selalu.id - Di tengah keseharian yang lekat dengan aktivitas kapal, peti kemas, dan layanan logistik, komunitas fotografi pekerja PT Pelindo Terminal Petikemas (PTP), Lens on Logistics (LoLO) menghadirkan ruang bagi pekerja Pelindo dan masyarakat untuk bercerita tentang Indonesia melalui fotografi.
Tradisi, wajah masyarakat, kesenian, hingga kearifan lokal dari berbagai daerah direkam dan ditampilkan dalam pameran fotografi “Frames of Life V.3: Budaya Indonesia dalam Lensa” yang berlangsung pada 21-24 September 2026 di Surabaya.
Baca juga: Arus Peti Kemas Tumbuh 10,65 Persen, TPK Merauke Perkuat Sinergi Stakeholder Pelabuhan
Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, Frames of Life menghadirkan puluhan karya fotografi dari pekerja Pelindo maupun masyarakat umum yang merekam keberagaman budaya Nusantara. Keterlibatan publik menjadikan pameran ini tidak hanya sebagai ruang ekspresi komunitas pekerja, tetapi juga ruang bersama untuk melihat Indonesia melalui beragam sudut pandang.
Sekretaris Perusahaan PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan perusahaan memberikan ruang bagi pekerja untuk mengembangkan minat dan potensinya melalui berbagai komunitas internal. Menurutnya, keberadaan komunitas menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun lingkungan kerja yang positif sekaligus mendukung employee wellbeing.
“Pekerja memiliki beragam potensi yang tidak selalu terlihat dalam aktivitas profesional sehari-hari. Melalui komunitas seperti Lens on Logistics, kami ingin memberikan ruang agar potensi tersebut dapat berkembang. Menariknya, Frames of Life kini juga menjadi ruang yang mempertemukan karya pekerja dengan karya masyarakat. Fotografi menjadi medium bersama untuk bercerita tentang keberagaman Indonesia,” kata Widyaswendra.
Dari Balik Lensa, Menjaga Cerita yang Tetap Hidup
Tema “Budaya Indonesia dalam Lensa” membawa pengunjung melihat lebih dekat berbagai tradisi dan kehidupan masyarakat yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Foto-foto yang ditampilkan tidak hanya menonjolkan sisi visual, tetapi juga menghadirkan cerita tentang manusia, ruang, kebiasaan, dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia.
Rangkaian Frames of Life V.3 juga menghadirkan workshop bersama sejumlah praktisi fotografi. Mamuk Ismuntoro dan Beky Subechi berbagi pengalaman dan teknik dalam sesi portraiture photography dengan menghadirkan model berkarakter tradisional serta perempuan pembatik sebagai objek foto. Sesi lainnya mengangkat macro photography bertema Eksotisme Serangga, serta pemanfaatan fotografi untuk memasuki pasar digital melalui microstock.
Baca juga: KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Pelindo Buka Posko 24 Jam di Tanjung Perak
Fotografer sekaligus pemateri Frames of Life V.3, Beky Subechi, mengatakan fotografi memiliki hubungan yang kuat dengan upaya pelestarian budaya. Menurutnya, budaya bukan sekadar tradisi yang diwariskan, tetapi juga memuat nilai-nilai dan inti kehidupan masyarakat yang terus dijalankan hingga saat ini.
“Di situlah titik temu antara fotografi dan budaya. Fotografi tidak hanya merekam apa yang kita lihat hari ini, tetapi juga mampu menghadirkan kembali sesuatu dari masa lampau ke dalam konteks kehidupan sekarang melalui visual. Karena itu, fotografi menjadi medium yang sangat relevan untuk menjaga dan melestarikan budaya agar nilai dan ceritanya tetap dapat dilihat serta dipahami dari generasi ke generasi,” ujar Beky.
Salah satu pengunjung sekaligus peserta workshop, Muhammad Adrian Abdurahman L Ubay, mengatakan kegiatan tersebut memberinya perspektif baru tentang fotografi, terutama dalam memahami aspek emosional serta etika ketika mengambil gambar.
“Saya mendapatkan banyak hal baru, mulai dari bagaimana mendalami sisi emosional dalam fotografi hingga memahami adab dan etika ketika memotret. Yang paling menarik, kami tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diberi kesempatan untuk langsung praktik. Waktu praktik yang diberikan cukup sehingga kami bisa mencoba dan menerapkan ilmu yang disampaikan oleh pemateri,” ujarnya.
Baca juga: Gelar Diskusi Bersama Kejati Jatim, Pelindo Pertegas Mitigasi Risiko Hukum BUMN
Keterlibatan publik diperluas melalui Lomba Fotografi Nasional “Budaya Indonesia dalam Lensa” yang terbuka bagi masyarakat umum. Peserta diajak mengirimkan karya foto orisinal yang merekam kebudayaan Nusantara.
Melalui pameran, workshop, dan kompetisi fotografi tersebut, Frames of Life V.3 berkembang dari aktivitas komunitas pekerja menjadi ruang yang mempertemukan pekerja Pelindo, fotografer, dan masyarakat dalam satu cerita tentang Indonesia.
Dari beragam lensa dan sudut pandang, wajah serta tradisi Nusantara direkam bukan sekadar menjadi karya visual, tetapi juga menjadi catatan tentang budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Editor : Achmad Supriyadi