Kamis, 22 Okt 2026 14:53 WIB

Pengusaha Tempe Bang Jarwo Lelang Kaos Bersejarah Penutupan Lokalisasi Dolly

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 22 Feb 2022 11:36 WIB
Jarwo susanto menunjukkan kaos yang akan dilelangnya
Jarwo susanto menunjukkan kaos yang akan dilelangnya

selalu.id - Tingginya harga kedelai membuat pengusaha tempe dan tahu menghentikan proses produksinya selama tiga hari sebagai bentuk protes kepada pemerintah. Selain protes, penghentian produksi tersebut diakrenakan harga jual tempe dan tahu akan tinggi dan tidak terbeli oleh masyarakat.

Kondisi sulit bagi pengusaha tempe dan tahu ini juga dirasakan oleh Jarwo Susanto, pelaku UKM tempe "Bang Jarwo" warga eks lokalisasi Dolly.

Baca Juga: DPRD Surabaya Siapkan Public Hearing dalam Tatib Baru, Cegah Protes Perda Susulan

Kepada selalu.id, jarwo menuturkan bahwa situasi saat ini seperti buah simalakam bagi pengusaha tempe seperi dirinya. Jika tetap produksi akan merugi, namun jika menaikkan harga hasil produksinya, pedagang dan masyarakat akan protes dan enggan untuk membeli.

"Kalau dijual harga tetap kami rugi, tapi kalau dinaikkan atau ukurannya dikurangi, mereka (pedagang dan pembeli) protes dan ndak ada yang mau beli," keluhnya kepada selalu.id, Selasa (22/2/2022).

Pria yang sempat menjadi aktivis penolakan penutupan lokalisasi Dolly ini berharap pemerintah hadir dan mengatasi masalah para pengusaha tempe dan tahu ini.

"Harusnya ada subsidi atau apalah biar kita bisa tetap berproduksi," pintanya.

Sebagai bentuk solidaritas antar sesama pengusaha tempe, Jarwo memutuskan ikut dalam aksi mogok produksi selama 3 hari, yakni pada tanggal 21 - 23 Februari 2022. Jarwo menghentikan seluruh tindakan usahanya.

"Ya seperti ini kondisinya, ikut aja (mogok produksi) dan berharap ada campur tangan pemerintah mengatasi tingginya harga kedelai," harapnya.

Tiga hari tanpa melakukan aktivitas produksi diakui Jarwo sangat berat, pasanya secara otomatis tidak ada pemasukan sama sekali.

"Jelas tidak ada pemasukan, trus setelah tiga hari jika harga kedelai seperti ini terus kita mau gimana? kalau mogoknya diperpanjang, kita mau makan apa? yang bayar cicilan siapa?," keluh Jarwo.

Menyiasati tidak ada pemasukan selama tiga hari serta ketidak pastian kondisi penjualan tempe setelahnya, Dengan berat hati Jarwo melelang sebuah benda berharga yang menjadi titik balik kehidupannya dari penjual kopi di lingkungan lokalisasi Dolly hingga menjadi pengusaha tempe seperti sekarang ini.

Baca Juga: Banyak Kabel Semrawut di Surabaya, DPRD Minta Pemkot Tertibkan dan Tegas Pada Provider

"Mau gimana lagi, daripada ndak makan dan ndak bisa bayar cicilan," ujarnya.

Sebuah kaos berwarna cokelat yang sudah lusuh tapi syarat makna dan kenangan terutama untuk warga lokalisasi Dolly direlakan Jarwo untuk dilelang. Kaos tersebut adalah seragam para pekerja yang menolak penutupan Lokalisasi Dolly pada 18 Juni 2014 silam.

"Sebenarnya ini sangat berharga buat saya, buat perjalanan hidup saya. Namun gimana lagi," uajr Jarwo dengan mata sedikit berkaca.

Desain kaos tersebut cukup menarik, bagian depan penuh dengan gambar karikatur yang memperlihatkan berbagai macam profesi pekerjaan yang menggantungkan hidup dari ramainya geliat lokalisasi Dolly, Jarwo sendiri termasuk dalam bagian itu. Diketahui Jarmo membuka usaha warung kopi dan makanan di depan salah satu wisma di Jalan Jarak. Pelanggan Jarwo sendiri adalah PSK dan tamu yang mengunjungi wisma tersebut. Wajar jika dulu dirinya paling getol menolak penutupan lokalisasi, karena bingung mau kerja apalagi jika Dolly ditutup.

"Dulu sempat bingung, kerja apa, saya ndak punya keahlian apa-apa. Seru pokoknya kalau mengenang mas itu," kenangnya.

Sementara bagian belakang kaos terdapat logo bintang serta tulusan FPL yang merupakan kepanjangan dari Front Pekerja Lokalisasi. Dari kelompok inilah Jarwo belajar berorganisasi, menggalang massa, serta protes dengan kebijakan pemerintah yang kala itu dianggap tidak pro rakyat seperti dirinya. Hal ini cukup dimaklumi, Jarwo adalah warga asli kawasan Lokalisasi Dolly yang tumbuh dan melihat peluang mencari uang dengan memanfaatkan ramainya geliat bisnis lendir tersebut.

Baca Juga: 45 Ribu Reklame di Surabaya, Ratusan Masih Bandel dan Nunggak Pajak

"Dulu sempat pelatihan demo, menggalang massa para pekerja lokalisasi dan sempat juga dijadikan target penangkapan polisi. Saya lari ke luar kota selama seminggu dan lolos dari penangkapan," ujarnya sembari tersenyum mengenang perjuangannya pertama kali menjadi aktivis kala itu.

"Titik awal perjalanan saya mulai jualan kopi, masih suka mabuk dan sampai sekarang bisa usaha tempe ada di kaos ini. Harusnya kaos ini saya pigura dan ditempel di dinding, tapi mau gimana lagi," keluhnya.

Saat ditanya mau dilelang dengan harga berapa, Jarwo tidak menyebutkan nominal, harpanya hanya dapat digunakan untuk biaya hidup selama tiga hari (saat mogok produksi) dan untuk memulai produksi baru saat kondisi sudah stabil.

"Sewajarnya aja lah. Jangan dilihat kaosnya, tapi kenangan dan perjalannya. Ini bagus lho buat di pajang di ruang tamu. Dolly adalah kenangan semua warga Surabaya," tutupnya. (SL1)

 

 

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Ketua BEM Unair Ngaku Ditahan di Polda Jatim Gegara Dituduh Sebar Ajakan Kerusuhan

Ia juga menegaskan bahwa tuduhan mengenai gerakan yang dikondisikan tidaklah benar.

Peringatan Hari Santri, DPW PKB Jatim: Jihad Masa Kini adalah Melawan Karhutla

DPW PKB Jatim secara simbolis menyerahkan 5.000 bibit pohon kepada peserta apel sebagai wujud nyata komitmen menjaga kelestarian lingkungan.

Ruang Data Centre Lama Untag Terbakar, Satu PMK Diterjunkan

Alarm langsung berbunyi setelah muncul kepulan asap.

Carok di Sidoarjo, Pria Misterius Tewas dan Pedagang Es Degan Terluka

Polisi masih mendalami aksi pertengkaran berdarah yang mengakibatkan korban jiwa ini.

Perampokan Toko Emas di Jember, Pelaku Bawa Tas Isi Mata Uang Asing dan Valas Raib

Pelaku juga membacok pemilik toko emas murni Aliong dan ibunya.

67 Bangunan Liar di Frontage Road Sidoarjo Diratakan

selalu.id - Pemkab Sidoarjo menurunkan sekitar 600 personel gabungan untuk membongkar 67 bangunan liar di sepanjang frontage road di Kecamatan Waru, Gedangan,