Senin, 07 Sep 2026 13:49 WIB

Membangun Kemandirian Teknologi Industri Maritim Indonesia melalui Robotika Bawah Air dalam Semangat Asta Cita

  • Penulis : selalu.id
  • | Minggu, 06 Sep 2026 12:30 WIB
Oleh: Ali Yusa (Dewan Pendidikan Jawa Timur | Inisiator Jurusan Teknik Konstruksi Perkapalan UMG)
Oleh: Ali Yusa (Dewan Pendidikan Jawa Timur | Inisiator Jurusan Teknik Konstruksi Perkapalan UMG)

selalu.id | OPINI - Indonesia tidak kekurangan laut. Yang sering kali kurang adalah keberanian melihat laut bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun teknologi, industri, dan pekerjaan bagi sumber daya manusia Indonesia.

Kebutuhan itu sebenarnya ada di depan mata. Kapal harus diperiksa bagian bawahnya. Struktur pelabuhan perlu dipantau. Infrastruktur lepas pantai harus diawasi. Industri energi membutuhkan inspeksi. Peneliti membutuhkan data bawah air. Pemerintah membutuhkan teknologi untuk memantau lingkungan perairan.

Baca Juga: Menjembatani Pertumbuhan Industri dan Kelestarian Pesisir

Dalam kebutuhan tersebut, robot bawah air seperti Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Underwater Vehicle (AUV), dan intelligent boat (i-BOAT) memiliki peluang yang semakin besar.

Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan dibutuhkan. Industri akan menciptakan permintaannya. Pertanyaan strategisnya adalah: apakah Indonesia hanya menjadi pengguna, atau mampu menjadi bagian dari rantai nilai yang merancang, membuat, mengoperasikan, memperbaiki, dan mengembangkan teknologinya sendiri? Di sinilah robotika maritim bertemu dengan semangat Asta Cita.

Laut Membutuhkan Teknologi
ROV dapat dikendalikan dari permukaan dengan kamera dan sensor. AUV memiliki tingkat kemandirian lebih tinggi melalui sistem navigasi, sensor, komputer, dan perangkat lunak. Sementara i-BOAT menunjukkan perkembangan kendaraan maritim yang semakin mengandalkan otomasi, komunikasi, sensor, sistem kendali, dan pengolahan data.

Teknologi tersebut bukan untuk menggantikan manusia, tetapi memperluas kemampuan manusia. Robot dapat bekerja di lingkungan yang sulit dijangkau, sementara manusia menganalisis data dan mengambil keputusan. Bagi industri, manfaatnya dapat berupa pekerjaan yang lebih aman, efisien, presisi, dan terukur.

Ketika Perkapalan Bertemu Robotika
Perkembangan robot bawah air juga memperluas cakrawala pendidikan teknik perkapalan. Sebuah ROV membutuhkan struktur, propulsi, sumber energi, stabilitas, dan perhitungan gaya di dalam air. Setelah itu masuklah sensor, kamera, elektronika, komunikasi, komputer, pemrograman, dan robotika.

Perkapalan memberikan tubuhnya. Mesin memberikan tenaganya. Elektro memberikan sistem kelistrikannya. Informatika memberikan logikanya. Robotika mengintegrasikan semuanya menjadi sebuah sistem yang bekerja.

Di sinilah mahasiswa belajar bahwa persoalan teknologi tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja.

Pengalaman mahasiswa Teknik Konstruksi Perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik (TEKPAL UMG) menunjukkan bahwa kuliah perkapalan tidak boleh lagi dipahami sebatas belajar membuat kapal. Tiga kali mengikuti kompetisi teknologi maritim KEMENDIKTISAINTEK dan selalu lolos, dua kali di Kontes Kapal Tak Berawak Indonesia (KKTI) dan satu kali di Kontes Kapal Indonesia (KKI) Bengkalis – Riau 2026 dan kini menjadi FINALIS, menjadi bukti bahwa pendidikan perkapalan dapat menjadi pintu masuk ke teknologi masa depan.

Di tengah era disrupsi, memilih TEKPAL UMG berarti memilih pendidikan yang mempertemukan perkapalan dengan robotika, otomasi, elektronika, pemrograman, dan teknologi digital.

Mahasiswa tidak hanya belajar teori. Mereka belajar merancang, membuat, menguji, menemukan kesalahan, lalu memperbaikinya. Pendidikan akhirnya tidak hanya mempersiapkan lulusan untuk masuk ke pasar kerja, tetapi juga untuk membaca kebutuhan industri, menciptakan inovasi, dan membuka ruang kerja baru di dunia usaha dan dunia industri.

Ketika Teknologi Bertemu Mekanisme Pasar
Di sinilah teori ekonomi menjadi penting. Dalam mekanisme pasar, kebutuhan menciptakan permintaan (demand), sementara permintaan memberikan insentif kepada pelaku usaha untuk menyediakan barang dan jasa. Ketika suatu kebutuhan dapat dilayani secara ekonomis, muncul alasan bagi perusahaan untuk berinvestasi dan berinovasi.

Robotika bawah air menarik karena permintaannya merupakan derived demand atau permintaan turunan. Industri tidak membeli ROV semata-mata karena membutuhkan robot. Mereka membutuhkannya karena memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan di bawah air.

Ketika pelabuhan membutuhkan inspeksi, muncul permintaan jasa inspeksi. Jasa tersebut membutuhkan ROV. ROV kemudian membutuhkan operator, teknisi, engineer, programmer, ahli elektronika, analis data, dan tenaga pemeliharaan.

Dengan demikian, satu kebutuhan industri dapat menciptakan rangkaian permintaan ekonomi baru.

Pasar bukan hanya menentukan berapa banyak robot yang diproduksi, tetapi juga mendorong munculnya berbagai kegiatan ekonomi di belakang teknologi tersebut.

Menciptakan Ruang Kerja bagi Kaum Terdidik
Perspektif ini penting bagi pendidikan tinggi dan DUDI. Selama ini keberhasilan pendidikan sering diukur dari seberapa banyak lulusan terserap dunia usaha dan dunia industri. Ke depan, pertanyaannya perlu diperluas: berapa banyak ruang kerja baru yang dapat diciptakan melalui teknologi?

Robotika maritim memberikan contoh yang jelas.

Lulusan teknik perkapalan dapat masuk ke desain dan struktur. Lulusan mesin mengembangkan propulsi. Lulusan elektro menangani sensor dan sistem kelistrikan. Lulusan informatika mengembangkan perangkat lunak dan pengolahan data. Lulusan manajemen dan bisnis dapat membangun jasa inspeksi, pengelolaan proyek, dan model usaha baru.

Baca Juga: Pinjam Uang, Kok Rumah Hilang? Ketika Utang Disamarkan Menjadi Jual Beli Rumah 

Artinya, hilirisasi teknologi tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menciptakan ruang kerja bagi kaum terdidik di DUDI.

Semakin kompleks teknologi yang dikembangkan, semakin besar kebutuhan terhadap SDM dengan kompetensi spesifik.

Dari Masalah Industri Menuju Nilai Ekonomi
Karena itu, pengembangan ROV sebaiknya dimulai dari persoalan nyata.

Ketika industri membutuhkan inspeksi bawah air yang lebih aman dan efisien, kebutuhan itu menjadi dasar penelitian. Kampus mengembangkan desain. Mahasiswa dan dosen membuat prototipe. Industri menguji. Kekurangan ditemukan dan diperbaiki.

Masalah melahirkan riset. Riset melahirkan prototipe. Pasar memberikan umpan balik. Pengujian meningkatkan kualitas. Teknologi yang matang menciptakan nilai ekonomi.

Inilah hilirisasi yang sesungguhnya.

Dalam perspektif rantai nilai, semakin banyak tahapan yang dapat dikerjakan di dalam negeri, semakin besar peluang nilai tambah ekonomi tinggal di Indonesia.

Kita tidak harus membuat seluruh komponen ROV sendiri. Sensor, kamera, motor, baterai, atau komponen tertentu tetap dapat berasal dari rantai pasok global. Namun, kemampuan strategis seperti desain, rekayasa, integrasi sistem, perangkat lunak, pengujian, pemeliharaan, dan pengembangan perlu semakin dikuasai di dalam negeri.

Sebab ada perbedaan antara membeli teknologi dan menguasai teknologi.

Jawa Timur dan Ekosistem Pasar
Jawa Timur memiliki modal untuk membangun ekosistem tersebut. Gresik memiliki manufaktur, energi, pelabuhan, dan aktivitas maritim. Lamongan memiliki perikanan dan kawasan pesisir. Tuban memiliki industri dan energi. Bojonegoro memiliki ekosistem industri energi dan perusahaan pendukung.

Baca Juga: Ketika Kelas Agama Mencetak Jarak: Pendidikan dan Toleransi Siswa di Indonesia

Jika kawasan ini dipandang sebagai satu koridor industri, kebutuhan terhadap SDM yang mampu menggabungkan teknik, maritim, dan teknologi digital akan semakin besar.

Perguruan tinggi dapat menjadi penghubung antara kebutuhan pasar dan kemampuan teknologi. Konsep living laboratory menjadi relevan: kampus bukan hanya tempat membuat prototipe untuk lomba, tetapi tempat menguji solusi berdasarkan kebutuhan nyata industri.

Pertanyaan mahasiswa pun perlu bergeser dari “Bagaimana membuat robot?” menjadi “Persoalan apa yang dapat diselesaikan dengan robot ini?” Pertanyaan kedua membawa teknologi lebih dekat kepada pasar.

Asta Cita dan Kemandirian Teknologi
Di sinilah Asta Cita memperoleh bentuk yang konkret: penguatan SDM, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, hilirisasi, industrialisasi, serta kemandirian nasional diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi yang nyata.

Mekanisme pasar dapat menjadi salah satu penggeraknya. Ketika kebutuhan industri bertemu kemampuan perguruan tinggi, muncul peluang usaha. Ketika peluang usaha bertemu SDM, lahir pekerjaan. Ketika pekerjaan menghasilkan pengalaman dan investasi, kemampuan teknologi berkembang.

Siklus inilah yang perlu dibangun. Pada akhirnya, robot bawah air hanyalah salah satu contoh. Yang lebih besar adalah membangun ekosistem ekonomi berbasis pengetahuan: mahasiswa yang mampu membuat teknologi, perguruan tinggi yang dekat dengan persoalan industri, DUDI yang berani menggunakan inovasi lokal, perusahaan yang tumbuh karena kebutuhan pasar, serta ruang kerja baru bagi generasi terdidik.

Indonesia memiliki laut yang luas, persoalan yang nyata, dan pasar yang besar. Tugas kita adalah menghubungkan ketiganya.

Bagi saya, kemandirian maritim bukan sekadar tentang memiliki kapal. Kemandirian berarti kita punya orang yang mampu membuat dan mengembangkan teknologinya, industri yang mampu menggunakannya, serta pasar yang mampu menghidupkan ekosistemnya. Dari sanalah nilai tambah dan pekerjaan tumbuh. Laut Indonesia akhirnya bukan hanya menjadi kekayaan yang kita miliki, tetapi juga menjadi tempat kita membangun masa depan.

Mungkin langkah itu dapat dimulai dari sebuah robot kecil yang dibuat mahasiswa, diuji di kampus, dikembangkan bersama industri, kemudian tumbuh menjadi produk, jasa, perusahaan, dan pekerjaan baru bagi generasi terdidik Indonesia.

Oleh: Ali Yusa (Dewan Pendidikan Jawa Timur | Inisiator Jurusan Teknik Konstruksi Perkapalan UMG)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Harga Emas Antam Hari Ini: Kurang Baik Tapi Masih Lumayan, Ini Rinciannya 

Sebagai informasi, harga buyback ini merupakan harga yang didapat jika pemegang emas Antam ingin menjual kembali emasnya.

Ramalan Zodiak Hari Ini: Pengangguran Lagi Beruntung, Yang Kerja juga Ada Peluang Menarik

Ramalan zodiak hari ini meliputi seputar percintaan, keuangan dan karier bisa menjadi prediksi peruntungan di masa depan.

PAMDI Surabaya Soroti Izin dan Citra Pentas Dangdut, Sekaligus Kejar Pengakuan UNESCO

Ia mendorong para penyanyi dan pelaku seni dangdut mengedepankan etika, termasuk dalam penampilan di atas panggung.

Cegah Busa Masuk Kalimas Surabaya, PJT I Alirkan Pasokan Air Tambahan dari Waduk Sutami

PJT I terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan keamanan pasokan air baku bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Air PDAM Surabaya Keruh dan Berbusa di Belasan Kawasan, Warga Keluhkan Bau Kimia

Gangguan dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari Banyu Urip, Lakarsantri, Gunung Sari, Babatan, Wiyung, Manukan, Kedurus, Petemon, dan lainnya.

Dua Rumah Terbakar di Mojokerto, Terdengar Tiga Kali Ledakan

Api berasal dari freon kulkas yang diduga mengalami korsleting. Akibat kejadian itu, rumah dan semua perabotan serta peralatan elektronik hangus terbakar.