Fenomena Pagar Tinggi di Mal Surabaya Jelang HUT RI, DPRD: Jangan Buat Masyarakat Panik!
- Penulis : Ade Resty
- | Kamis, 06 Agu 2026 15:33 WIB
selalu.id - Fenomena pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan atau mal di Surabaya kembali menuai sorotan.
Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri meminta pelaku usaha tidak bereaksi secara berlebihan terhadap berbagai isu keamanan yang beredar menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca Juga: Sikat Premanisme, Polrestabes Surabaya Tahan Tiga Tersangka Penyerobot Ruko LeIang
Menurutnya, langkah antisipasi memang diperlukan, tetapi tidak boleh sampai memunculkan kepanikan di tengah masyarakat maupun membangun kesan bahwa Surabaya sedang berada dalam situasi yang tidak kondusif.
“Rasa takut boleh saja. Tapi Surabaya sudah melakukan berbagai langkah antisipasi. Kami pastikan Surabaya tetap aman. Karena itu kami mengimbau para pelaku usaha jangan sampai paranoid,” tegasnya, Kamis (6/8/2026).
Politisi yang akrab disapa Kaji Ipuk ini menilai bahwa Surabaya selama ini memiliki modal sosial yang kuat, mulai dari budaya toleransi, semangat gotong royong, hingga rasa memiliki terhadap Kota Pahlawan. Kondisi tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas keamanan.
“Surabaya itu kota yang santun. Kita semua punya tanggung jawab menjaga kota ini bersama-sama,” jelasnya.
Kaji Ipuk juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial, terutama yang berkaitan dengan potensi kerusuhan atau gangguan keamanan.
Ia pun meminta warga melakukan verifikasi terhadap setiap informasi sebelum menyebarkannya kepada orang lain.
“Kalau ada isu-isu yang berkembang akan terjadi keramaian atau kekisruhan, khususnya di Surabaya, jangan langsung dipercaya. Surabaya tetap aman,” paparnya.
Kaji Ipuk turut menepis anggapan yang mengaitkan kelompok tertentu dengan ancaman keamanan. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga ketertiban kota.
“Kalau Bonek itu memang terkenal wani nekat, tapi mereka tidak akan merusak kampungnya sendiri. Tidak perlu khawatir. Di Surabaya tidak ada perbedaan, semua adalah bagian dari keluarga besar Surabaya yang menjaga kotanya bersama-sama,” katanya.
Di sisi lain, Kaji Ipuk menilai maraknya pemasangan pagar tinggi juga perlu dilihat dari sudut pandang penataan kota. Aspek keamanan, tidak boleh mengabaikan unsur estetika, tata ruang, maupun ketentuan perizinan bangunan.
DPRD Surabaya bersama Pemerintah Kota Surabaya berencana mengkaji fenomena tersebut, termasuk kemungkinan penyesuaian aturan terkait ketinggian pagar di sejumlah kawasan.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Perluas TPU Keputih yang Mulai Penuh, Bangunan Liar Ditertibkan
“Nanti akan kami rancang bersama, termasuk di kawasan kota lama dan terkait pagar-pagar yang terlalu tinggi. Semua harus tetap memperhatikan penataan kota,” ujarnya.
Kaji Ipuk menegaskan bahwa perubahan bentuk bangunan harus mengikuti aturan yang berlaku. Jika ada penambahan struktur, termasuk peninggian pagar, maka proses perizinan harus disesuaikan dengan ketentuan tata ruang yang berlaku.
Menurutnya, rasa aman tidak hanya ditentukan oleh keberadaan pembatas fisik, melainkan juga oleh sistem keamanan yang terintegrasi, koordinasi antarlembaga, serta kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan sekitar.
“Kalau hanya mengandalkan pagar tinggi, persoalan keamanan tidak akan selesai. Tapi kalau sistemnya baik, koordinasi berjalan, dan semua memiliki kesadaran yang sama untuk menjaga Surabaya, maka keamanan itu akan tetap terwujud,” pungkasnya.
Editor : Zein Muhammad