selalu.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan pemasangan 4 hingga 5 unit seismograf pada 2026 untuk memantau aktivitas kegempaan di Kota Pahlawan.
Namun, jumlah tersebut belum menjadi cakupan ideal pemantauan seluruh wilayah Surabaya.
Baca juga: Sesar Aktif Ancam Surabaya, Pemkot Minta BPBD Siapkan Skenario Evakuasi Warga saat Gempa
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto menyebut kebutuhan ideal mencapai sekitar 14 stasiun pemantauan.
Artinya, pada tahap awal Pemkot Surabaya baru menyiapkan sebagian dari jumlah sensor yang dibutuhkan untuk mencakup seluruh wilayah kota.
“Pemasangan akan diutamakan berada di ruang-ruang publik atau perkantoran yang memiliki jaringan internet stabil,” kata Irvan, Jumat (18/9/2026).
Alat yang disiapkan merupakan Raspberry Shake (RS6D), berdasarkan usulan tim geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dipimpin Prof Amien Widodo.
Menurut Irvan, RS6D dipilih karena memiliki ukuran relatif kecil dan lebih efisien untuk ditempatkan di kawasan perkotaan. Alat tersebut juga dapat merekam getaran mulai dari gempa berskala kecil hingga gempa kuat.
“Alatnya yang berukuran kecil juga memudahkan penempatan di area kota yang terbatas,” jelasnya.
Pemkot Surabaya menyiapkan pemasangan sensor tersebut untuk memperkuat pemantauan dua segmen patahan yang berada di wilayah Surabaya, yakni Patahan Surabaya dan Patahan Waru yang merupakan bagian dari sistem Sesar Kendeng.
Data dari sensor nantinya direncanakan menjadi bagian dari sistem pemantauan harian. Pemkot juga berencana mengintegrasikan informasi tersebut dengan Command Center 112.
Baca juga: Kebiasaan Sepele Warga Surabaya Ini Bisa Bikin Damkar Sulit Masuk saat Kebakaran, Ini Penyebabnya
“Dengan pemasangan alat ini, kami juga ingin membangun sistem peringatan dini melalui pemantauan harian yang nantinya akan diintegrasikan dengan pusat kendali, Command Center 112,” kata Irvan.
Rencana pemasangan seismograf ini muncul setelah pembahasan mengenai keberadaan dua patahan di Surabaya kembali menjadi perhatian publik.
Pakar geologi ITS, Dr Ir Amien Widodo, menjelaskan kedua patahan tersebut memiliki karakteristik patahan naik atau thrust fault.
Aktivitas geologis tersebut berkaitan dengan dorongan dari bawah permukaan bumi yang secara perlahan mengangkat lapisan tanah.
Menurut Amien, pemantauan secara terus-menerus diperlukan untuk mengetahui aktivitas kegempaan di sekitar jalur patahan.
Baca juga: Ini Ciri-ciri Pria Misterius yang Ditemukan Tewas di Bawah Jembatan Suramadu
“Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time. Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan,” ujarnya.
Di sisi lain, keberadaan patahan tidak otomatis berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat. Sebelumnya, BPBD Surabaya juga mengimbau warga tidak panik dan memperoleh informasi mengenai potensi gempa dari sumber resmi.
Pakar ITS sebelumnya juga menyebut keberadaan Patahan Surabaya dan Patahan Waru memang telah teridentifikasi, tetapi status aktivitasnya membutuhkan kajian dan pemantauan lebih lanjut.
Karena itu, pemasangan seismograf tidak hanya diarahkan untuk mengetahui apakah terjadi gempa, tetapi juga mengumpulkan data aktivitas kegempaan secara berkelanjutan sebagai bahan mitigasi bencana di Surabaya.
Editor : Zein Muhammad