Kamis, 03 Sep 2026 12:47 WIB

24 Jam Lebih Kebakaran di Pabrik Ban Bekas Mojokerto Belum Padam, Ini Penyebabnya

Pemadam kebakaran saat berjibaku padamkan api. (Foto: Supri/selalu.id).
Pemadam kebakaran saat berjibaku padamkan api. (Foto: Supri/selalu.id).

selalu.id - Petugas pemadam kebakaran masih berjibaku memadamkan api di pabrik pengolahan ban bekas di Kelurahan Gununggedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto yang terbakar sejak Rabu (27/5/2026) kemarin.

Petugas pemadam mengalami kesulitan suplai air yang akan digunakan untuk menyemprot api. Selain suplai air, tumpukan ban bekas yang terbuat dari karet juga menyulitkan petugas.

Baca Juga: Pemkab Mojokerto Kucurkan Rp3,2 Miliar untuk Kelompok Tani, Ajak Milenial Tak Gengsi jadi Petani

Pantauan di lokasi, sebanyak tiga unit mobil pemadam kebakaran berada di tempat kebakaran beserta 10 petugas pemadam.

Bantuan suplai air terpaksa dilakukan oleh tim pemadam dan pihak pabrik dengan mendatangkan tangki air dari daerah Pacet untuk membantu proses pemadaman.

Seorang petugas damkar, Suyitno, mengatakan hingga 24 jam kejadian proses pemadaman masih dilakukan oleh pemadam kebakaran.

"Ini sampai 24 jam, kalau keadaan seperti ini masih 50 persen untuk pemadaman. Ini sementara kesulitan untuk airnya," kata Suyitno, Kamis (28/5/2026).

Baca Juga: Gegara Sampah, Tempat Usaha Servis Elektronik dan Laundry di Pandaan Ludes Terbakar

Ia menambahkan, jika suplai air lancar api diprediksi akan padam nanti malam. Namun, jika suplai air tersendat, api bahkan bisa dipadamkan besok.

"Mungkin ini kalau ada suplai air ya bisa sampai tengah malam atau besok juga mungkin bisa selesai. Jadi suplai air yang kita minta di perusahaan-perusahaan sebelah. Tandon-tandonnya juga habis. Tandon-tandon dari damkar pun juga habis," jelasnya.

Menurut Suyitno, metode yang dilakukan untuk memadamkan api dengan cara mengurai ban bekas yang terbakar lalu disemprot dengan air.

Baca Juga: Melihat Keseruan Tradisi Rombekan Tabur Uang Peringati Maulid Nabi Muhammad di Mojokerto

"Setelah padam, kita tinggal ambil air, ini kembali lagi menyala. Jadi ureng sampai kita semprot. Kalau yang sudah padam, kita sisikan, biar enggak terbakar lagi. Ini yang belum kita sentuh, bagian dalam setengah gudang," katanya.

"Jadi dari timur separuh ke barat. Ini yang belum kita jangkau. Kemungkinan kalau suplai airnya lancar, ini mungkin nanti malam sudah selesai. Tapi kalau suplai airnya nggak lancar, ya bisa besok kemungkinan belum selesai," tambah Suyitno.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Air PDAM Bocor Rp400 Miliar, DPRD Surabaya Ungkap Praktik Pengelolaan Air Mandiri di Perumahan Elit

Hingga 28 Agustus 2026, dari total pagu anggaran mencapai Rp1,9 triliun, BPKAD baru merealisasikan anggaran sebesar Rp11 miliar.

Pengumuman Beasiswa Cinta Bergema Jember, 7.566 Mahasiswa Lolos Administrasi

Pemkab Jember nantinya hanya akan menyaring sekitar 4.200 mahasiswa sesuai batas kuota yang tersedia.

Potensi Pendapatan PDAM Hilang, DPRD Surabaya Bakal Panggil Pengelola Air Mandiri di Perumahan Elit

Machmud membeberkan, sejumlah pengelola kawasan perumahan elit memproduksi air sendiri dan menetapkan tarif secara sepihak kepada para penghuninya.

Sering Bikin Bahaya, Arus Lalu Lintas Embong Gayam dan Embong Sawo Surabaya Kini Dibalik

Selama masa uji coba, Dishub Surabaya tidak hanya memfokuskan pemantauan pada Jalan Basuki Rahmat, tetapi juga mengevaluasi kawasan sekitarnya secara berkala.

‎Gempur Rokok Ilegal, Bea Cukai Probolinggo Targetkan Penerimaan Rp1,4 Triliun

Selain pemberantasan rokok ilegal, Bea Cukai Probolinggo juga memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait aturan barang bawaan penumpang dari luar negeri.

Ternyata, Ada 21 SPPG MBG di Sidoarjo Belum Berizin

Imbas keracunan massal santri, Pemkab Sidoarjo mendesak agar pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada program MBG benar-benar diperketat.