selalu.id - Warga Surabaya dan sekitarnya mulai merasakan udara lebih dingin dari biasanya pada malam hingga dini hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena yang dikenal sebagai bediding ini adalah kondisi normal saat musim kemarau, dengan suhu terendah bisa mencapai 18°C di wilayah tertentu.
Baca juga: Demi Upah Rp50-100 Ribu, Kurir Paket di Surabaya Rela Melawan Hukum
Berdasarkan pantauan BMKG, suhu udara di wilayah dataran rendah seperti Surabaya berkisar antara 18°C hingga 22°C pada malam hari.
Sementara di daerah dataran tinggi Jawa Timur, suhu dapat lebih dingin lagi, mencapai 15°C hingga 18°C atau lebih rendah tergantung kondisi cuaca setempat.
Penyebab utama penurunan suhu adalah angin muson timur yang membawa massa udara kering dan dingin dari Australia.
Baca juga: Tangani Banjir Margomulyo-Tandes, Pemkot Surabaya Siapkan Pembangunan Mini Bozem
Selain itu, minimnya tutupan awan saat musim kemarau membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari, sehingga suhu terasa jauh lebih sejuk dibanding musim hujan.
BMKG memperkirakan kondisi ini akan terus berlangsung seiring berjalannya musim kemarau, hingga mencapai puncaknya pada Agustus 2026.
Pada siang hari, suhu tetap terasa terik dengan kisaran 31°C hingga 34°C, menciptakan perbedaan suhu yang cukup tajam antara siang dan malam.
Baca juga: Polrestabes Surabaya Buka Bazar Gratis Pengembalian Motor Laka Lantas, Catat Tanggal dan Syaratnya
Meski wajar terjadi, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada.
“Gunakan pakaian lebih hangat saat beraktivitas malam hingga pagi hari, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan agar terhindar dari risiko gangguan kesehatan,” demikian imbauan resmi BMKG dalam akun resminya, Jumat (3/7/2026).
Editor : Zein Muhammad