selalu.id - Portal yang menutup akses jalan permukiman ternyata bisa menjadi persoalan serius saat terjadi kebakaran maupun kondisi darurat medis.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya meminta setiap lingkungan memiliki mekanisme khusus untuk membuka portal dengan cepat ketika petugas membutuhkan akses.
Baca juga: SGE 2026 Catat Transaksi Rp7,75 Miliar, UMKM Surabaya Bidik Pasar Lebih Luas
Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto mengatakan, kecepatan petugas menuju lokasi kejadian sangat bergantung pada kondisi akses jalan. Persoalan ini semakin krusial jika kejadian berlangsung pada dini hari ketika portal permukiman dalam kondisi tertutup.
“Ketika kejadian itu pada dini hari misalnya, itu diharapkan portal yang selama ini tertutup bisa secara cepat dibuka,” kata Irvan, Minggu (15/8/2026).
Menurutnya, pengurus lingkungan perlu menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) sehingga tidak perlu menunggu situasi darurat terjadi untuk menentukan siapa yang bertugas membuka portal.
“Atau disusun sebuah SOP ketika ada kejadian di kampung atau pemukiman, maka otomatis harus ada petugas yang segera membuka portal tersebut,” ujarnya.
Selain portal, kendaraan warga yang parkir di badan jalan juga menjadi salah satu hambatan yang masih ditemukan petugas saat menuju lokasi kejadian.
Irvan menegaskan, akses jalan lingkungan harus tetap terbuka agar kendaraan penanganan darurat dapat bergerak cepat. Kondisi tersebut menjadi semakin penting di kawasan permukiman dengan gang sempit.
“Kita semua membutuhkan kecepatan penanganan kedaruratan itu melalui aksesibilitas yang tidak terhalang. Nah, rata-rata permasalahan kita ada pada kendaraan yang terparkir di badan jalan sehingga mengganggu petugas untuk melakukan penanganan,” jelasnya.
Peringatan tersebut disampaikan BPBD di tengah tingginya kejadian kebakaran selama musim kemarau. Sepanjang 1 Mei hingga 31 Juli 2026, BPBD Surabaya mencatat 71 kejadian kebakaran pada hunian.
Baca juga: Aset Pemkot Surabaya Belum Maksimal Hasilkan PAD, DPRD: BPKAD Harus Berorientasi Bisnis!
Selain itu, terdapat 163 kejadian kebakaran non-pemukiman yang meliputi lahan kosong, gudang hingga ruko yang tidak digunakan sebagai tempat tinggal.
Surabaya Barat menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran terbanyak dengan 69 kasus. Disusul Surabaya Selatan sebanyak 57 kejadian, Surabaya Timur 55 kejadian, Surabaya Utara 36 kejadian, dan Surabaya Pusat 17 kejadian.
Dalam periode yang sama, BPBD mencatat 360 korban yang tertangani. Sebanyak 27 orang mengalami luka-luka, sementara lima orang meninggal dunia.
Irvan mengatakan, kondisi tersebut menjadi bagian dari evaluasi mitigasi karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung satu hingga dua bulan ke depan.
“Nah, ini adalah bagian dari mitigasi kita terkait dengan antisipasi, karena musim kemarau ini diperkirakan masih ada mungkin satu-dua bulan lagi,” katanya.
Baca juga: Wali Kota Eri Minta Figur Cak dan Ning Surabaya jaga Attitude dan Akhlak Buntut Kasus Dugaan Aborsi
BPBD Surabaya kemudian mendorong sistem pengamanan akses lingkungan yang telah diterapkan RW 1 Kelurahan Pucang Sewu, Kecamatan Gubeng, agar dapat menjadi contoh bagi wilayah lain.
Menurut Irvan, sistem tersebut dapat diterapkan di RW lain dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing kawasan.
“Sistem yang sudah dibangun dan dibuat RW 1 Pucang Sewu ini supaya bisa diterapkan di masing-masing RW dengan segala situasi dan kondisi menyesuaikan di wilayahnya masing-masing,” tuturnya.
Ia menekankan, menjaga akses jalan bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Pengurus wilayah mulai dari camat, lurah, RT hingga RW juga perlu memastikan warga tidak menggunakan badan jalan sebagai tempat parkir.
“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Editor : Redaksi