Pulau Lusi, Jejak Lumpur yang Kini Menanti Kehidupan Baru

Reporter : Ariyanto
Dermaga utama yang menjadi akses masuk Pulau Lusi. (Foto: Ariyanto/selalu.id) 

selalu.id - Deru mesin speed boat memecah hiruk-pikuk siang di Dermaga Tlocor, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Di balik kemudinya, Buasan bersiap mengantar penumpang menyeberangi muara Sungai Porong menuju Pulau Lusi.

Meski matahari telah meninggi, suasana dermaga tak seramai beberapa tahun silam. Tidak ada antrean panjang wisatawan yang menunggu giliran menaiki kapal. Sejumlah perahu justru masih terikat di tepian, sementara para pengemudinya hanya menunggu datangnya penumpang yang belum tentu tiba.

Baca juga: 75 LC Diamankan di Warung Pangku Jabon Sidoarjo Ternyata Banyak Dari Kota Ini

Buasan bukan orang baru di kawasan itu. Sejak 2008, ia telah menjadi operator kapal. Ia menyaksikan sendiri proses pembuangan lumpur Lapindo ke muara Sungai Porong hingga perlahan membentuk daratan baru yang kini dikenal sebagai Pulau Lusi.

"Saya berharap tempat ini bisa ramai lagi seperti dulu. Sejak sekitar tahun 2023, jumlah pengunjung mulai menurun hingga kini masih sepi. Saat ini, pengunjung hanya ramai pada Sabtu dan Minggu. Sementara pada hari biasa, terkadang hanya ada satu rombongan, bahkan sering kali tidak ada pengunjung sama sekali," ujarnya.

Menurut Buasan, sepinya wisatawan berdampak langsung terhadap mata pencaharian para operator kapal. Jika dahulu ada sekitar sembilan operator yang melayani penyeberangan, kini pada akhir pekan hanya dua hingga tiga operator yang beroperasi. Sementara pada hari biasa, tak jarang tidak ada kapal yang berangkat karena tidak ada penumpang.

Perjalanan sekitar 30 menit membawa pengunjung menuju Pulau Lusi. Hamparan mangrove yang tumbuh rimbun masih menjadi pemandangan utama di pulau seluas sekitar 94 hektare itu. Namun, saat memasuki kawasan wisata, sejumlah fasilitas mulai menunjukkan tanda-tanda kurangnya perawatan.

Salah satu pos jaga tampak rusak dan sudah tidak lagi difungsikan. Musala masih dapat digunakan oleh pengunjung, meski terlihat mulai kusam. Sementara bangunan kamar mandi masih berdiri, tetapi bagian dalamnya tampak kurang terawat dengan dinding yang kotor. Di sisi lain, Pulau Lusi masih memiliki area terbuka yang luas untuk kegiatan berkemah, gathering, hingga wisata edukasi.

Buasan menilai, potensi wisata Pulau Lusi sebenarnya masih sangat besar. Selain wisata mangrove, kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi wisata konservasi, taman edukasi, aviary, maupun wahana permainan keluarga sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan.

"Harapan kami ada perhatian lebih. Ada perawatan, perbaikan, atau penambahan wahana supaya pengunjung datang lagi. Dulu waktu awal dibuka ramai sekali. Sekarang semakin sepi. Padahal potensinya masih sangat besar kalau dikelola dengan serius," katanya.

Baca juga: Puluhan LC Diamankan dari Warung Pangku Jabon Sidoarjo Ada yang Terindikasi Sifilis

Kondisi tersebut juga dirasakan para pelaku usaha di kawasan Dermaga Tlocor. Yuni, karyawan Lesehan Eka Putri, mengatakan menurunnya jumlah wisatawan berpengaruh terhadap pendapatan warung tempatnya bekerja.

"Memang sekarang kondisinya sepi. Kami juga tidak bisa memastikan jumlah pengunjung. Biasanya hanya mengandalkan akhir pekan dan hari libur nasional, itu pun belum tentu ramai, malah cenderung sepi," ujarnya.

Menurut Yuni, daya tarik utama kawasan Tlocor bukan hanya deretan warung makan, melainkan Pulau Lusi itu sendiri.

"Kalau Pulau Lusinya tidak terawat, bagaimana pengunjung mau datang ramai seperti dulu saat awal Pulau Lusi dibangun dan menjadi destinasi wisata yang banyak diminati," tuturnya.

Baca juga: Warung Pangku Jabon Sidoarjo Dirazia, Amankan 75 LC dan Ratusan Miras

Pulau Lusi menyimpan sejarah yang tidak dimiliki destinasi wisata lain di Indonesia. Pulau ini terbentuk dari endapan material lumpur yang dialirkan ke muara Sungai Porong sebagai bagian dari penanganan semburan lumpur Lapindo yang terjadi pada 2006. Proses pengurukan berlangsung pada 2008 hingga 2011 hingga membentuk daratan baru yang saat itu dikenal sebagai Pulau Sarinah.

Pada 2012 dilakukan penanaman mangrove sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan. Seiring perkembangannya, pulau tersebut kemudian diberi nama Pulau Lusi, singkatan dari Lumpur Sidoarjo, dan dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai tanah milik negara.

Keunikan sejarah itu menjadikan Pulau Lusi sebagai satu-satunya pulau di Kabupaten Sidoarjo. Potensinya pun tidak hanya sebagai destinasi wisata bahari, tetapi juga wisata edukasi dan konservasi lingkungan.

Kini, harapan masyarakat pesisir Jabon sederhana. Mereka ingin Pulau Lusi kembali mendapatkan perhatian melalui penataan kawasan, perbaikan fasilitas, dan pengembangan wahana wisata agar pengunjung kembali berdatangan. Sebab bagi mereka, Pulau Lusi bukan sekadar pulau hasil endapan lumpur, melainkan ruang hidup yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar.

Editor : Redaksi

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru