Sosok KH Miftachul Akhyar, Obor Tradisi di Abad Kedua NU
- Penulis : Dony Maulana
- | Jumat, 28 Agu 2026 12:58 WIB
selalu.id - Bursa pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat jelang Muktamar ke-35 di Tambakberas.
Di tengah riuhnya isu dan tarik-menarik kepentingan, nama KH Miftachul Akhyar mengemuka sebagai figur sentral yang dinilai konsisten menjaga obor tradisi dan marwah Syuriyah di abad kedua NU.
Baca Juga: Muktamar ke-35 NU Diwarnai Isu Penekanan Peserta, Gus Salam Imbau Kembalikan Akhlak Ulama
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Kedung Tarukan Surabaya tersebut dianggap sebagai benteng otoritas ulama agar NU tetap merdeka dan bersih dari gelombang politik praktis.
Sanad keilmuan Kiai Miftach terbilang sangat matang. Ia menimba ilmu sejak usia delapan tahun di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, kemudian melanjutkan ke Rejoso (Darul Ulum), Sidogiri, Al-Islah Soditan Lasem, hingga menyerap ilmu langsung di majelis ulama terkemuka Mekkah, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Integritas kepemimpinannya juga teruji nyata. Pada 2022 lalu, ia melepaskan jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) demi menolak rangkap jabatan dan fokus penuh berkhidmah di NU. Langkah ini dinilai sebagai bukti nyata komitmen menjaga amanah tanpa ditunggangi kepentingan lain.
Ketegasan Kiai Miftach dalam menjalankan otoritas Syuriyah terbukti mampu menjaga ketertiban organisasi. Didukung oleh 36 pengurus wilayah, ia memimpin jalannya konsolidasi organisasi hingga menggelar istighosah bersama ribuan nahdliyin menjelang muktamar.
Komitmen menjaga tradisi itu kembali ia tunjukkan saat pembukaan Muktamar lewat penyampaian Khutbah Iftitah berbahasa Arab.
Dalam pidatonya, ia mengungkapkan tiga kegembiraan: kelahiran Nabi Muhammad SAW, 81 tahun kemerdekaan Indonesia, serta digelarnya Muktamar ke-35 di pesantren muassis KH Abdul Wahab Hasbullah.
Baca Juga: Gus Kikin, Cicit KH Hasyim Asyari Dinilai Tepat Pimpin PBNU
Ia juga mengingatkan seluruh jamiyyah agar mewaspadai bahaya fitnah, yakni bercampurnya kebenaran dan kebatilan.
Dukungan untuk keberlanjutan kepemimpinan Kiai Miftach pun mengalir deras dari arus bawah. Salah satunya disampaikan oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Batu Bara, M. Ridwan Butar-Butar.
"Harapan kami KH Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam PBNU. Beliau memiliki kapasitas keulamaan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan untuk menjaga arah perjuangan NU," ujar Ridwan, Jumat (28/8/2026).
Ridwan menegaskan, figur pimpinan tertinggi PBNU harus mampu berdiri di atas semua golongan serta menjaga persatuan jamiyyah.
Baca Juga: Presiden Prabowo Dijadwalkan Kunjungi Ponpes Tambakberas Sebelum Pembukaan Muktamar ke-35 NU
"Kepemimpinan di tingkat PBNU harus mampu menjaga persatuan dan marwah organisasi. Kami melihat KH Miftachul Akhyar memiliki kapasitas tersebut," tegasnya.
Pengabdian Kiai Miftach terhadap bangsa dan agama juga mendapat pengakuan resmi dari negara. Pada 2025 lalu, ia dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden.
Memasuki abad kedua NU, muktamirin diajak untuk lebih bijak memilih Rais Aam yang berpegang teguh pada khittah dan independen dari kepentingan politik praktis.
Editor : Zein MuhammadURL : https://selalu.id/news-15248-sosok-kh-miftachul-akhyar-obor-tradisi-di-abad-kedua-nu
