Selasa, 21 Jul 2026 23:17 WIB

Pengusaha Tempe Bang Jarwo Lelang Kaos Bersejarah Penutupan Lokalisasi Dolly

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 22 Feb 2022 11:36 WIB
Jarwo susanto menunjukkan kaos yang akan dilelangnya
Jarwo susanto menunjukkan kaos yang akan dilelangnya

selalu.id - Tingginya harga kedelai membuat pengusaha tempe dan tahu menghentikan proses produksinya selama tiga hari sebagai bentuk protes kepada pemerintah. Selain protes, penghentian produksi tersebut diakrenakan harga jual tempe dan tahu akan tinggi dan tidak terbeli oleh masyarakat.

Kondisi sulit bagi pengusaha tempe dan tahu ini juga dirasakan oleh Jarwo Susanto, pelaku UKM tempe "Bang Jarwo" warga eks lokalisasi Dolly.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Tegaskan Penarikan Sumbangan HUT ke-81 RI Diperbolehkan, Asalkan..

Kepada selalu.id, jarwo menuturkan bahwa situasi saat ini seperti buah simalakam bagi pengusaha tempe seperi dirinya. Jika tetap produksi akan merugi, namun jika menaikkan harga hasil produksinya, pedagang dan masyarakat akan protes dan enggan untuk membeli.

"Kalau dijual harga tetap kami rugi, tapi kalau dinaikkan atau ukurannya dikurangi, mereka (pedagang dan pembeli) protes dan ndak ada yang mau beli," keluhnya kepada selalu.id, Selasa (22/2/2022).

Pria yang sempat menjadi aktivis penolakan penutupan lokalisasi Dolly ini berharap pemerintah hadir dan mengatasi masalah para pengusaha tempe dan tahu ini.

"Harusnya ada subsidi atau apalah biar kita bisa tetap berproduksi," pintanya.

Sebagai bentuk solidaritas antar sesama pengusaha tempe, Jarwo memutuskan ikut dalam aksi mogok produksi selama 3 hari, yakni pada tanggal 21 - 23 Februari 2022. Jarwo menghentikan seluruh tindakan usahanya.

"Ya seperti ini kondisinya, ikut aja (mogok produksi) dan berharap ada campur tangan pemerintah mengatasi tingginya harga kedelai," harapnya.

Tiga hari tanpa melakukan aktivitas produksi diakui Jarwo sangat berat, pasanya secara otomatis tidak ada pemasukan sama sekali.

"Jelas tidak ada pemasukan, trus setelah tiga hari jika harga kedelai seperti ini terus kita mau gimana? kalau mogoknya diperpanjang, kita mau makan apa? yang bayar cicilan siapa?," keluh Jarwo.

Menyiasati tidak ada pemasukan selama tiga hari serta ketidak pastian kondisi penjualan tempe setelahnya, Dengan berat hati Jarwo melelang sebuah benda berharga yang menjadi titik balik kehidupannya dari penjual kopi di lingkungan lokalisasi Dolly hingga menjadi pengusaha tempe seperti sekarang ini.

Baca Juga: Diskon BPHTB Surabaya 40 Persen: Fokus Rumah Pertama, Lindungi PAD dan Bantu MBR

"Mau gimana lagi, daripada ndak makan dan ndak bisa bayar cicilan," ujarnya.

Sebuah kaos berwarna cokelat yang sudah lusuh tapi syarat makna dan kenangan terutama untuk warga lokalisasi Dolly direlakan Jarwo untuk dilelang. Kaos tersebut adalah seragam para pekerja yang menolak penutupan Lokalisasi Dolly pada 18 Juni 2014 silam.

"Sebenarnya ini sangat berharga buat saya, buat perjalanan hidup saya. Namun gimana lagi," uajr Jarwo dengan mata sedikit berkaca.

Desain kaos tersebut cukup menarik, bagian depan penuh dengan gambar karikatur yang memperlihatkan berbagai macam profesi pekerjaan yang menggantungkan hidup dari ramainya geliat lokalisasi Dolly, Jarwo sendiri termasuk dalam bagian itu. Diketahui Jarmo membuka usaha warung kopi dan makanan di depan salah satu wisma di Jalan Jarak. Pelanggan Jarwo sendiri adalah PSK dan tamu yang mengunjungi wisma tersebut. Wajar jika dulu dirinya paling getol menolak penutupan lokalisasi, karena bingung mau kerja apalagi jika Dolly ditutup.

"Dulu sempat bingung, kerja apa, saya ndak punya keahlian apa-apa. Seru pokoknya kalau mengenang mas itu," kenangnya.

Sementara bagian belakang kaos terdapat logo bintang serta tulusan FPL yang merupakan kepanjangan dari Front Pekerja Lokalisasi. Dari kelompok inilah Jarwo belajar berorganisasi, menggalang massa, serta protes dengan kebijakan pemerintah yang kala itu dianggap tidak pro rakyat seperti dirinya. Hal ini cukup dimaklumi, Jarwo adalah warga asli kawasan Lokalisasi Dolly yang tumbuh dan melihat peluang mencari uang dengan memanfaatkan ramainya geliat bisnis lendir tersebut.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Tetapkan Perwalian 75 Anak Perlindungan Khusus

"Dulu sempat pelatihan demo, menggalang massa para pekerja lokalisasi dan sempat juga dijadikan target penangkapan polisi. Saya lari ke luar kota selama seminggu dan lolos dari penangkapan," ujarnya sembari tersenyum mengenang perjuangannya pertama kali menjadi aktivis kala itu.

"Titik awal perjalanan saya mulai jualan kopi, masih suka mabuk dan sampai sekarang bisa usaha tempe ada di kaos ini. Harusnya kaos ini saya pigura dan ditempel di dinding, tapi mau gimana lagi," keluhnya.

Saat ditanya mau dilelang dengan harga berapa, Jarwo tidak menyebutkan nominal, harpanya hanya dapat digunakan untuk biaya hidup selama tiga hari (saat mogok produksi) dan untuk memulai produksi baru saat kondisi sudah stabil.

"Sewajarnya aja lah. Jangan dilihat kaosnya, tapi kenangan dan perjalannya. Ini bagus lho buat di pajang di ruang tamu. Dolly adalah kenangan semua warga Surabaya," tutupnya. (SL1)

 

 

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Bantah Suap dan Gratifikasi, Kuasa Hukum Eks Bupati Ponorogo Tegaskan Uang Rp500 Juta Murni Pinjaman

Tim kuasa hukum menyampaikan argumentasi yang menitikberatkan pada belum terbuktinya hubungan antara penerimaan uang yang didakwakan dengan tindakan jabatan.

Terobosan Kesehatan di Jember, Program Home Care Bawa Dokter dan Medis Langsung ke Rumah Warga

Program Home Care merupakan salah satu inovasi Pemkab Jember untuk memperluas akses layanan kesehatan, khususnya bagi warga yang alami keterbatasan mobilitas.

Dukung Proyek Strategis Nasional, TPK Merauke Catat Kenaikan Arus Peti Kemas 11,44 Persen

Peningkatan signifikan ini mencerminkan terjaganya pelayanan operasional terminal sekaligus mengukuhkan peran Pelindo dalam mendukung kelancaran arus logistik.

Pledoi Kasus Korupsi Eks Bupati Ponorogo: Sugiri Akui Khilaf, Pengacara Bantah Suap

Pledoi terdakwa dan penasihat hukum selanjutnya menjadi bagian dari pertimbangan majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.

Demo BEM Nusantara di Kejati Jatim: Tuntut Penangkapan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah

Karangan bunga yang ditempatkan di pintu masuk Kejati itu, sempat disiram bensin untuk dibakar sebagai bentuk kekecewaan.

Komitmen Pemkab Jember untuk Pesantren: Dari Beasiswa Internasional, Insentif Guru Ngaji hingga Layanan Kesehatan Gratis

Gus Fawait juga umumkan pembentukan Forum Komunikasi Pondok Pesantren sebagai wadah resmi mempererat koordinasi antara Pemkab Jember dengan seluruh ponpes.