Senin, 07 Sep 2026 16:47 WIB

Hidupkan Ekosistem Kreatif, Dekesda Gelar Darjonesia Dance Festival dan Proyeksikan Museum Narotama

  • Penulis : Ariyanto
  • | Senin, 07 Sep 2026 16:11 WIB
Darjonesia Dance Festival 2026. (Foto: Ariyanto/selalu.id).
Darjonesia Dance Festival 2026. (Foto: Ariyanto/selalu.id).

selalu.id - Kehidupan seni dan budaya di Sidoarjo terbukti tak meredup meski berada di tengah kepungan kawasan industri dan posisinya sebagai daerah penyangga Surabaya.

Ekosistem kreatif di Kota Delta justru menunjukkan geliat luar biasa dan dinilai layak mendapatkan ruang gerak yang lebih luas.

Baca Juga: Melon Hidroponik jadi Magnet Baru Wisata Edukasi di Candi Negoro, Sidoarjo

Potensi besar tersebut mengemuka dalam ajang Darjonesia Dance Festival edisi perdana yang digelar Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) di Dekesda Art Center, Jalan Erlangga Nomor 67, Sidoarjo, pada 6–7 September 2026.

Mengusung tema “Merayakan Bertemunya Gagasan Kreatif Menuju Kota Kreatif”, festival ini sukses menyedot perhatian dengan mempertemukan para koreografer, seniman, komunitas, hingga penikmat seni dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Jepang.

Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih, memberikan apresiasi tinggi atas semangat para pelaku seni yang terus menjaga marwah kebudayaan daerah.

“Ini benar-benar luar biasa. Di sini, meskipun merupakan daerah industri dan daerah penyangga, sebenarnya kehidupan seni dan budayanya luar biasa. Saya memberikan apresiation yang luar biasa kepada para seniman, pelaku budaya, dan pemerhati sejarah yang ada di sini,” ujarnya, Senin (7/9/2026).

Tak sekadar memberikan pujian, Nasih menekankan pentingnya komitmen pemerintah daerah untuk menghadirkan dukungan nyata. Menurutnya, Sidoarjo sangat membutuhkan ruang pertunjukan yang layak agar karya seniman lokal tak hanya mandok di lingkungan komunitas, tetapi juga bisa dinikmati publik secara luas.

Ia mengibaratkan Sidoarjo layaknya kertas putih. Pembangunan fisik yang masif jangan sampai mengikis nilai-nilai kebudayaan yang menjadi identitas daerah.

“Kita membutuhkan tempat pertunjukan yang representatif sehingga bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat,” tegas Nasih.

Baca Juga: Tak Cukup Andalkan TPA, Jakarta Barat Belajar Pengolahan Sampah dari Sidoarjo

Selain gedung kesenian, keberadaan museum juga dipandang krusial untuk menyelamatkan jejak sejarah dan artefak Sidoarjo agar bisa dipelajari oleh generasi mendatang.

Sinyal tersebut disambut hangat oleh Ketua Dekesda, Ribut Wiyoto. Ia mengungkapkan, Dekesda memproyeksikan hadirnya Museum Narotama yang nantinya juga akan memperkenalkan sejarah kelompok teater pertama di Sidoarjo.

Ribut menjelaskan, Darjonesia singkatan dari Sidoarjo dan Indonesia, didesain bukan sekadar panggung hiburan biasa, melainkan sebagai wadah pertukaran gagasan dan ruang berjejaring antarseniman.

“Dewan Kesenian Sidoarjo mencoba mengisi ruang kosong tersebut, yakni ketiadaan event pertemuan koreografer tari. Jadi, ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga memberikan ruang untuk berbagi tentang gagasan, wacana, pengetahuan, sejarah, dan latar belakang karya tari,” ungkapnya.

Pada hari pertama, Minggu (6/9/2026), panggung Darjonesia diguncang oleh berbagai penampakan karya impresif.

Baca Juga: Kebakaran Landa Pabrik Rokok di Jabon Sidoarjo

Di antaranya Kalilan karya Yoga Kameshwara (Kediri), Serat Kambut karya Lalu Suryadi Mulawarman (Mataram), Ni-Ti-Te-Ni karya Patry Eka Prasetya (Sidoarjo), serta Roh Di Antara Riuh karya Benny Krisnawardi (Jakarta).

Tak berhenti di situ, rangkaian acara diperkuat dengan Sesi Bedah Karya yang menghadirkan pakar seni Prof. Robby Hidayat dari Universitas Negeri Malang sebagai narasumber, dipandu oleh Heri Lentho Prasetya sebagai moderator.

Dukungan juga mengalir dari Pemkab Sidoarjo. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sidoarjo, Ridho Prasetyo, menegaskan komitmennya untuk terus memupuk kolaborasi lintas sektor.

“Kami berharap terus melakukan kolaborasi dengan rekan-rekan seniman dan budayawan agar kebersamaan tetap terjaga. Tujuannya untuk memberikan kemajuan di bidang seni dan budaya, serta mewujudkan keinginan memberikan sesuatu yang maksimal dengan terbangunnya gedung kesenian di Sidoarjo,” terangnya.

Saat ini, selain melakukan kajian konsep gedung kesenian berskala ideal seperti di Jakarta, Jogja, dan Bali, pembenahan fisik jangka pendek juga mulai menyasar Art Center di kawasan Celep untuk menunjang aktivitas para seniman Sidoarjo.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Sidak Pasar Surabaya, Satgas Pangan Polda Jatim Temukan Komoditas Dijual di Atas HET

Satgas Pangan berkomitmen memperketat pemantauan rutin di pasar tradisional maupun modern untuk antisipasi potensi penimbunan atau pungutan liar.

Kisah Pilu PMI Jember yang Meninggal Usai Tertusuk Paku di Malaysia

Pembiayaan kepulangan jenazah almarhum ditanggung penuh secara pribadi oleh Bupati Jember Muhammad Fawait tanpa menggunakan dana APBD.

Harga Emas Antam Hari Ini: Kurang Baik Tapi Masih Lumayan, Ini Rinciannya 

Sebagai informasi, harga buyback ini merupakan harga yang didapat jika pemegang emas Antam ingin menjual kembali emasnya.

Ramalan Zodiak Hari Ini: Pengangguran Lagi Beruntung, Yang Kerja juga Ada Peluang Menarik

Ramalan zodiak hari ini meliputi seputar percintaan, keuangan dan karier bisa menjadi prediksi peruntungan di masa depan.

PAMDI Surabaya Soroti Izin dan Citra Pentas Dangdut, Sekaligus Kejar Pengakuan UNESCO

Ia mendorong para penyanyi dan pelaku seni dangdut mengedepankan etika, termasuk dalam penampilan di atas panggung.

Cegah Busa Masuk Kalimas Surabaya, PJT I Alirkan Pasokan Air Tambahan dari Waduk Sutami

PJT I terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan keamanan pasokan air baku bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.