Arus Bawah PSHT Jatim Buka Ruang Rekonsiliasi dengan M1R, Fokus Kejar Pelaku Pembacokan

Reporter : Moris Mangke
Koordinator Arus Bawah PSHT Jatim, Bondan (tengah) bersama tim saat memberikan keterangan. (Foto: Moris/selalu.id).

selalu.id - Komunitas Arus Bawah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Jawa Timur menegaskan konflik pasca pembacokan dua petugas valet di kawasan Ambyar Super Club tidak berkaitan dengan persoalan suku maupun organisasi.

Koordinator Arus Bawah PSHT Jatim, Bondan, mengatakan pihaknya sejak awal memahami bahwa peristiwa tersebut bermula dari persoalan pribadi dan pekerjaan. 

Baca juga: Polisi Buru Pelaku Pembacokan Anggota PSHT di Ambyar Superclub Surabaya

Karena itu, aksi yang dilakukan sejumlah anggota PSHT tidak dimaksudkan untuk memicu permusuhan antar kelompok.

“Sebetulnya kami tidak ingin melakukan aksi. Kami melihat persoalan tersebut merupakan masalah pribadi dan pekerjaan. Tidak ada kaitannya dengan organisasi,” tegasnya, Minggu (2/8/2026).

Peristiwa pembacokan terhadap dua warga PSHT di area parkir Ambyar Super Club sempat membuat situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Surabaya memanas. 

Dalam tiga hari setelah kejadian, massa PSHT mendatangi kawasan Jalan Teuku Umar, Tegalsari, Surabaya yang menjadi lokasi markas Maluku Satu Rasa (M1R).

Kedatangan tersebut dipicu rasa tidak terima setelah dua anggota PSHT mengalami luka akibat sabetan senjata tajam. Terduga pelaku disebut merupakan oknum debt collector (DC) yang juga tergabung dalam organisasi M1R.

Kondisi itu kemudian memunculkan kekhawatiran konflik berkembang menjadi persoalan antar kelompok dan memicu sentimen suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA.

Bondan mengatakan situasi semakin memanas setelah terjadi bentrokan di Jalan Teuku Umar pada Senin (27/7/2026) dini hari. 

Baca juga: Massa PSHT Kepung Markas M1R di Surabaya: Sempat Ricuh, Satu Petugas Terluka

Sejumlah video yang beredar di media sosial memunculkan persepsi di kalangan anggota PSHT di berbagai daerah bahwa aparat melakukan pembiaran terhadap massa yang membawa senjata tajam.

Menurutnya, penyebaran video tersebut memicu reaksi dari anggota PSHT di sejumlah wilayah. Dari situ kemudian muncul gerakan spontan yang mengatasnamakan komunitas Arus Bawah PSHT Jatim.

Bondan mengatakan pihaknya telah menyampaikan kekecewaan kepada kepolisian dan memperoleh tanggapan terkait penanganan perkara tersebut. 

Saat ini, fokus utama komunitas Arus Bawah PSHT adalah mendorong aparat segera menangkap seluruh pelaku yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan.

Baca juga: 2 Oknum Petugas DLH Surabaya Peras Pedagang di Kawasan Tugu Pahlawan, Ini Tampangnya

“Kami tidak ingin bermusuhan dengan kelompok suku, agama, maupun organisasi lain karena hal itu justru dapat mencederai Bhinneka Tunggal Ika. Yang kami lawan adalah tindakan premanisme yang dilakukan oknum debt collector,” tegasnya.

Bondan menambahkan, hingga kini belum ada komunikasi langsung antara komunitas Arus Bawah PSHT Jatim dan M1R. Meski demikian, pihaknya membuka ruang dialog dan rekonsiliasi untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Bondan mengajak seluruh pihak untuk duduk bersama serta mendukung proses penegakan hukum. Ia menegaskan persoalan tersebut tidak boleh berkembang menjadi konflik yang membawa identitas suku atau kelompok tertentu.

“Tentu kami membuka lebar pintu komunikasi. Musuh kami bukan orang Madura, orang Ambon, atau orang Jawa. Musuh kami adalah tindakan premanisme. Mari duduk bersama dan mencari satu pelaku yang masih ditetapkan sebagai buronan,” pungkasnya.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru