Pancasila nek sampe gak sukses, yo bikin maneh kampung dengan istilah baru yang mengusung kearifan lokal. Tujuannya memperkuat kultur supaya tumbuh fanatisme emosional arek Suroboyo,” pungkasnya.
Editor : Ading