Selasa, 21 Jul 2026 09:31 WIB

Pemkot: Kualitas Udara di Surabaya Terpantau Terus Membaik

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 28 Feb 2020 18:31 WIB

Surabaya - Kualitas udara di Kota Surabaya dari tahun ke tahun terus menunjukkan tren membaik. Bahkan, untuk mengukur kualitas udara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggunakan beberapa alat yang sudah ber-Standar Nasional Indonesia (SNI).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Agus Eko Supiadi mengatakan, untuk mengukur kualitas udara, Pemkot Surabaya menggunakan standart yang berlaku nasional, yaitu ISPU (Indeks Standart Pencemaran Udara). Hal ini juga sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor: KEP 45/MENLH/1997 tentang indeks standart pencemaran udara.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Tetapkan Perwalian 75 Anak Perlindungan Khusus

“Data ISPU itu didapatkan dari alat Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien (SPKU) Automatis. Di Surabaya, alat ini dipasang di tiga tempat, satu diletakkan di Wonorejo, kedua di Kebonsari dan yang ketiga bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup diletakkan di Tandes,” kata Agus Eko.

Menurut Agus Eko, SPKU di Wonorejo dan Kebonsari dapat memantau parameter iklim, yaitu arah dan kecepatan angin, kelembaban udara, suhu udara, dan global radiasi. Selain itu, kedua SPKU ini dapat pula memantau parameter kimia udara seperti NO, NO2, NOx, O3, SO2, CO, PM10.

“Nah, parameter kimia udara itu yang menghasilkan data ISPU. Biasanya ISPU ini juga dipajang di monitor-monitor yang ada di pinggir jalan,” tegasnya.

Sedangkan SPKU Tandes yang merupakan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup, alatnya lebih lengkap, selain memantau parameter iklim, alat ini juga memantau parameter kimia udara seperti NO, NO2, NOx, O3, SO2, CO, PM10, dan PM 2,5. Alat ini masih terbilang baru dibanding SPKU Wonorejo dan Kebonsari.

Selain SPKU Automatis, Pemkot Surabaya juga menggunakan alat uji portable yang selalu keliling ke berbagai titik di Kota Surabaya. Alat ini untuk menguji PM 10, PM 5, PM 2,5, dan PM 1. Bahkan, alat ini juga bisa menguji NO, CO, SO2, dan O3.

“Lokasi-lokasi SPKU automatis dan alat uji portable ini sudah ada panduannya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan juga sudah SNI. Jadi, semua yang kami lakukan sudah sesuai peraturan yang ada di Indonesia. Itu artinya, ISPU yang dihasilkan valid,” kata dia.

Adapun data ISPU dari tahun ke tahun, menunjukkan tren membaik. Pada tahun 2017, data baik 131 dan data sedang 216 sehingga data sehatnya 347. Lalu tahun 2018, data baik 81 dan data sedang 283 sehingga data sehatnya 364. Kemudian tahun 2019, data baik 143 dan data sedang 221 sehingga data sehatnya 364.

Baca Juga: Tenyata Ini Penyebab Gerai Mie Gacoan di Surabaya Banyak yang Disegel

“Itu data total, bukan tiap hari. Itu artinya, dari tahun ke tahun menunjukkan tren membaik,” tegasnya.

Di samping itu, Agus Eko memastikan data hasil pemantauan kualitas udara tahunan itu, diolah dan dikalkulasikan ke dalam rumus Indeks Kualitas Udara (IKU). Alat ukur sederhana ini berupa angka untuk menginformasikan kualitas ambient suatu daerah. Di Surabaya, pada tahun 2017 data IKU targetnya 84,25 dan berhasil mencapai 90,26, tahun 2018 targetnya 84,50 dan berhasil mencapai 90,27, lalu tahun 2019 targetnya 84,75 dan berhasil mencapai 90,30.

“Berdasarkan data IKU itu, berarti ada peningkatan kualitas udara di Surabaya. Dan ternyata, data IKU kita lebih tinggi dari provinsi dan nasional,” imbuhnya.

Agus Eko menambahkan, peningkatan kualitas udara itu dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya karena Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Surabaya terus bertambah dari tahun ke tahun. Bahkan hingga tahun 2018, RTH di Surabaya sudah mencapai 7.290,53 hektar atau sama dengan 21,79 persen dari luas wilayah Kota Surabaya.

“Selain itu, ada pula program green building, manajemen transportasi yang semakin bagus serta rutin melakukan uji emisi, hemat energy dan memperbanyak penggunaan solar cell. Berbagai program itulah yang kemudian mampu mencegah polusi udara di Surabaya, hingga akhirnya kualitas udara terus membaik,” katanya.

Baca Juga: Beredar Kabar Gerai Mie Gacoan di Surabaya Banyak yang Disegel, Ada Apa?

Sementara itu, Kepala Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim Departemen Teknik Lingkungan ITS Dr. Eng Arie Dipareza Syafei memastikan bahwa penggunaan ISPU untuk memantau kualitas udara di Surabaya sudah tepat. Sebab, itu yang berlaku nasional dan sudah ada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI.

“Jadi, pemkot sudah tepat dan sudah benar menggunakan ISPU itu, dan sudah benar pula tidak menggunakan AirVisual karena Kementerian LH pun tidak mengacu kepada AirVisual,” tegas Arie.

Arie juga sangat mengapresiasi Pemkot Surabaya yang telah konsisten meningkatkan RTH setiap tahunnya. Menurutnya, strategi itu merupakan adaptasi dan mitigasi untuk menurunkan dampak pencemaran udara.

“Itu sudah sangat bagus untuk mengurangi pencemaran. Konsistensi ini yang harus terus dijaga,” pungkasnya.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Presiden Prabowo Serukan Kebangkitan Koperasi, DEKOPIN Yakin jadi Pilar Ekonomi Nasional

Menurut Prabowo, kekuatan koperasi terletak pada semangat gotong royong. Ia mengibaratkannya seperti sapu lidi yang akan menjadi kuat ketika bersatu.

Program Bunga Desaku Jember, Dari Bantuan UMKM hingga Rencana Investasi Rp2 Triliun

Fawait mengingatkan agar seluruh bantuan yang diberikan pemerintah dimanfaatkan sesuai tujuan dan tidak dialihkan untuk kepentingan lain.

Serunya Slimetastic Lab: Cara Kreatif Luminor Hotel Surabaya Jemursari Manjakan Tamu Cilik

Luminor Hotel Surabaya Jemursari terus berkomitmen menjadi destinasi pilihan bagi keluarga yang ingin menikmati liburan yang nyaman dan edukatif.

Pemkab Jember Alokasikan Rp400 Miliar untuk Layanan Kesehatan Gratis Warga

Fawait menegaskan seluruh fasilitas kesehatan wajib memberikan pelayanan yang setara kepada seluruh pasien, baik peserta UHC maupun pasien umum.

PAN Mulai Panaskan Mesin Politik Hadapi Pemilu 2029

Acara ini juga untuk memperkuat struktur partai hingga tingkat bawah dan mendekatkan partai dengan masyarakat.

Potret 115 Napi dari Jatim dan Sulawesi Dipindahkan ke Nusakambangan

Ditjenpas berharap pembinaan terhadap narapidana berisiko tinggi dapat berjalan lebih maksimal sekaligus mendukung terciptanya kondisi yang aman dan kondusif.