Ibu Rumah Tangga hingga Akademisi Perempuan Turun Demo di Surabaya, Ini Lima Tuntutannya
- Penulis : Ade Resty
- | Minggu, 08 Nov 2026 17:05 WIB
selalu.id - Sekitar 200 orang dari berbagai elemen masyarakat sipil, mulai ibu rumah tangga, tenaga medis, kalangan profesional hingga akademisi menggelar demonstrasi di Taman Apsari, Minggu (8/11/2026).
Mereka tergabung dalam Aliansi Suroboyo Bergerak (ASAB) “Suroboyo Wani”. Berbeda dengan demonstrasi pada umumnya, penyampaian aspirasi kali ini dikemas melalui pertunjukan seni, pembacaan puisi, musik biola, mimbar bebas hingga instalasi seni.
Baca Juga: Pendemo Tolak Bunga Pemberian Polwan saat Demo di Taman Apsari Surabaya
Koordinator Umum ASAB, Kardono Setyo Rahmadi, mengatakan aksi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat sipil untuk menyampaikan keresahan terhadap berbagai persoalan nasional.
Menurut dia, peserta aksi berasal dari latar belakang yang beragam. Gerakan tersebut tidak hanya melibatkan kelompok mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum yang memiliki keresahan terhadap kondisi negara.
“Perkiraan sih ada sekitar mungkin 200-an orang. 200-an orang dari sejumlah elemen sipil di Surabaya,” kata Kardono.
Dalam aksi tersebut, ASAB membawa lima tuntutan utama. Salah satu tuntutan yang paling mencolok adalah mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya.
Selain itu, massa mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, menangkap pelaku pembakaran hutan, termasuk korporasi yang terlibat, serta memulihkan hak-hak korban bencana.
Mereka juga meminta pemerintah menghentikan program yang dinilai boros dan tidak berpihak kepada masyarakat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan, hingga pembentukan Batalyon Teritorial Pembangunan.
Baca Juga: DLH Surabaya Temukan Solar Truk Sampah Dijual, Pelaku Diduga Orang Dalam
Tuntutan lainnya berkaitan dengan perbaikan tata kelola pemerintahan, termasuk transparansi anggaran, pemberantasan korupsi, serta peningkatan akses pendidikan dan kesehatan.
Massa juga mendesak penghentian tindakan represif terhadap masyarakat dan menolak perluasan peran militer di ranah sipil.
Kardono menjelaskan, aksi tersebut tidak diarahkan untuk meminta audiensi dengan pemerintah daerah maupun perwakilan instansi tertentu. Aspirasi yang disampaikan ditujukan kepada masyarakat luas dan pemerintah pusat.
“Tujuan kita adalah kepada seluruh rakyat Indonesia dan juga kepada pemerintah pusat. Kita tidak berharap ditemui, hanya menyampaikan aspirasi dan kemudian diamplifikasi baik melalui media sosial maupun media massa,” ujarnya.
Baca Juga: Peringatan! Buang Puntung Rokok di Surabaya Bisa Didenda 1 Juta
Dia menambahkan, aksi di Taman Apsari merupakan kegiatan pertama yang digelar ASAB. Karena itu, pihaknya memilih format aksi stasioner atau terpusat di satu lokasi tanpa melakukan long march.
Kardono menyebut, langkah tersebut juga mempertimbangkan faktor keamanan karena sejumlah peserta baru pertama kali bertemu dan bergabung dalam gerakan tersebut. Meski demikian, dia tidak menutup kemungkinan aksi berikutnya dikemas dengan format berbeda.
“Kita untuk awal ini kan aksi pertama aliansi. Banyak dari kita yang baru pertama kali bertemu, baru pertama kali kenal. Jadi demi keamanan, kami menyetting aksi ini sebagai aksi yang stasioner,” jelasnya.
Melalui aksi tersebut, ASAB berharap berbagai keresahan masyarakat sipil dapat menjadi perhatian pemerintah pusat. Mereka menegaskan gerakan tersebut merupakan ruang penyampaian kritik terhadap kebijakan pemerintah, bukan gerakan yang ditujukan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Editor : Achmad Supriyadi