Penjelasan PDAM Soal Air Baku Kali Surabaya yang Kini Keruh dan Berbau

Reporter : Ade Resty
Penampakan air keruh dan berbusa berbau kimia yang terlihat di sungai Surabaya. (Dok. Selalu.id).

selalu.id - Persoalan pencemaran Kali Surabaya tak selesai hanya pada fenomena busa putih, air keruh, dan bau menyengat yang mengganggu warga.

Kini, Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya buka suara dan mempertanyakan kualitas air baku yang mereka beli dari Perum Jasa Tirta (PJT) I.

Baca juga: Didemo Gempar Jatim soal Air Mampet, PDAM Surabaya Cuma Jawab Begini

Manajer Tata Usaha dan Humas Perumda Air Minum Surya Sembada, Louis Andilun Gatu, mengungkapkan meski kondisi air baku yang masuk ke sistem pengolahan saat ini sudah membaik, pihaknya belum menerima hasil uji laboratorium lengkap dari PJT I pascapenurunan kualitas akhir pekan lalu.

"Untuk parameter air baku lengkap itu ada di PJT I," tegas Louis saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).

Louis menekankan adanya perbedaan kewenangan. PJT I bertanggung jawab memantau kualitas air sungai sebagai air baku, sedangkan PDAM berfokus pada pengolahan agar air aman disalurkan ke pelanggan.

Ia menyoroti status transaksi jual-beli air baku ini. Menurutnya, PDAM Surabaya membayar kewajiban tersebut kepada PJT I, sehingga berhak mendapatkan pasokan air baku sesuai spesifikasi kelas yang disepakati.

"PDAM ini kan tidak gratis mengambil air. Dari kita berbayar itu, bayarnya ke siapa? Ke Jasa Tirta. Kita itu beli air harusnya kelas dua. Tapi yang kita terima kelas tiga, kelas empat," ungkapnya.

Baca juga: Air Keruh Berbau Kimia Teror Warga Surabaya, Ini Dugaan Penyebabnya

Terkait insiden pencemaran terbaru, Louis mengaku belum mengetahui detail parameter polutan maupun kelas air yang diterima karena hasil lab masih ditahan pihak PJT I.

"Yang kemarin itu nggak tahu kelas berapa, nggak tahu sampai ada banyak polutan itu," jelasnya.

Selain tranparansi data lab, Perumda mendesak adanya keterbukaan informasi real-time dan sistem peringatan dini (early warning system) dari PJT I. Menurut Louis, peran PJT I tak boleh sebatas memantau (monitoring).

"Repotnya di situ. Pihak Jasa Tirta hanya monitoring. Paling nggak ketika ada kekeruhan, ada sensor, segera beri tahu kami. Pak, ini sebentar lagi ada pencemaran," katanya.

Baca juga: Cegah Busa Masuk Kalimas Surabaya, PJT I Alirkan Pasokan Air Tambahan dari Waduk Sutami

Pemberitahuan awal ini dinilai sangat krusial agar Perumda bisa langsung mengambil langkah taktis di instalasi pengolahan, seperti menambah disinfektan, memanfaatkan karbon aktif, hingga memaksimalkan aerasi blower.

Sebab, Perumda tidak memiliki akses maupun kewenangan untuk memantau sepanjang aliran sungai secara langsung.

"Makanya harus ada komunikasi dari PJT ke kami juga. Lah kami kan nggak bisa memantau juga, gimana," pungkas Louis.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru