Pemkot Surabaya Batalkan Ekskul Esport, ESI Sebut Wadah Pembinaan Bakat Pelajar Terancam Hilang

Reporter : Ade Resty
Ketua ESI Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto. (Foto: Ade/selalu.id).

selalu.id - Keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang membatalkan rencana memasukkan Mobile Legends sebagai kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah mendapat respons dari Esports Indonesia (ESI).

Organisasi tersebut menilai kebijakan itu justru menutup ruang pembinaan bagi pelajar yang memiliki minat dan bakat di bidang esport.

Baca juga: Pemerintah Pusat Apresiasi Komitmen Surabaya dalam Penuhi Hak dan Lindungi Anak

Ketua ESI Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto, mengatakan keputusan tersebut seharusnya didahului dengan pembahasan bersama para pemangku kepentingan, termasuk ESI sebagai induk cabang olahraga esport.

Menurutnya, pembinaan melalui jalur sekolah dapat menjadi solusi untuk mengarahkan aktivitas bermain gim ke arah yang lebih terukur, sekaligus mencegah siswa bermain secara berlebihan tanpa pengawasan.

“Kami sebagai pegiat olahraga esport tentunya sangat menyesalkan keputusan tersebut. Seharusnya kami sebagai cabang olahraga diajak duduk bersama terlebih dahulu untuk membahas konsep olahraga ini yang ramah anak,” kata Achmad, Kamis (30/7/2026).

Achmad menilai perkembangan teknologi membuat anak-anak semakin mudah mengakses berbagai jenis gim. Oleh karena itu, ia menilai pendekatan yang tepat bukanlah pelarangan, melainkan pengaturan dan pendampingan.

“Mustahil hari ini kita menolak perkembangan gim. Yang seharusnya dilakukan adalah merangkul dan mengakomodasi agar menjadi wadah prestasi, dengan waktu bermain yang tepat dan bermanfaat bagi siswa,” jelasnya.

Baca juga: Aturan Baru Pemkot, Warga Ber-KTP Surabaya yang Ngekos Wajib Update Alamat

Achmad menambahkan, keberadaan ekskul esport memungkinkan sekolah dan orang tua mengawasi aktivitas bermain siswa, termasuk mengatur durasi dan intensitas latihan. Di sisi lain, para pembina jugadapat memberikan edukasi mengenai disiplin danmanajemen waktu.

“Dengan adanya ekskul, orang tua dapat membatasi waktu bermain esport di sekolah maupun saat libur dengan durasi yang telah ditetapkan. Guru pembina yang berasal dari atlet maupun anggota ESI juga kami bekali pemahaman agar siswa bermain secara terukur dan tidak lupa waktu,” katanya.

ESI Surabaya juga menilai program tersebut berpotensi melahirkan atlet-atlet baru sekaligus membuka peluang kerja bagi mantan atlet dan pelatih esport.

Menurut Achmad, tingginya animo masyarakat terhadap berbagai turnamen yang digelar ESI menjadi bukti bahwa esport memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Baca juga: Jangan Main-main, Wali Kota Eri Siapkan Sanksi Tegas Perusak Aset Pemkot Surabaya

“Antusiasme peserta di berbagai event yang diselenggarakan ESI Kota Surabaya sangat tinggi, termasuk Piala Wali Kota. Ini menunjukkan bahwa esport memiliki potensi besar jika dibina secara tepat,” tandasnya.

Sebelumnya, rencana menjadikan Mobile Legends sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sempat menjadi sorotan publik sebelum akhirnya dibatalkan oleh Pemkot Surabaya. 

Keputusan itu memunculkan perdebatan mengenai batas antara hiburan, pendidikan, dan pembinaan prestasi di kalangan pelajar.

Editor : Zein Muhammad

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru