Jumat, 21 Agu 2026 18:27 WIB

Mengenal Program Pisang Danor, Strategi Surabaya dalam Kurangi Sampah dan Tekan Biaya TPA

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 21 Agu 2026 17:51 WIB
Pemkot Surabaya saat melaunching Program Pisang Danor. (Dok. Diskominfo Surabaya).
Pemkot Surabaya saat melaunching Program Pisang Danor. (Dok. Diskominfo Surabaya).

selalu.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumbernya melalui program Pemilahan Sampah Anorganik dan Organik (Pisang Danor). 

Program tersebut bertujuan untuk mendorong masyarakat, khususnya di tingkat rumah tangga, agar memilah dan mengolah sampah sebelum dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Baca Juga: Pemkot Surabaya Tertibkan Pengolahan Sampah Ilegal di Keputih, Baunya Menyengat

Program Pisang Danor telah resmi diluncurkan di Graha YKP, Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya, pada Rabu (5/8/2026) lalu. 

Program berbasis edukasi publik itu diinisiasi oleh Tim Penggerak PKK Kota Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pengurangan sampah perlu dimulai dari perubahan perilaku masyarakat di lingkungan masing-masing. 

Menurutnya, sampah organik menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan dan berpotensi diolah sejak dari rumah.

"Kalau kita ini tidak cinta kepada lingkungan, maka sampah itu tidak akan pernah selesai. Dan sampah yang paling banyak (dihasilkan) adalah sampah organik," kata Eri dalam peluncuran program Pisang Danor.

Ia menambahkan pengolahan sampah organik dari rumah dapat mengurangi beban pengangkutan sekaligus menekan biaya pengelolaan sampah di Kota Pahlawan. 

"Sampah organik ini kalau itu bisa dikelola sampai rumah, maka sebenarnya biaya sampah itu berkurang," ujar Eri.

Pihaknya menilai, efisiensi tersebut penting karena Pemkot Surabaya harus membayar tipping fee di TPA Benowo sekitar Rp217.000 per ton. Karena itu, ia mengajak masyarakat lebih disiplin memilah sampah agar biaya pengelolaan dapat ditekan dan anggaran bisa dialihkan untuk program prioritas lainnya.

"Kenapa saya ingin mengajak masyarakat mengolah sampah, karena daripada uang kami (pemkot) dibuat bayar sampah, mending uangnya dibuat untuk sekolah gratis mulai SD-SMA sampai kuliah. Itu lebih bagus," jelas Eri.

Karena itu, melalui Lomba Pisang Danor, Pemkot Surabaya ingin membangun kebiasaan memilah sampah secara konsisten mulai dari keluarga hingga lingkungan RT dan RW. "Nah, persoalan sampah harusnya juga bisa dimulai dari rumah tangga," katanya.

Di samping itu, Eri juga mengungkap bahwa Pisang Danor menjadi bagian dari rangkaian program yang akan dilanjutkan dengan kompetisi kebersihan lingkungan dalam skala lebih luas. 

"Jadi setelah Pisang Danor, nanti dilanjutkan dengan lomba Kampung Pancasila," ungkapnya.

Ia berharap program tersebut dapat mengubah kebiasaan masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. 

"Semoga lomba ini bisa mengubah paradigma kita, menjadikan kita lebih cinta lingkungan," harapnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani mengatakan, program Pisang Danor difokuskan pada pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sementara itu, pemilahan sampah anorganik dinilai telah berkembang melalui keberadaan bank sampah di berbagai permukiman.

"Sebenarnya Surabaya sudah luar biasa dalam melakukan pemilahan sampah anorganik. Karena itu kami lebih fokus untuk pemilahan sampah organik," katanya.

Baca Juga: Kejar Target Investasi Rp43 Triliun di 2026, Pemkot Surabaya Andalkan Perizinan Berbasis AI

Menurut Rini, rumah tangga menjadi titik awal yang penting karena sebagian besar aktivitas pengelolaan sisa bahan pangan bermula dari keluarga.

 "Lingkup yang paling kecil yaitu keluarga (rumah tangga), sehingga pembiasaan ini kita mulai dari rumah," ujarnya.

Karena itu, Rini mendorong kolaborasi antara camat, lurah, DLH, hingga Satgas Kampung Pancasila untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah organik. 

"Insya Allah tujuan kita semua sama, bagaimana pengolahan sampah organik ini bisa secara masif dan tentunya bisa bermanfaat untuk kita semua," tuturnya.

Kepala DLH Kota Surabaya, M Fikser menyampaikan, Pisang Danor dirancang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah sekaligus menjadi tahap awal menuju Lomba Kampung Pancasila.

"Ini menjadi suatu program lomba yang kemudian mendorong partisipasi masyarakat untuk melakukan pemilahan. Seperti yang disampaikan Pak Wali Kota, bahwa ini pemanasan nanti puncaknya adalah Lomba Kampung Pancasila," katanya.

Lebih rinci, Fikser memaparkan bahwa para peserta lomba Pisang Danor merupakan perwakilan enam RW terbaik dari setiap kecamatan. Sebelumnya, RW tersebut melalui proses seleksi di tingkat kelurahan.

"Di setiap kecamatan itu ada (perwakilan) enam RW. Jadi nanti akan diseleksi oleh kecamatan dan kelurahan, kemudian enam yang terbaik diambil mewakili kecamatan," paparnya.

Fikser menekankan pentingnya menjaga agar sampah organik dan anorganik tidak kembali tercampur setelah dipilah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat dijual.

"Yang organik diolah menjadi komposter atau diolah menjadi hal lain. Sedangkan yang anorganik itu yang kemudian mempunyai nilai ekonomis yang dijual secara langsung," jelasnya.

Baca Juga: Soal Foto Armuji Tak Dipasang di Poster Soekarno Cup 2026, Begini Jawaban Halus Panitia

Pengurangan sampah dari sumbernya diharapkan dapat menekan biaya pengelolaan sampah di TPA Benowo. Dana yang dihemat selanjutnya dapat digunakan untuk mendukung program pemerintah di sektor lain.

"Dengan demikian nilai tipping fee atau pembayaran kita terhadap pengelolaan di TPA Benowo bisa berkurang. Dan dana itu bisa dialihkan untuk program seperti yang disampaikan Pak Wali Kota yaitu untuk pendidikan atau kesehatan," tuturnya.

Fikser menyebut bahwa Pemkot Surabaya menargetkan pemilahan sampah dari rumah tangga mencapai 40 persen sebagai bagian dari upaya mendukung target pengurangan sampah secara nasional. 

"Makanya target Pak Wali Kota kita harus melakukan pemilahan 40 persen (sampah) dari rumah tangga," imbuhnya.

Fikser memaparkan bahwa produksi sampah di Surabaya saat ini mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton telah diintervensi melalui TPS 3R, bank sampah, dan pemilahan yang dilakukan masyarakat. 

"Nah, dari proses itu 200 ton terjadi pemilahan sampah. Sedangkan 1.600 dikirim ke TPA Benowo," bebernya.

Sampah yang dikirim ke TPA Benowo, kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Sebanyak 1.000 ton sampah dimanfaatkan melalui fasilitas Gasification Power Plant dengan kapasitas produksi 9 MW. Sedangkan 600 ton lainnya dimanfaatkan melalui Landfill Gas Power Plant yang menghasilkan 2 MW.

"Dengan pemilahan sampah ini bisa mengurangi pembayaran (tipping fee). Maka kita juga mendorong partisipasi warga untuk kita sama-sama menjaga lingkungan," pungkas Fikser. (ADV).

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Hari Juang Polri 2026: Kapolri Pesan Jaga Integritas dan Teladani M Jasin

Momen tahunan ini menjadi refleksi penting lahirnya Kepolisian Republik Indonesia melalui Proklamasi Polisi Istimewa tahun 1945 di bawah kepemimpinan M. Jasin.

Naikkan Standar Kompetisi, Soekarno Cup 2026 Gunakan Wasit Liga 1 dan Teknologi VAR

Soekarno Cup diinisiasi Prananda Prabowo dengan visi membangun ruang kompetisi yang mampu mempertemukan talenta muda.

Sekolah Merdeka Tanpa Narkoba, Langkah Pelindo dan BNNP Jatim Mewujudkan Generasi Muda Bersinar

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini diproyeksikan bakal menjangkau total 200 siswa di berbagai sekolah kawasan Jawa Timur.

Wisata Gunung Bromo Kini Kembali Dibuka, Ini Aturan yang Harus Dipatuhi Wisatawan ‎

‎Pengunjung juga diminta bersama-sama menjaga kawasan agar kejadian kebakaran serupa tidak kembali terjadi.

Sukses Majukan Koperasi, Wali Kota Mojokerto Ning Ita Sabet Penghargaan dari Menkop

Penghargaan ini menjadi apresiasi atas kiprah Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto dalam mendorong kemajuan dan penguatan koperasi di Kota Majapahit.

Harga Emas Antam Hari Ini: Masih Stabil Belum Berubah, Berikut Rincian Lengkapnya

Dengan demikian, harga emas Antam kembali menjauh dari level Rp3 juta per gram dan mengalami penurunan dibanding perdagangan sebelumnya.