Selasa, 20 Okt 2026 22:30 WIB

Tak Mengalir Sampai Gus Muhdlor, Achmad Masruri Diduga Gunakan Uang untuk Kepentingan Pribadi

Suasana sidang
Suasana sidang

selalu.id - Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan 8 saksi di sidang lanjutan dugaan korupsi pemotongan dana insentif Badan Pelayanan Pajak Daerah (BPPD) Sidoarjo dengan terdakwa mantan bupati Ahmad Muhdlor Ali (Gus Muhdlor). Salah satu saksi yang memberikan keterangan di persidangan itu adalah sopir Gus Muhdlor, Achmad Masruri

Masruri dicecar sejumlah pertanyaan oleh JPU untuk mengkonfrontir kesaksian Siska Wati dalam persidangan sebelumnya. Siska Wati pernah bersaksi bahwa Achmad Masruri menghubungi dirinya. Tujuannya, untuk menindaklanjuti permintaan uang yang akan digunakan untuk membiayai operasional staf di pendopo Kabupaten Sidoarjo.

Baca Juga: Gelar Razia Simpatik, Petugas Bagi-bagi Helm SNI Buat Pengendara Taat Pajak di Sidoarjo

Masruri mengakui, dirinya kemudian berkomunikasi dengan Siska Wati terkait kebutuhan biaya operasional itu. Tapi, Masruri tidak menyebutkan nominalnya. Siska Wati yang inisiatif memberi sebesar Rp 50 juta. Namun, Masruri tak pernah menerima uang sebesar itu.

Sepanjang 2022, Masruri mengaku menerima uang dari Siska sebanyak Rp 15 juta selama tiga kali. Lalu pada 2023 dia menerima Rp 20 juta yang diserahkan Siska dan suaminya, Kabag Pembangunan Setda Sidoarjo Agus Sugiarto, di mobil pribadi mereka. "Uang ditaruh di goody bag. Diletakkan di bangku tengah mobil Fortuner. Sedangkan Siska dan Agus duduk di depan," tambahnya.

Uang tersebut, berdasarkan keterangan Siska Wati dalam persidangan lainnya, dia ambilkan dari uang “sedekah”, yakni uang yang dikumpulkan dari pemotongan insentif pajak para pegawai BPPD. Namun, alih-alih digunakan untuk operasional kegiatan Bupati Sidoarjo, Masruri menggunakannya untuk kepentingan dirinya sendiri.

"Uang itu saya belikan sembako untuk saya bagikan ke tetangga-tetangga. Tetangga tak mampu, janda, dan lain-lain. Saya (juga) berikan uang untuk ponakan-ponakan," lanjutnya.

Baca Juga: Pemuda Bawa Truk Tronton Tabrak Tiang PJU di Balongbendo Sidoarjo

JPU juga sempat mempertanyakan soal uang Rp 27 juta yang dibayarkan oleh mantan Kepala BPPD Sidoarjo Ari Suryono. Ari sempat menyebut di persidangan bahwa uang itu dipakai untuk membereskan barang-barang Gus Muhdlor dari Maroko yang tertahan di bea cukai. Padahal, Gus Muhdlor sudah memberikan Rp 30 juta kepada Masruri untuk membayarnya.

"Jadi duit terdakwa Rp 30 juta itu masih ada pada Anda?" tanya Jaksa Andre Lesmana.

"Sudah habis pak. Ya, saya buat beli sembako untuk dibagi-bagikan ke tetangga," jawabnya.

Baca Juga: Raker Pusat Studi UMSIDA: Buka Peluang Kolaborasi Global

Masruri menjawab bahwa dirinya tidak pernah bilang kepada Gus Muhdlor bahwa Ari Suryono telah membereskan permasalahan tersebut dengan membayarnya ke Bea Cukai. Dalam sidang, Ari Suryono mengambilkan dana bea cukai itu dari uang “sedekah”.

Diketahui, kasus ini berawal dari adanya OTT KPK di kantor BPPD Sidoarjo, 25 Januari lalu. Saat itu KPK mengamankan 11 orang, termasuk mantan Kepala BPPD Sidoarjo Ari Suryono dan mantan Kassubag Umum dan Kepegawaian Siska Wati. Keduanya telah divonis hakim masing-masing hukuman 5 tahun dan 4 tahun penjara. Mereka terbukti memotong insentif ASN BPPD Sidoarjo 10 hingga 30 persen mulai triwulan keempat tahun 2021 sampai triwulan keempat tahun 2023 dengan total Rp 8,544 miliar.

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Kisah Dua Saudara di Nganjuk Merawat Takdir Gamelan Legendaris di Panggung Dunia

Satu paket gamelan lengkap dibanderol mulai Rp90 juta untuk material besi puncu kuningan, sedangkan untuk material full kuningan mencapai Rp300 juta per paket.

Gegara Sampah, Garasi Rumah dan Mobil di Nganjuk Ludes Terbakar

Atas kejadian ini, pihak Damkar mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, terutama saat kondisi cuaca berangin, apalagi musim kemarau.

Polda Jatim Minta Mahasiswa Kritis dan Objektif Sikapi Isu Daerah

Polda Jatim komitmen untuk terus memelihara komunikasi yang berkesinambungan dengan elemen mahasiswa demi terciptanya stabilitas kamtibmas yang aman dan damai.

Bunda Jelita Surabaya Integrasikan Layanan Ibu dan Bayi Sejak Catin hingga Pascapersalinan

Integrasi ini memudahkan masyarakat mengakses layanan administrasi kependudukan tanpa harus mendatangi sejumlah kantor pelayanan secara terpisah.

Guru SMK Hamil 8 Bulan Tewas Usai Tabrak Minibus di Mojokerto, Ini Namanya

Peristiwa tragis itu terjadi ketika korban sedang perjalanan hendak menuju tempatnya mengabdi sebagai pendidik di Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Truk Boks Tabrak Trailer di Krembangan Surabaya, Begini Kondisi Korban

Saat ini, Unit Gakkum Satlantas Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya masih melakukan penyelidikan untuk mencari penyebab kecelakaan tersebut.