Kamis, 22 Okt 2026 20:51 WIB

Hidupkan Ekosistem Kreatif, Dekesda Gelar Darjonesia Dance Festival dan Proyeksikan Museum Narotama

  • Penulis : Ariyanto
  • | Senin, 07 Sep 2026 16:11 WIB
Darjonesia Dance Festival 2026. (Foto: Ariyanto/selalu.id).
Darjonesia Dance Festival 2026. (Foto: Ariyanto/selalu.id).

selalu.id - Kehidupan seni dan budaya di Sidoarjo terbukti tak meredup meski berada di tengah kepungan kawasan industri dan posisinya sebagai daerah penyangga Surabaya.

Ekosistem kreatif di Kota Delta justru menunjukkan geliat luar biasa dan dinilai layak mendapatkan ruang gerak yang lebih luas.

Baca Juga: Carok di Sidoarjo, Pria Misterius Tewas dan Pedagang Es Degan Terluka

Potensi besar tersebut mengemuka dalam ajang Darjonesia Dance Festival edisi perdana yang digelar Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) di Dekesda Art Center, Jalan Erlangga Nomor 67, Sidoarjo, pada 6–7 September 2026.

Mengusung tema “Merayakan Bertemunya Gagasan Kreatif Menuju Kota Kreatif”, festival ini sukses menyedot perhatian dengan mempertemukan para koreografer, seniman, komunitas, hingga penikmat seni dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Jepang.

Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih, memberikan apresiasi tinggi atas semangat para pelaku seni yang terus menjaga marwah kebudayaan daerah.

“Ini benar-benar luar biasa. Di sini, meskipun merupakan daerah industri dan daerah penyangga, sebenarnya kehidupan seni dan budayanya luar biasa. Saya memberikan apresiation yang luar biasa kepada para seniman, pelaku budaya, dan pemerhati sejarah yang ada di sini,” ujarnya, Senin (7/9/2026).

Tak sekadar memberikan pujian, Nasih menekankan pentingnya komitmen pemerintah daerah untuk menghadirkan dukungan nyata. Menurutnya, Sidoarjo sangat membutuhkan ruang pertunjukan yang layak agar karya seniman lokal tak hanya mandok di lingkungan komunitas, tetapi juga bisa dinikmati publik secara luas.

Ia mengibaratkan Sidoarjo layaknya kertas putih. Pembangunan fisik yang masif jangan sampai mengikis nilai-nilai kebudayaan yang menjadi identitas daerah.

“Kita membutuhkan tempat pertunjukan yang representatif sehingga bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat,” tegas Nasih.

Baca Juga: 67 Bangunan Liar di Frontage Road Sidoarjo Diratakan

Selain gedung kesenian, keberadaan museum juga dipandang krusial untuk menyelamatkan jejak sejarah dan artefak Sidoarjo agar bisa dipelajari oleh generasi mendatang.

Sinyal tersebut disambut hangat oleh Ketua Dekesda, Ribut Wiyoto. Ia mengungkapkan, Dekesda memproyeksikan hadirnya Museum Narotama yang nantinya juga akan memperkenalkan sejarah kelompok teater pertama di Sidoarjo.

Ribut menjelaskan, Darjonesia singkatan dari Sidoarjo dan Indonesia, didesain bukan sekadar panggung hiburan biasa, melainkan sebagai wadah pertukaran gagasan dan ruang berjejaring antarseniman.

“Dewan Kesenian Sidoarjo mencoba mengisi ruang kosong tersebut, yakni ketiadaan event pertemuan koreografer tari. Jadi, ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga memberikan ruang untuk berbagi tentang gagasan, wacana, pengetahuan, sejarah, dan latar belakang karya tari,” ungkapnya.

Pada hari pertama, Minggu (6/9/2026), panggung Darjonesia diguncang oleh berbagai penampakan karya impresif.

Baca Juga: Top 5 Berita: Klaim Utang Mendiang Suami hingga Hasil Liga Champions

Di antaranya Kalilan karya Yoga Kameshwara (Kediri), Serat Kambut karya Lalu Suryadi Mulawarman (Mataram), Ni-Ti-Te-Ni karya Patry Eka Prasetya (Sidoarjo), serta Roh Di Antara Riuh karya Benny Krisnawardi (Jakarta).

Tak berhenti di situ, rangkaian acara diperkuat dengan Sesi Bedah Karya yang menghadirkan pakar seni Prof. Robby Hidayat dari Universitas Negeri Malang sebagai narasumber, dipandu oleh Heri Lentho Prasetya sebagai moderator.

Dukungan juga mengalir dari Pemkab Sidoarjo. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sidoarjo, Ridho Prasetyo, menegaskan komitmennya untuk terus memupuk kolaborasi lintas sektor.

“Kami berharap terus melakukan kolaborasi dengan rekan-rekan seniman dan budayawan agar kebersamaan tetap terjaga. Tujuannya untuk memberikan kemajuan di bidang seni dan budaya, serta mewujudkan keinginan memberikan sesuatu yang maksimal dengan terbangunnya gedung kesenian di Sidoarjo,” terangnya.

Saat ini, selain melakukan kajian konsep gedung kesenian berskala ideal seperti di Jakarta, Jogja, dan Bali, pembenahan fisik jangka pendek juga mulai menyasar Art Center di kawasan Celep untuk menunjang aktivitas para seniman Sidoarjo.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Kanwil Kemenag Jatim Luncurkan Aplikasi El-Santri pada Hari Santri 2026, Ini Kegunaannya

Syaikhul Hadi menekankan pentingnya sikap adaptif dan inovatif agar ilmu yang dimiliki mampu menjawab tantangan zaman. 

Soal Isu Kredit Fiktif Rp690 Juta, BRI Nganjuk Tegaskan Sesuai Prosedur

BRI Nganjuk juga telah memanggil pihak keluarga terkait untuk duduk bersama. Ruang mediasi dibuka guna mencari jalan keluar terbaik sesuai regulasi.

Kabar Gembira, Jalan Rusak di Pace-Tanhunganom Nganjuk Segera Diperbaiki

Perbaikan jalan ini tak sekedar untuk akses kendaraan, namun juga mampu melejitkan denyut perekonomian warga di sekitar jalur Pace-Tanjunganom, Nganjuk

IMM Jember Gelar Aksi Demo, Desak Pemerintah Serius Benahi 7 Persoalan Pendidikan

Mereka memberikan waktu satu minggu dan mengancam bakal menggelar aksi demonstrasi jilid II apabila tuntutan tidak ditindaklanjuti dengan langkah konkret.

Momen Pesawat Tempur TNI AU Mendarat di Tol Pasuruan-Probolinggo

Kegiatan ini merupakan bagian dari pengujian kesiapan operasional TNI AU dalam memanfaatkan infrastruktur jalan tol untuk mendukung operasi udara.

Demo di Grahadi Surabaya, Massa Tuntut Prabowo-Gibran Mundur dari Jabatannya

Sambil melakukan orasi secara bergantian, gema teriakan "revolusi" terus disuarakan sebagai bentuk protes terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.