Melihat dari Dekat Pasar Induk Surabaya: Fasilitas Lengkap, Bebas Biaya Sewa Lapak
- Penulis : Ade Resty
- | Jumat, 30 Okt 2026 19:43 WIB
selalu.id - Pasar Induk Surabaya Sidotopo (PIS) yang berlokasi di Jalan Sidotopo terus menunjukkan geliat aktivitas perdagangan grosir yang berputar 24 jam nonstop.
Berdasarkan pantauan selalu.id di lokasi, penataan infrastruktur dan alur distribusi komoditas di pasar induk tersebut tampak kian tertata.
Baca Juga: Pelaku yang Loncat ke Sungai Usai Bacok Pemobil di Surabaya Belum Ditemukan
Saat pertama kali memasuki kawasan pasar, kendaraan pengunjung maupun pedagang langsung disambut palang pintu otomatis dengan tarif parkir terjangkau sebesar Rp2.000.
Tepat di samping akses masuk, fasilitas timbangan khusus truk pengangkut buah dan sayur tampak bersiaga setiap hari untuk mengukur bobot komoditas yang baru tiba.
Tampak dari depan, Pasar Induk Surabaya Sidotopo. (Foto: Ade/selalu.id).
Memasuki area dalam pasar, lanskap perdagangan terbagi secara sistematis. Di sebelah kiri, berjejer dua deret stan khusus pedagang buah yang saat ini didominasi komoditas semangka dan timun emas. Sementara di sisi ujung kanan, dialokasikan khusus sebagai area stan pasar sayur.
Pengembangan PIS sendiri terus disesuaikan dengan regulasi daerah, yakni Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya Nomor 1 Tahun 2023 tentang Perdagangan dan Perindustrian.
Pada Pasal 8 ayat (2) mengenai Purwarupa Pasar Rakyat Utama, sebuah pasar induk diprioritaskan memenuhi kriteria operasional harian, berkapasitas minimal 300 pedagang, luas bangunan minimal 4.400 m², serta luas lahan sedikitnya 22.000 m².
Staf Administrasi PIS, Ajeng, mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada sekitar 200 pedagang yang aktif beroperasi penuh selama 24 jam.
Aktivitas pedagang sayur di Pasar Induk Surabaya Sidotopo. (Foto: Ade/selalu.id).
"Di sini operasional 24 jam, pengelolaannya juga sama. Barang yang masuk harus ditimbang terlebih dahulu. Untuk legalitas, semua perizinan seperti izin parkir hingga pembuangan sampah sudah lengkap," kata Ajeng saat ditemui selalu.id, Jumat (30/10/2026).
Baca Juga: Cekcok Berujung Pembacokan di Surabaya, 1 Pelaku Belum Ditemukan usai Lompat Sungai
Ajeng menjelaskan, daya tampung PIS sebenarnya mampu memuat lebih dari 900 lapak. Pihak pengelola saat ini juga tengah melakukan perluasan di atas lahan kosong untuk menambah kapasitas penampungan. Dari ratusan pedagang yang ada, sekitar 50 di antaranya merupakan pedagang skala besar.
"Satu pedagang tidak bisa dibatasi hanya satu lapak karena mereka membutuhkan area yang luas. Jadi pembagian tempat disesuaikan dengan kebutuhan volume dagangan masing-masing," jelasnya.
Mengenai rantai pasok, komoditas buah di PIS disuplai langsung dari para petani di berbagai daerah. Sejumlah pedagang yang direlokasi dari Pasar Tanjung Sari juga telah aktif berdagang di lokasi ini.
"Pedagang buah sifatnya mengikuti pasokan petani. Kalau petaninya datang seminggu sekali, lapak bisa kelihatan kosong sementara. Tapi begitu kiriman datang, barang langsung menumpuk. Jadi kelihatannya sepi padahal mereka sedang menunggu pengiriman," beber Ajeng.
Pintu masuk di Pasar Induk Surabaya Sidotopo. (Foto: Ade/selalu.id).
Baca Juga: Tolak Jam Operasional, Pedagang Pasar Buah Tanjungsari Surabaya Klaim Surat Revisi Perda DPRD
Tak hanya fokus pada area grosir, PIS turut dilengkapi fasilitas umum dan kantin UMKM yang saat ini diisi tiga stan kuliner.
Pengelolaan kebersihan dan limbah pasar juga menjadi perhatian utama pengelola dengan menyiagakan staf kebersihan khusus serta mengantongi izin resmi pembuangan sampah.
"Limbahnya kita ada izin pembuangan sampah. Semuanya di sini ada izin. Ada perizinan parkir juga, perizinan pembuangan sampah juga ada," tegas Ajeng.
Sementara itu, salah satu pedagang relokasi yang enggan disebutkan namanya mengaku baru dua minggu menempati lapak di PIS setelah sebelumnya berjualan di kawasan Tanjung Sari dan Tembok Dukuh selama kurang lebih tujuh bulan.
"Di tempat lama sudah disegel, jadi pindah ke sini. Di sini tidak ada biaya sewa lapak (gratis), cuma bayar uang timbangan Rp80.000," ungkapnya.
Editor : Zein Muhammad