selalu.id – Suasana semarak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di kawasan Kampung Bendera Darmokali, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Deretan bendera Merah Putih, umbul-umbul, lampion, hingga berbagai ornamen khas perayaan 17-an tampak membentang rapi menghiasi sepanjang jalan kawasan tersebut.
Kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sentra atribut kemerdekaan ini kembali dipadati warga.
Banyak di antara mereka datang berburu perlengkapan hiasan untuk rumah, lingkungan RT/RW, sekolah, perkantoran, hingga instansi pemerintah.
Namun, di balik warna-warni dekorasi yang memanjakan mata, para pedagang menyimpan duka mendalam. Derasnya arus perdagangan digital membuat omzet mereka tergerus drastis hingga 90 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Safitri, salah seorang pedagang yang telah memproduksi dan menjual atribut kemerdekaan selama satu dekade, mengaku merasakan betul dampak pergeseran tren belanja masyarakat ke platform daring.
“Dulu omzet bisa Rp20 juta sampai Rp50 juta. Sekarang untuk dapat Rp5 juta saja susah, bahkan Rp3 juta sehari juga kadang tidak sampai,” ungkap Safitri saat ditemui di lapaknya, Selasa (4/8/2026).
Meski demikian, Safitri tak patah arang. Penjualan skala besar dari lembaga swasta dan instansi pemerintah seperti kantor kelurahan, kepolisian, TNI, hingga perbankan menjadi tumpuan utamanya untuk terus bertahan.
Di lapak milik Safitri, beragam ornamen dijual dengan harga bervariasi. Lampion dibanderol mulai Rp16 ribu, bendera kain berkisar Rp15 ribu hingga Rp25 ribu, serta kipas hias merah putih dijual Rp15 ribu hingga Rp40 ribu.
Baca juga: Revitalisasi Pasar Keputran Surabaya Kini Sudah 60 Persen, Pemotongan Unggas Dipindah ke RPU
Hal senada diungkapkan Sulis, pedagang lainnya di kawasan Darmokali. Menurutnya, jumlah pembeli yang datang secara fisik terus berkurang setiap tahun.
“Dulu jauh lebih ramai. Sekarang omzet Rp1 juta sehari saja kadang tidak dapat,” keluhnya.
Sadar tak bisa terus bertahan dengan cara konvensional, Sulis mulai memutar otak dengan memanfaatkan platform media sosial untuk menggaet pembeli.
“Kalah sama online. Akhirnya saya juga ikut jualan lewat TikTok, kadang melayani COD karena sekarang semuanya serba online,” jelasnya.
Baca juga: Gagal Cari Cuan Pascabebas, Pengedar Sabu di Surabaya Kembali Masuk Bui
Selain menjual atribut eceran, Sulis menyediakan paket perlengkapan perayaan mulai harga Rp100 ribu, serta dekorasi latar (backdrop) dengan kisaran harga Rp95 ribu hingga Rp300 ribu tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.
Di tengah gempuran pasar e-commerce, para pedagang menyuarakan harapan agar masyarakat Kota Pahlawan tetap bersedia membeli secara langsung ke Kampung Bendera Darmokali.
Pasalnya, atribut yang dijajakan bukan sekadar barang dagangan, melainkan hasil karya dan produksi mandiri warga setempat.
“Kami bukan hanya menjual, tetapi juga membuat sendiri berbagai perlengkapan itu di sini,” pungkas Sulis.
Editor : Zein Muhammad