Senin, 26 Okt 2026 18:23 WIB

Gelar Diskusi Bersama Kejati Jatim, Pelindo Pertegas Mitigasi Risiko Hukum BUMN

Pelindo Regional 3 bersama Kejati Jatim saat gelar mitigasi risiko hukum BUMN. (Dok. Pelindo Regional 3).
Pelindo Regional 3 bersama Kejati Jatim saat gelar mitigasi risiko hukum BUMN. (Dok. Pelindo Regional 3).

selalu.id - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 mengumpulkan seluruh jajaran pimpinan hingga direksi anak usahanya di Grand Barunawati, Surabaya, Kamis (10/9/2026).

Langkah ini diambil guna meluruskan pemahaman terkait prinsip Business Judgment Rule (BJR) yang sering kali disalahartikan sebagai "tameng" hukum.

Baca Juga: Pelindo Ajak Pekerja dan Masyarakat Merawat Cerita Nusantara Lewat Fotografi

Narasumber dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur menegaskan bahwa BJR tidak bisa dipakai secara sembarangan untuk membentengi setiap keputusan manajemen BUMN.

Jamdatun Kejati Jatim, Prof. Dr. Narendra Jatna, menekankan bahwa BJR memberikan ruang kebebasan mengambil keputusan profesional, namun dengan syarat ketat: wajib beritikad baik, penuh kehati-hatian, bebas dari benturan kepentingan, serta didasari kajian data yang matang.

"BJR tidak dapat serta-merta diterapkan terhadap seluruh tindakan BUMN, terutama ketika BUMN sedang melaksanakan penugasan dari negara," ujar Narendra dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Ia mengingatkan bahwa BUMN memiliki karakter ganda, yakni sebagai badan usaha pencari untung sekaligus pengemban mandat negara untuk kepentingan publik.

Penugasan negara kerap melibatkan pertimbangan sosial dan publik, sehingga tidak cocok jika diukur semata-mata dengan parameter bisnis murni.

Baca Juga: Arus Peti Kemas Tumbuh 10,65 Persen, TPK Merauke Perkuat Sinergi Stakeholder Pelabuhan

"Kita harus membedakan secara jernih mana keputusan bisnis korporasi dan mana tindakan pelaksanaan penugasan negara. Masing-masing memiliki dasar, tujuan, parameter kepatuhan, dan bentuk pertanggungjawaban yang berbeda," tegas Narendra.

Ia menambahkan, mitigasi risiko hukum di lingkungan BUMN terletak pada kepatuhan sejak awal perencanaan.

Setiap langkah manajemen harus ditopang dasar kewenangan yang sah, analisis risiko, serta dokumentasi hukum yang rinci, mulai dari legal opinion, kajian risiko, hingga nota rapat.

Baca Juga: Kejati Jatim Tahan Tersangka Baru Korupsi KUR BNI Jember, Kerugian Negara 6,1 Miliar

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko Pelindo, Boy Robyanto, menyebut diskusi bersama korps adhyaksa ini krusial untuk menyamakan persepsi antara Pelindo dan aparat penegak hukum.

"Kami ingin memastikan keberanian mengambil keputusan berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik. Pemahaman BJR menjadi penting agar jajaran manajemen memiliki landasan kuat sekaligus memahami batasan untuk memitigasi risiko hukum," ungkapnya.

Boy menambahkan, dinamika bisnis kepelabuhanan menuntut respons cepat, namun prosesnya tetap wajib berbasis data dan taat hukum demi mewujudkan iklim bisnis yang transparan dan akuntabel.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Truk Muatan Semen Tabrak Truk Gandeng di Mojokerto, Sopir Terjepit

Satlantas Polres Mojokerto saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan.

Wali Kota Mojokerto Serahkan SK 1.104 PPPK Paruh Waktu

Jumlah tersebut mengalami penyesuaian dari sebelumnya 1.119 orang.

Polres Pasuruan Kedepankan Penegakan Hukum Tegas dan Humanis di Operasi Patuh Semeru

Operasi yang digelar selama 14 hari, mulai 26 Oktober hingga 8 November 2026.

Diduga Cemburu Buta, Penghulu di Probolinggo Dibacok

Pelaku langsung menyerahkan diri ke pihak kepolisian setelah melakukan aksinya.

Pria Paruh Baya Tenggelam di Sungai Jagir Surabaya, Tongkat dan Topi Ditemukan

Korban diketahui berjenis kelamin laki-laki dan diperkirakan berusia sekitar 50 tahun.

Ledakan di Surabaya Diduga Gegara Elpiji Bocor, Korban Alami Luka Bakar 75 Persen

Dua rumah rusak berat dan empat rumah lainnya rusak sedang.